5 Masalah Kesehatan yang Membuat Anak Harus Segera Menjalani Tes Medis

Ada kondisi kesehatan tertentu yang membuat anak mama harus segera menjalani pemeriksaan kesehatan

28 November 2020

5 Masalah Kesehatan Membuat Anak Harus Segera Menjalani Tes Medis
pixabay/Darko Stojanovic

Setiap orangtua mengharapkan anaknya bertumbuhkembang secara sehat dan normal, jiwa maupun raganya. Untuk itulah, gejala sakit sekecil apapun perlu mendapatkan perhatian karena bisa fatal akibatnya jika ternyata berbahaya dan terlambat ditangani. 

Sebagian besar penyakit perlu dites lewat serangkaian prosedur laboratorium. Dokter anak biasanya akan memberikan rujukan untuk tes laboratorium sebelum mengarahkan ke dokter spesialis.

Terkadang, tes-tes yang perlu dilakukan ini membuat orangtua bingung dan ragu, "Bagaimana prosedurnya? Apakah risiko dan efek sampingnya?"

Berikut Popmama.com merangkum beberapa tes kesehatan yang harus dilakukan pada anak, berdasarkan kondisi medis yang melatarbelakanginya, dilansir dari parents.com:

1. CT scan setelah kepala terbentur

1. CT scan setelah kepala terbentur
cloudfront.net

Sebagian besar anak yang dilarikan ke IGD karena benturan pada kepala, menjalani CT scan. CT scan memerlukan beberapa kali proses rontgen untuk menciptakan gambaran kondisi otak lewat pemindaian 3 dimensi yang tepat. 

CT scan perlu dilakukan jika anak tampak mengantuk atau rewel dan gelisah, muntah-muntah, mengeluh sakit kepala, pening, kehilangan pandangan atau pendengaran, dan kehilangan keseimbangan.

Bisa jadi anak mengalami cedera kepala yang serius dan membutuhkan bantuan CT scan untuk melihat kondisi kepala dan otak secara komprehensif. 

Meski prosesnya tidak menimbulkan rasa sakit, proses CT scan melibatkan radiasi ion yang membawa sedikit risiko meningkatkan kanker pada anak, terutama anak perempuan dan anak-anak di bawah usia 5 tahun. 

Editors' Picks

2. Tes alergi jika anak mengalami alergi parah

2. Tes alergi jika anak mengalami alergi parah
momjunction.com

Saat anak menunjukkan reaksi alergi, orangtua biasanya ingin anak menjalani tes alergi untuk berjaga-jaga akan kemungkinan terburuk. Namun, alih-alih hanya bergantung pada tes alergi, dokter biasanya juga akan menanyakan riwayat alergi keluarga yang terperinci. 

Jika anak Mama menderita pilek setelah beraktivitas di luar ruangan, tapi bisa makan kacang-kacangan dan memelihara kucing tanpa masalah, bisa jadi tes alergi menunjukkan indikasi ia mengalami alergi paparan luar (seperti serbuk sari).

Namun, jika anak muntah-muntah setelah dua kali berturut-turut makan makanan tertentu, ia wajib menjalani tes alergi yang lebih komprehensif.

Hal yang sama juga berlaku jika tubuh anak bereaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu atau terpapar senyawa tertentu, seperti kesulitan bernapas, lidah bengkak, atau gatal-gatal di seluruh tubuh.

Baca juga:

3. CT scan untuk kondisi perut yang janggal

3. CT scan kondisi perut janggal
parenting.firstcry.com

CT scan untuk perut perlu dilakukan setelah anak menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh dan ditemukan kejanggalan pada daerah perutnya.

Mulai keluhan sakit, perut yang lunak, bentuk yang tidak simetris hingga perut yang kencang. Semua ini merupakan tanda-tanda adanya masalah gastrointestinal, termasuk konstipasi. 

4. Pemindaian otak untuk kejang akibat demam tinggi

4. Pemindaian otak kejang akibat demam tinggi
Freepik

Lonjakan suhu tubuh dapat memicu kejang berlangsung beberapa detik hingga 15 menit atau lebih lama. Kondisi ini biasa dialami anak usia 6 bulan hingga 6 tahun.

Kejang akibat demam tinggi disebut kejang demam sederhana dan kecil risiko epilepsi dan tidak menimbulkan konsekuensi neurologis.

Tetapi, sebagai orangtua yang melihat kondisi anak kejang-kejang, bisa dipahami bahwa ini adalah kondisi yang menyeramkan. 

Pertimbangkan melakukan scan jika kejang disertai dengan muntah, masalah pernapasan, leher kaku, atau jika dokter memperhatikan satu atau lebih kelainan struktural tengkorak.

Begitu pula jika dokter menemukan tanda-tanda trauma pada kepala atau tekanan intrakranial.

Ini semua adalah petunjuk bahwa anak mungkin tidak mengalami kejang karena demam tinggi, melainkan ada hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut dan bisa ditemukan masalahnya lewat pemindaian. 

5. Tes kolesterol untuk anak obesitas

5. Tes kolesterol anak obesitas
Freepik

Untuk anak yang mengalami obesitas, dokter biasanya akan menyarankan menjalani tes kolesterol untuk melihat level LDL dalam darah. Tes ini biasanya dilakukan pada anak usia 9-11 tahun, atau yang lebih muda. 

Bagi anak dengan riwayat keluarga mengidap hiperkolesterolemia dan terindikasi mengidap kolesterol tinggi akibat nutrisi buruk dan kurang olahraga, tes ini perlu dilakukan.

Tes kolesterol tergolong tidak memakan banyak biaya dan prosesnya bisa dilakukan sebentar saja, tanpa efek samping apapun.

Itu dia lima jenis tes yang biasanya dilakukan pada anak-anak sesuai dengan kondisi kesehatannya.

Jika Mama menghadapi kondisi anak harus menjalani tes kesehatan, jangan ragu bertanya pada dokter atau petugas laboratorium tentang prosedur hingga efek samping yang mungkin saja terjadi setelah tes dilakukan. 

Semoga informasi ini mencerahkan wawasan Mama.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.