Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
10 Fakta Kurang Gizi dan Anemia Memengaruhi Working Memory Anak
Pexels/kaboompics
  • Studi IHDC menegaskan bahwa status gizi, terutama asupan protein dan zat besi, berpengaruh besar terhadap kemampuan kognitif dan working memory anak usia sekolah.
  • Hasil penelitian menunjukkan 19,7% anak mengalami anemia dan 22,1% kesulitan working memory; kekurangan zat besi meningkatkan risiko gangguan fungsi otak hampir dua kali lipat.
  • Pakar menekankan pentingnya pola makan seimbang serta peran orang tua dalam memastikan gizi anak terpenuhi agar fokus, daya ingat, dan performa akademik tetap optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kemampuan anak dalam fokus, memahami pelajaran, hingga menyelesaikan tugas ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan belajar, tetapi juga oleh asupan gizi sehari-hari. Hal ini disampaikan dalam pemaparan studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) yang digelar pada Rabu, 15 April 2026 di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat.

Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K) menyampaikan bahwa status gizi dan kemampuan kognitif anak merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari temuan di lapangan, di mana banyak anak sekolah yang ternyata memiliki masalah gizi yang berdampak pada kemampuan belajar mereka, khususnya working memory.

Di sisi lain, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) menambahkan bahwa nutrisi seperti protein dan zat besi berperan besar dalam perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga performa akademik anak.

Berikut Popmama.com rangkum 10 fakta penting yang perlu Mama ketahui!

1. Working memory berperan penting dalam proses belajar anak

Pexels/Quang Nguyen Vinh

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menjelaskan bahwa working memory adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan memproses informasi secara sementara.

“Working memory itu adalah salah satu modal utama anak untuk bisa punya prestasi akademik yang baik,” jelas dr. Ray.

Fungsi ini sangat dibutuhkan saat anak:

  • memahami instruksi

  • mengerjakan soal

  • mengikuti pelajaran di kelas

Jika working memory terganggu, anak bisa kesulitan menangkap informasi dengan baik.

2. Anak dengan anemia lebih berisiko mengalami gangguan working memory

Pexels/Vika Glitter

Hasil studi yang dilakukan IHDC menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak (19,7%) mengalami anemia, sementara 22,1% mengalami kesulitan dalam working memory.

dr. Ray menambahkan, anak dengan anemia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan fungsi kognitif.

“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lipat mengalami kesulitan dalam working memory,” ujarnya.

Hal ini terjadi karena kekurangan zat besi dapat mengganggu fungsi otak dalam memproses informasi dan biasanya anak akan sulit untuk diajak berbicara dua arah.

3. Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan

pexels/Mikhail Nilov

Biasanya, para orangtua hanya familiar dengan salah satu permasalahan stunting, yaitu tinggi badan yang kurang optimal. Pada nyatanya stunting juga berpengaruh pada perkembangan kognitif anak. Artinya, stunting tidak hanya membuat anak lebih pendek, tetapi juga bisa memengaruhi cara anak berpikir dan belajar.

4. Kombinasi stunting dan anemia bisa memperburuk kondisi anak

pexels/cottonbro studio

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi juga menyampaikan bahwa jika anak mengalami stunting sekaligus anemia, dampaknya bisa lebih serius karena keduanya sama-sama mengganggu fungsi kognitif dan kemampuan belajar.

5. Kekurangan zat besi bisa membuat anak sulit fokus

pexels/BOOM 💥 Photography

Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) menjelaskan bahwa zat besi berperan penting dalam mendukung fungsi otak.

“Dampak defisiensi besi pada anak bisa menyebabkan penurunan kognitif, perkembangan motorik, dan kemampuan belajar,” jelas dr. Luciana. Kondisi ini membuat anak lebih sulit fokus, mudah lelah, dan kurang optimal dalam menyerap informasi.

Tidak hanya itu Ma, dr. Ray juga menambahkan anemia bisa memengaruhi kesehatan mental anak. Maka dari itu, anak yang kekurangan zat besi cenderung lebih mudah cemas, lelah, dan kurang bersemangat, yang akhirnya memengaruhi performa akademik mereka.

6. Asupan protein anak masih banyak yang belum optimal

Pinterest.com/Prajwalbiradar945

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi mengungkapkan bahwa masih banyak anak yang belum mendapatkan asupan protein yang cukup.

“Asupan protein anak dengan anemia dalam studi kami hanya sekitar setengah dari kebutuhan yang direkomendasikan,” ungkapnya.

Padahal, protein sangat penting untuk perkembangan otak dan pembentukan jaringan tubuh anak.

7. Gizi yang tidak seimbang memengaruhi performa akademik

pexels/RDNE Stock project

Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K) menekankan pentingnya gizi dalam menunjang kemampuan belajar anak.

“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul,” ungkap Prof. Nila.

Kurangnya asupan nutrisi dapat membuat anak kesulitan memahami pelajaran dan tidak optimal di sekolah.

8. Working memory memengaruhi kemampuan anak menyelesaikan tugas

pexels/RDNE Stock project

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi menjelaskan bahwa working memory menjadi salah satu modal utama anak dalam belajar.

“Working memory itu adalah parameter penting untuk menentukan performa akademik anak,” jelasnya.

Anak dengan working memory yang baik cenderung lebih mudah mengikuti instruksi, mengingat informasi, dan menyelesaikan tugas dengan mandiri.

9. Pola makan sehari-hari berperan besar pada fungsi otak

pexels/ROMAN ODINTSOV

Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya pola makan yang seimbang dan bervariasi. Gizi yang terpenuhi secara optimal pastinya sangat penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah.

“Anak perlu mendapatkan asupan gizi yang beragam agar kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembangnya terpenuhi,” jelas dr. Luciana.

Asupan seperti protein, zat besi sangatlah berperan penting untuk mendukung fungsi otak anak secara optimal tentunya juga dengan bantuan asupan lain sperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

10. Peran orang tua penting dalam menjaga asupan gizi anak

pexels/Kampus Production

Peran keluarga juga sangatlah penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat. Akan tetapi, menanggapi keterbatasan ekonomi yang masih dialami beberapa keluarga, dr. Luciana menyampaikan bahwa orang tua tetap bisa mengupayakan gizi anak dari bahan sederhana.

“Kalau memang ada keterbatasan, manfaatkan saja makanan lokal yang terjangkau, seperti sayur lodeh, timun, atau daun kelor,” jelas dr. Luciana.

Masalah seperti anak sulit fokus atau mudah lupa ternyata bisa berkaitan dengan kondisi gizi yang kurang optimal. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih memperhatikan asupan nutrisi anak sejak dini.

Dengan pemenuhan gizi yang tepat, terutama protein dan zat besi, kemampuan belajar anak dapat lebih optimal dan mendukung masa depannya.

Editorial Team