Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Viral! Pola Parenting Ini Disebut Bisa Menumbuhkan Bibit Korupsi Anak
Pexels/https://kaboompics.com/
  • Unggahan @_ajengria mengaitkan pola pengasuhan yang terlalu berfokus pada pencapaian dengan pembentukan sikap terhadap kejujuran dan kecurangan sejak kecil.

  • Nilai integritas dapat diperkenalkan melalui kebiasaan sehari-hari, termasuk tidak mengambil hak orang lain, tidak curang, dan menghargai proses.

  • Sejumlah penelitian menunjukkan perilaku orangtua berperan dalam kejujuran anak, tetapi pola asuh bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku ketika dewasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2017

Frontiers in Psychology menerbitkan penelitian tentang hubungan pengalaman “parenting by lying” pada masa kecil dengan ketidakjujuran terhadap orangtua ketika dewasa.

2024

Studi dalam Journal of Experimental Child Psychology meneliti 564 pasangan orangtua-anak di Singapura dan menemukan hubungan antara kebohongan instrumental orangtua dengan kebohongan anak kepada orangtuanya.

2026

Penelitian Bélanger, Crossman, dan Talwar melibatkan 127 anak berusia 5-12 tahun untuk melihat penilaian anak terhadap pesan dan contoh perilaku orangtua tentang kejujuran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Unggahan tentang pola pengasuhan dan pembentukan nilai kejujuran, integritas, serta sikap terhadap kecurangan sejak kecil.
  • Who?
    Akun Instagram @_ajengria, orangtua, anak, serta peneliti Bélanger, Crossman, Talwar, Low, Kyeong, dan Setoh.
  • Where?
    Unggahan dibahas di Instagram, sementara salah satu studi meneliti pasangan orangtua-anak di Singapura.
  • When?
    Penelitian yang disebut diterbitkan pada 2026, 2024, dan 2017.
  • Why?
    Unggahan menyoroti pentingnya mengajarkan kejujuran dan integritas, bukan hanya kesuksesan, kepada anak.
  • How?
    Nilai dipelajari melalui perkataan dan tindakan sehari-hari orangtua, termasuk contoh perilaku yang konsisten.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Unggahan @_ajengria membahas cara orangtua mengajari anak tentang sukses dan jujur. Anak bisa melihat perbuatan orangtuanya, bukan hanya mendengar nasihat. Penelitian juga menemukan hubungan antara kebohongan orangtua dan kebohongan anak. Tetapi, pola asuh bukan satu-satunya hal yang menentukan perilaku anak saat dewasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pembahasan ini menempatkan pendidikan kejujuran sebagai bagian dari keseharian di rumah. Orangtua tidak hanya didorong mengajarkan anak untuk berprestasi, tetapi juga mencontohkan empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap proses. Temuan penelitian yang disebut turut memperjelas pentingnya kesesuaian antara nasihat dan perilaku dalam perkembangan moral anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebuah unggahan akun Instagram @_ajengria ramai dibicarakan setelah mengaitkan pola pengasuhan dengan pembentukan sikap koruptif sejak kecil. Unggahan tersebut menyoroti bagaimana orangtua terkadang lebih fokus mengajarkan anak untuk sukses, unggul, dan memiliki banyak pencapaian, tetapi kurang menekankan kejujuran serta integritas.

Menurut unggahan tersebut, pendidikan antikorupsi tidak hanya dimulai ketika anak dewasa. Nilai seperti tidak mengambil hak orang lain, tidak curang, menghargai proses, dan menggunakan kekuasaan untuk membantu orang lain justru bisa diperkenalkan sejak dini melalui keseharian di rumah.

Menariknya, sejumlah penelitian memang menunjukkan bahwa perilaku dan contoh yang diberikan orangtua dapat berperan dalam perkembangan moral serta kejujuran anak. Namun, pola asuh tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku seseorang ketika dewasa.

Berikut Popmama.com rangkum isi unggahan tersebut beserta penjelasan dari sejumlah penelitian.

1. Orangtua dinilai terlalu fokus membuat anak menjadi ‘orang hebat’

Magnific/bearfotos

Unggahan @_ajengria dibuka dengan kritik bahwa banyak orangtua ingin anaknya tumbuh menjadi orang hebat, tetapi terkadang lupa mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik.

“Kita ingin anak-anak menjadi orang hebat, tetapi lupa mengajarkan mereka bagaimana menjadi manusia yang baik. Kita mengajarkan mereka cara memenangkan persaingan, tetapi tidak selalu mengajarkan mereka cara bersikap ketika harus memilih antara menang dengan curang atau kalah dengan jujur.”

Unggahan tersebut ingin menekankan bahwa pencapaian akademis, pekerjaan bergengsi, maupun kemenangan dalam persaingan tidak seharusnya dipisahkan dari pembentukan karakter. Menurut sudut pandang ini, anak juga perlu memahami bahwa cara mencapai sesuatu sama pentingnya dengan hasil yang diperoleh.

2. Jalan pintas yang dibenarkan orangtua dinilai bisa menormalisasi kecurangan

Pexels/Ron Lach

Unggahan tersebut kemudian memberi sejumlah contoh perilaku orangtua yang dianggap bertentangan dengan nilai integritas. Mulai dari membayar agar anak memperoleh kursi sekolah, mencari jalan pintas agar anak mendapat pekerjaan, hingga membenarkan penggunaan joki skripsi demi gelar.

“Orangtua rela membeli bangku sekolah negeri demi memastikan anaknya diterima, meskipun harus mengambil hak orang lain.”

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa anak dapat menerima pesan yang bertentangan ketika orangtua meminta mereka menjadi jujur, tetapi pada saat yang sama membenarkan kecurangan ketika dianggap menguntungkan keluarga. Karena itu, unggahan tersebut mendorong orangtua untuk tidak hanya mengajarkan nilai lewat perkataan, tetapi juga melalui tindakan sehari-hari.

3. Parenting sebaiknya tidak hanya mengajarkan anak ‘to have’

Pexels/Julia M Cameron

Bagian lain dari unggahan tersebut membandingkan konsep "to have" dan "to be". To have digambarkan sebagai orientasi pada apa yang dimiliki seseorang, seperti rumah, kendaraan, uang, jabatan, dan berbagai pencapaian.

Sementara to be lebih berkaitan dengan pribadi seperti apa yang ingin dibentuk.

“Sementara to be adalah tentang menjadi. Menjadi manusia yang baik. Menjadi orang yang punya empati. Menjadi seseorang yang keberadaannya membawa manfaat bagi orang lain.”

Karena itu, unggahan tersebut tidak meminta orangtua berhenti mendorong anak untuk berprestasi. Pesannya lebih kepada menjaga keseimbangan antara mengejar pencapaian dengan membentuk empati, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.

4. Riset menunjukkan tindakan orangtua bisa lebih berpengaruh daripada nasihatnya

Pexels/Annushka Ahuja

Gagasan bahwa anak belajar nilai moral dari perilaku orangtua mendapat dukungan dari penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Child Psychology pada 2026. Penelitian Bélanger, Crossman, dan Talwar melibatkan 127 anak berusia 5-12 tahun dan melihat bagaimana mereka menilai pesan orangtua tentang kejujuran ketika perkataan dan tindakan orangtua tidak konsisten.

Hasilnya menunjukkan bahwa contoh perilaku orangtua lebih menonjol bagi anak dibanding sekadar pesan verbal mengenai kejujuran. Ketika orangtua mengatakan bahwa berbohong itu salah tetapi justru menunjukkan perilaku tidak jujur, anak lebih memperhatikan tindakan tersebut. Temuan ini mendukung pentingnya konsistensi antara nilai yang diajarkan orangtua dan perilaku yang diperlihatkan sehari-hari.

5. Kebiasaan berbohong dalam pengasuhan juga berkaitan dengan kejujuran anak

Pexels/Annushka Ahuja

Studi lain dalam Journal of Experimental Child Psychology pada 2024 meneliti 564 pasangan orangtua-anak di Singapura. Peneliti menemukan bahwa anak yang melaporkan lebih sering terpapar kebohongan instrumental dari orangtua juga cenderung lebih banyak berbohong kepada orangtuanya.

Penelitian sebelumnya yang diterbitkan di Frontiers in Psychology juga menemukan hubungan antara pengalaman “parenting by lying” di masa kecil dengan peningkatan ketidakjujuran terhadap orangtua ketika dewasa. Namun, penelitian tersebut bersifat asosiasi sehingga tidak membuktikan bahwa kebohongan orangtua secara langsung menyebabkan seseorang menjadi tidak jujur atau melakukan korupsi.

Jadi, istilah “bibit korupsi” dalam unggahan tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai bagaimana nilai kejujuran, integritas, dan sikap terhadap kecurangan mulai dipelajari sejak kecil.

Korupsi sendiri merupakan perilaku yang jauh lebih kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, bukan pola asuh semata.

Sumber:

  • Bélanger, Crossman & Talwar (2026), “Practice what you preach? Children’s evaluations of parents’ verbal messages and social modeling of honesty and lie-telling” — Journal of Experimental Child Psychology.

  • Low, Kyeong & Setoh (2024), “Parenting by lying and children’s lying to parents: The moderating role of children’s beliefs” — Journal of Experimental Child Psychology.

  • “Exposure to Parenting by Lying in Childhood: Associations with Negative Outcomes in Adulthood” — Frontiers in Psychology (2017).

Curated For You

Editorial Team

Related Article