Film Resident Evil Kembali Raih Respons Positif, Bolehkah Ditonton Remaja?

Resident Evil versi 2026 mengikuti Bryan, kurir medis yang terjebak wabah di Raccoon City dan harus bertahan hidup menghadapi monster dengan sumber daya terbatas.
Film arahan Zach Cregger dijadwalkan tayang 18 September 2026, meraih sekitar 96% di Rotten Tomatoes, serta dipuji karena nuansa survival horror, aksi, dan humor gelap.
Meski mendapat respons positif, film berating R ini memuat kekerasan eksplisit, gore, mutilasi, body horror, bahasa, dan jump scare; orangtua perlu memeriksa klasifikasi usia serta kesiapan remaja.
Penggemar film horor kembali mendapat tontonan baru yang membawa nama besar Resident Evil ke layar lebar. Setelah cukup lama hadir dalam berbagai adaptasi, film yang terinspirasi dari game populer ini kembali dengan cerita dan pendekatan baru yang disutradarai oleh Zach Cregger.
Menjelang penayangannya di bioskop pada 18 September 2026, Resident Evil juga mendapat respons awal yang cukup positif dari sejumlah kritikus. Bahkan, skor kritiknya sempat berada di angka 96%.
Namun, di balik ulasan positif tersebut, ada satu hal yang mungkin membuat Mama perlu berpikir ulang sebelum mengajak anak yang sudah beranjak remaja. Sebenarnya, apakah film Resident Evil terbaru ini aman untuk ditonton oleh remaja?
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!
1. Resident Evil 2026 bawa cerita baru dengan Bryan sebagai tokoh utama

YouTube.com/Sony Pictures Entertainment Film Resident Evil terbaru tidak melanjutkan formula film-film sebelumnya begitu saja. Kali ini, penonton diperkenalkan dengan Bryan, seorang kurir medis yang diperankan oleh Austin Abrams.
Cerita bermula ketika Bryan mendapat tugas pengantaran terakhir menuju Raccoon City. Ia sebenarnya ingin segera pulang menemui kekasihnya.
Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika Bryan mengalami kecelakaan dan tanpa sengaja berhadapan dengan seseorang yang ternyata telah terinfeksi virus.
Dari sana, Bryan harus berusaha bertahan hidup di tengah wabah yang membuat lingkungan sekitarnya dipenuhi makhluk berbahaya. Ia bukan karakter yang sejak awal digambarkan sebagai sosok jago bertarung.
Justru, Bryan terlihat seperti orang biasa yang tiba-tiba harus menghadapi situasi di luar kemampuannya.
Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih dekat dengan konsep survival horror dalam game. Bryan harus terus bergerak, mencari jalan keluar, menghadapi monster, sekaligus menggunakan sumber daya yang terbatas untuk bertahan hidup.
2. Resident Evil 2026 dapat respons positif dari kritikus

YouTube.com/Sony Pictures Entertainment Sebelum resmi tayang di bioskop, Resident Evil sudah mendapat perhatian dari sejumlah kritikus film. Rotten Tomatoes mencatat skor kritik yang sangat tinggi untuk film ini, bahkan mencapai sekitar 96–97% dari puluhan ulasan ketika berbagai review awal mulai masuk.
Respons tersebut membuat film arahan Zach Cregger ini tercatat sebagai film Resident Evil dengan skor kritik tertinggi sejauh ini. Film tersebut juga disebut menjadi film adaptasi video game dengan skor Rotten Tomatoes tertinggi pada saat itu.
Sejumlah ulasan memuji cara Cregger menggabungkan horor, aksi, ketegangan, dan humor gelap. TheWrap menilai film ini berhasil menangkap sensasi memainkan game Resident Evil, terutama melalui suasana penuh ancaman, teka-teki, sumber daya terbatas, dan kemunculan monster yang tidak terduga.
Penampilan Austin Abrams membuat perjalanan Bryan terasa lebih relatable. Film ini disebut mampu menjaga keseimbangan antara adegan menegangkan, visual gore, jump scare, dan humor gelap.
3. Bukan sekadar film zombie, ada gore dan body horror

YouTube.com/Sony Pictures Entertainment Mama mungkin membayangkan Resident Evil sebagai film tentang zombie yang mengejar manusia. Namun, versi 2026 ternyata menawarkan lebih dari itu.
Film ini menggunakan berbagai elemen survival horror, termasuk monster, wabah, lingkungan gelap, jump scare, serta adegan kekerasan yang cukup eksplisit. Sejumlah kritikus bahkan menyoroti adanya adegan gore, tubuh yang mengalami mutilasi, hingga body horror yang menjadi bagian dari pengalaman menonton.
Durasi film juga relatif singkat, sekitar 90–95 menit, tetapi cerita bergerak dengan cepat. Penonton diajak mengikuti Bryan dari satu situasi berbahaya ke situasi lainnya tanpa terlalu banyak jeda.
Meski begitu, beberapa kritikus menilai film mulai kehilangan momentum menjelang bagian akhir. Ada pula ulasan yang menganggap penyelesaian ceritanya terasa mendadak atau kurang memuaskan dibandingkan dengan bagian awal.
4. Resident Evil 2026 jadi film video game dengan skor tertinggi

YouTube.com/Sony Pictures Entertainment Respons positif terhadap Resident Evil 2026 membuat film ini langsung mencuri perhatian. Berdasarkan data Rotten Tomatoes yang dilaporkan pada 16 September 2026, film tersebut berada di angka sekitar 96% dari lebih dari 80 ulasan dan menjadi film adaptasi video game dengan skor tertinggi.
Pencapaian ini cukup menarik karena Resident Evil sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar. Versi terbaru justru mendapatkan pujian karena dianggap lebih mampu menangkap nuansa survival horror yang menjadi ciri khas game-nya.
Namun, skor kritik yang tinggi sebaiknya tidak langsung dijadikan patokan bahwa film ini cocok untuk semua anggota keluarga. Penilaian kritikus terutama berbicara mengenai kualitas film sebagai karya hiburan, sementara orangtua juga perlu mempertimbangkan isi dan klasifikasi usianya.
5. Jadi, bolehkah remaja menonton Resident Evil 2026?

YouTube.com/Sony Pictures Entertainment Nah, ini bagian yang perlu menjadi perhatian Mama dan Papa. Resident Evil 2026 mendapatkan rating R di Amerika Serikat karena mengandung kekerasan, gore, dan bahasa. Film ini mendapat rating R serta menggambarkan adanya visual berdarah dan adegan horor yang intens.
Dengan kandungan tersebut, film ini bukan tontonan yang dapat dianggap aman untuk semua remaja. Terlebih, setiap anak memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda ketika melihat adegan kekerasan, monster, darah, atau situasi yang menegangkan.
Mama juga sebaiknya tidak hanya melihat ketertarikan anak terhadap game Resident Evil. Versi film dapat memberikan pengalaman yang berbeda karena adegan gore, jump scare, dan suasana horornya ditampilkan secara langsung di layar lebar.
Jika remaja ingin menonton film ini, Mama bisa terlebih dahulu mengecek klasifikasi usia yang berlaku di bioskop Indonesia dan melihat apakah isi film sesuai dengan kematangan anak.
Pertimbangkan pula apakah anak mudah merasa takut atau terganggu setelah menyaksikan adegan horor.
Itulah informasi mengenai Resident Evil 2026 yang kembali membawa kisah horor dan survival ke layar lebar. Film ini memang mendapat respons positif dari banyak kritikus dan bahkan mencatat skor tinggi untuk kategori film adaptasi video game.





-E2AZphLazj0fAPI778bTekXu25BuLgtw.jpg)














