Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tren "Sephora Kids" Bukan Lagi Obsesi Skincare, Anak Kini Demam Parfum Viral
Magnific/drobotdean
  • Tren "Perfume Kids" membuat anak SD hingga remaja memburu parfum viral lewat media sosial; harga terjangkau, marketplace, dan ulasan kreator mempercepat penyebarannya.
  • Bagi Gen Alpha, parfum menjadi simbol identitas, kepercayaan diri, dan penerimaan sosial, termasuk pada anak laki-laki melalui kaitan dengan gaming serta esports.
  • Orangtua perlu mendampingi pilihan parfum karena risiko alkohol, ftalat, label komposisi tak rinci, dan produk palsu; pembelian resmi serta penggunaan terbatas disarankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sekarang ini marak anak-anak yang ter-influence media sosial untuk membeli parfum viral.

Kebanyakan anak-anak yang didominasi Gen Alpha ini rela mengantre berjam-jam di mal atau memborong parfum di marketplace hanya karena melihat ulasan dari kreator favorit mereka.

Parfum yang tadinya produk orang dewasa, kini jadi incaran anak-anak usia SD hingga remaja. Fenomena ini adalah versi lokal dari tren global "Sephora Kids".

Bedanya, kalau di luar negeri anak-anak terobsesi dengan skincare dan riasan mahal, di Indonesia justru parfum yang menjadi primadona.

Nilai industri parfum lokal bahkan melonjak 52% dalam setahun, mencapai Rp6,1 triliun. Parfum kini bukan sekadar wewangian, tapi simbol identitas dan gengsi di kalangan anak-anak.

Tapi, di balik popularitasnya, ada kekhawatiran besar yang perlu Mama ketahui. Mulai dari paparan bahan kimia pada kulit anak yang masih sensitif, hingga sulitnya mengetahui komposisi produk karena aturan label yang longgar.

Yuk, kita bahas lebih dalam agar Mama bisa lebih waspada dan bijak mendampingi anak. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel Popmama.com berikut ini.

1. Tren Sephora Kids Indonesia yang bergeser ke parfum viral

Magnific/prostooleh

Istilah "Sephora Kids" muncul untuk menggambarkan anak-anak usia dini yang gemar membeli produk skincare dan kosmetik dewasa di toko kecantikan.

Namun, survei terbaru di Amerika menunjukkan fakta bahwa sebanyak 71% anak usia 7-17 tahun lebih meminta parfum mahal sebagai hadiah dibanding skincare atau makeup, Ma.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini beradaptasi dengan budaya lokal. Alih-alih serum atau skincare lain, anak-anak kita justru tertarik dengan wewangian yang viral di TikTok.

Mereka menyebut tren ini "Perfume Kids" dan penyebarannya sangat cepat karena tiga hal, yaitu harga yang terjangkau mulai dari Rp 100 ribuan, distribusi luas di platform online, dan konten kreator kesukaan mereka yang terus-menerus mengulas parfum di media sosial.

2. Alasan parfum begitu menarik perhatian Gen Alpha

Magnific/freepic.diller

Dalam data terbaru, ditemukan alasan mengapa anak Gen Alpha lebih tertarik dengan wewangian viral dibandingkan skincare.

Hal ini karena parfum menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar aroma harum. Bagi mereka, memakai parfum tertentu adalah cara untuk menunjukkan kepribadian, meningkatkan rasa percaya diri, dan diterima dalam kelompok pertemanan.

Di media sosial yang mereka lihat, parfum selalu dikaitkan dengan kata-kata seperti "aura", "rizz", atau "vibe", yang mana semuanya adalah bahasa yang erat dengan citra dewasa dan menarik.

Lebih menariknya, fenomena tren parfum viral di kalangan Gen Alpha ini justru tak hanya pada perempuan saja, Ma, tapi juga menjangkau anak laki-laki melalui kolaborasi dengan dunia gaming dan esports.

Nama-nama varian yang keren dan kemasan maskulin membuat parfum terasa relevan bagi mereka. Inilah yang membuat tren "Perfume Kids" lebih luas jangkauannya dibanding tren lainnya.

3. Peran besar media sosial yang jarang diketahui orangtua

Magnific

Lebih lanjut, ternyata ada dua kekuatan utama yang mendorong tren parfum dikalangan anak-anak, Ma.

Pertama, algoritma TikTok yang meratakan semua usia. Konten ulasan parfum dari kreator dewasa bisa muncul di layar anak SD karena algoritma bekerja berdasarkan keterlibatan, bukan usia penonton.

Misalnya, anak di Yogyakarta dan Jakarta mengonsumsi konten yang sama persis, karena algoritma konten TikTok yang sama rata.

Kedua, kebiasaan orangtua. Ya, ternyata kebiasaan kita juga jadi alasan yang mendorong tren ini semakin kuat pada anak, Ma.

Menurut sudut pandang ilmu saraf, aroma adalah satu-satunya indra yang terhubung langsung ke pusat emosi dan memori otak.

Ketika orangtua menyemprotkan parfum pada anak sebelum acara spesial, tanpa sadar orangtua menanamkan hubungan pada anak bahwa penggunaan parfum sama dengan momen penting.

Nah maka dari itu, ketika tren parfum muncul di layar ponsel mereka, itu bukan hal asing lagi, tapi justru itu memicu kenangan yang sudah tertanam bertahun-tahun.

4. Kandungan parfum yang perlu orangtua waspadai

Magnific

Di balik aroma harum yang memikat perhatian anak, tentunya ada bahan-bahan yang perlu kita waspadai, Ma, terutama untuk kulit anak yang masih sensitif.

Ada kandungan alkohol yang merupakan pelarut utama di hampir semua parfum semprot. Kulit anak lebih tipis dan lebih mudah kehilangan kelembapan dibanding kulit dewasa.

Paparan alkohol rutin bisa memicu iritasi, kemerahan, dan kulit kering, terutama di area leher dan wajah. Jadi, perhatikan kadar alkohol dalam parfum yang akan dibeli, Ma.

Selain alkohol, ada ftalat sebagai pengikat aroma agar wewangian lebih tahan lama. Ini termasuk pengganggu endokrin yang bisa mengganggu sistem hormon.

Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa paparan ftalat pada anak-anak berkaitan dengan perubahan hormon perkembangan dan bahkan memengaruhi volume otak pada anak di bawah tujuh tahun.

Yang lebih mengkhawatirkan, efeknya lebih kuat pada anak laki-laki, sangat relevan karena tren parfum juga menyasar mereka lewat budaya gaming yang marak disukai anak laki-laki.

5. Alasan orangtua sulit mengetahui isi parfum anak

Magnific/KamranAydinov

Nah, salah satu masalah terbesar dari tren parfum viral di kalangan anak adalah adanya aturan pelabelan tidak mewajibkan produsen mencantumkan seluruh bahan wewangian secara rinci.

Di botol parfum, kita hanya akan melihat satu kata "Parfum" atau "Fragrance" yang mana di balik kata itu bisa ada puluhan senyawa kimia di dalamnya, Ma.

Ftalat tidak termasuk dalam daftar alergen yang wajib dicantumkan, sehingga keberadaannya bisa disembunyikan di balik kata "Fragrance".

Tapi di sisi lain, produk yang benar-benar bebas ftalat juga tidak punya cara standar untuk memberi tahu konsumen. Jadi, Mama tidak bisa sepenuhnya mengandalkan label untuk memastikan keamanan produk.

Belum lagi soal produk palsu yang beredar luas di marketplace dengan harga murah, yang langsung mencuri perhatian anak.

Produk ini paling mudah dijangkau oleh anak-anak yang tidak tahu bedanya asli atau palsu. Komposisinya sama sekali tidak bisa dipastikan dan risikonya justru jauh lebih besar, Ma.

6. Dilema orangtua: mendukung atau melarang?

Magnific

Setiap orangtua pasti punya pandangan berbeda, dan itu wajar terjadi kok, Ma.

Ada yang melihat minat anak pada parfum sebagai bentuk ekspresi diri yang sah, asal ada pendampingan aktif. Beberapa kreator muda yang didampingi orangtuanya justru menjadi contoh bahwa minat ini bisa dikelola dengan sehat.

Namun, ada juga orangtua yang merasa khawatir dan keberatan. Banyak yang mengaku menghadapi dilema nyata, antara nilai yang ingin ditanamkan dan tekanan sosial yang dirasakan anak setiap hari.

Ketika teman-teman sekelas mereka memakai parfum tertentu, anak bisa saja merasa tertinggal jika tidak ikut-ikutan. Inilah yang kerap disebut anak merasa FOMO, atau takut akan ketinggalan sesuatu.

Meski begitu, kedua pandangan ini sama-sama valid ya, Ma. Yang terpenting, orangtua tidak sendiri menghadapi ini.

Pastikan Mama melakukan diskusi tanpa menghakimi, sebagai langkah awal yang baik sebelum memberikan parfum pada anak.

7. Ini yang bisa orangtua lakukan menghadapi tren parfum viral pada anak

Magnific

Menghadapi tren ini, ada beberapa langkah bijak yang bisa orangtua ambil.

Pertama, orangtua bisa jadi pendamping aktif bagi anak. Tanyakan pada mereka, parfum apa yang disuka dan kenapa.

Ajak anak mencari tahu bahan-bahannya bersama. Jika sudah bulat membeli parfum, pastikan beli dari toko resmi atau marketplace terpercaya untuk menghindari produk palsu, Ma.

Kedua, edukasi tentang isi label di balik parfum yang mereka minati. Ajari anak bahwa kata "Fragrance" bisa menyembunyikan banyak bahan.

Nggak usah sampai membuat anak takut, Ma, cukup beri kesadaran pada anak bahwa nggak semua yang harum pasti aman.

Ketiga, batasi paparan penggunaannya. Ajak anak bijak menggunakan parfum secukupnya, jangan disemprotkan langsung ke kulit sensitif seperti wajah atau leher. Semprotkan pada pakaian agar kontak dengan kulit lebih minimal.

Keempat, jangan ragu bertanya pada profesional. Jika orangtua khawatir dengan reaksi kulit atau kandungan tertentu, nggak ada salahnya kok untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak atau dokter kulit.

Fenomena Gen Alpha demam parfum adalah cerminan bagaimana media sosial dan budaya konsumsi berubah begitu cepat, bahkan menyentuh anak-anak kita.

Sebagai orangtua, kita nggak harus melarang atau membiarkan begitu saja, Ma, yang terpenting adalah terus mendampingi, mengedukasi, dan menjadi filter utama bagi anak di era digital ini.

Dengan kesadaran dan pendampingan yang tepat, orangtua bisa membantu anak menikmati tren ini dengan aman dan bijak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article