“Anak usia 15 tahun di Indonesia menunjukkan tingkat keingintahuan yang termasuk salah satu yang tertinggi, suatu modal penting dalam perekonomian masa kini yang semakin digerakkan oleh inovasi. Mereka juga telah mengembangkan kemampuan untuk belajar secara mandiri. Hal ini penting karena orang-orang yang paling berhasil di masa depan bukan semata-mata mereka yang memiliki pengetahuan paling banyak, melainkan mereka yang mampu terus belajar sepanjang hayat,” jelasnya, dikutip dari Instagram Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (kemendikdasmen) @kemendikdasmen.
Hasil PISA 2025: Anak Indonesia Tekun Tapi Kurang Growth Mindset

PISA mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca, matematika, sains, serta penerapannya di kehidupan nyata dan menjadi acuan perbandingan pendidikan internasional.
Sebanyak 80 persen siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu tinggi, melampaui rata-rata OECD 73 persen, sementara 74 persen tetap berusaha saat menghadapi pelajaran sulit.
Sekitar 30 persen siswa Indonesia memiliki growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui belajar, usaha, dan pengalaman menghadapi tantangan.
Hasil PISA 2025 menunjukkan beberapa data menarik, tidak menggambarkan kondisi pendidikan secara menyeluruh tetapi data ini menjadi acuan soal kemampuan akademik siswa Indonesia secara internasional.
Apa yang dimaksud dengan PISA? PISA (Programme for International Student Assessment) adalah program penilaian pendidikan internasional yang mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains, serta menerapkan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam kehidupan nyata.
PISA bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam bidang matematika, membaca, dan sains, sekaligus melihat kualitas sistem pendidikan di berbagai negara.
Laporan PISA 2025 memiliki temuan yang cukup menarik. Siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu dan ketekunan yang relatif tinggi, tetapi belum banyak yang percaya bahwa kemampuan mereka bisa terus berkembang.
Kok bisa? Berikut Popmama.com rangkum tiga fakta pentingnya.
Table of Content
1. Sebanyak 80 persen siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu tinggi

Pexels/Ron Lach Berdasarkan hasil PISA 2025, sebanyak 80 persen siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Angka ini berada di atas rata-rata negara OECD yang mencapai 73 persen.
Rasa ingin tahu menjadi salah satu modal penting dalam proses belajar. Anak yang memiliki rasa ingin tahu cenderung terdorong untuk bertanya, mencari informasi, dan mengeksplorasi hal-hal baru ketika menemukan sesuatu yang belum dipahaminya.
Namun, rasa ingin tahu tetap perlu mendapat ruang. Lingkungan belajar di rumah maupun sekolah perlu memberi kesempatan kepada anak untuk bertanya dan menemukan jawaban, bukan hanya menerima informasi.
2. Sebanyak 74 persen siswa tetap berusaha saat menghadapi pelajaran sulit

Pexels/Federico Tomasoni Temuan positif lainnya adalah 74 persen siswa Indonesia mengaku tetap berusaha keras ketika menghadapi tantangan dalam materi pelajaran.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai ketekunan yang cukup kuat. Mereka tidak serta-merta berhenti ketika menemukan soal atau materi yang sulit.
Ketekunan ini dapat menjadi bekal penting dalam belajar. Meski demikian, anak tetap membutuhkan metode belajar dan pendampingan yang sesuai agar usaha yang dilakukan dapat membantu mereka memahami materi secara bertahap.
Mengenai skor rasa ingin tahun dan ketekunan anak Indonesia, Andreas Schleicher, Director for Education and Skills at the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sampai memuji hasil ini.
Menurutnya ini jadi bekal dan fondasi yang bagus untuk sebuah negara.
3. Hanya sekitar 3 dari 10 siswa memiliki growth mindset

Pexels/ROMAN ODINTSOV Di balik tingginya rasa ingin tahu dan ketekunan, PISA 2025 juga menemukan tantangan pada aspek growth mindset. Hanya sekitar 3 dari 10 siswa Indonesia atau sekitar 30 persen yang memiliki pola pikir tersebut.
Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan seseorang tidak bersifat tetap dan dapat dikembangkan melalui proses belajar, usaha, serta pengalaman menghadapi tantangan.
Artinya, seorang anak mungkin sudah mau berusaha ketika menghadapi pelajaran sulit, tetapi belum sepenuhnya percaya bahwa kemampuannya dapat meningkat. Padahal, keyakinan tersebut dapat memengaruhi cara anak memandang kesalahan dan kegagalan selama proses belajar.
Temuan sosial dan emosional ini merupakan satu bagian dari hasil PISA 2025. Masih ada data mengenai perkembangan skor sains, membaca, matematika, peringkat Indonesia, hingga capaian kompetensi minimum siswa.
Informasi selengkapnya dapat dibaca dalam artikel utama berikut ini: Hasil PISA 2025: Anak Indonesia Tekun tapi Tidak Yakin Bisa Berkembang





















