Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Membuat Anak Mau Mendengarkan tanpa Harus Membentak
Pexels/Ron Lach
  • Membentak tidak membuat anak lebih baik mendengarkan; kebiasaan ini berisiko membuat mereka hanya merespons nada tinggi dan menggantikan komunikasi hangat dengan tekanan.
  • Orangtua disarankan memberi instruksi singkat, jelas, positif, serta memastikan perhatian anak. Pemberitahuan sebelum transisi aktivitas membantu anak bersiap dan mengurangi penolakan.
  • Berikan waktu anak memproses arahan, dampingi langkah awal bila perlu, jaga ketenangan, dan beri pujian spesifik saat perilaku positif dilakukan agar kebiasaan mendengarkan terbentuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menghadapi anak yang seolah tidak mendengar saat dipanggil atau diminta melakukan sesuatu memang bisa menguras kesabaran.

Banyak Mama dan Papa yang akhirnya meninggikan suara karena merasa itu adalah cara paling cepat agar anak segera menurut.

Padahal, membentak bukan berarti membuat anak menjadi pendengar yang lebih baik.

Justru, jika terlalu sering dilakukan, anak bisa terbiasa hanya merespons ketika orangtua berbicara dengan nada tinggi. Akibatnya, komunikasi yang hangat perlahan tergantikan oleh rasa takut atau tekanan.

Kabar baiknya, kemampuan mendengarkan bisa dibangun sejak dini melalui cara-cara sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Dengan pendekatan yang tepat, anak akan belajar bahwa mendengarkan bukan karena takut dimarahi, melainkan karena memahami dan menghargai arahan orangtuanya.

Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa cara yang dapat membantu anak menjadi pendengar yang lebih baik tanpa perlu bentakan.

1. Berikan instruksi yang singkat dan jelas

Pexels/Ron Lach

Saat ingin anak melakukan sesuatu, usahakan menyampaikan instruksi dengan kalimat yang sederhana.

Terlalu banyak penjelasan atau memberikan beberapa perintah sekaligus justru dapat membuat anak bingung, terutama pada balita dan anak usia prasekolah yang kemampuan memproses informasi masih berkembang.

Sebagai contoh, daripada mengatakan:

"Ayo cepat bereskan mainannya, cuci tangan, lalu pakai sandal karena kita sudah terlambat,"

Mama bisa memecahnya menjadi satu instruksi dalam satu waktu, seperti:

"Tolong masukkan semua mainannya ke dalam kotaknya dulu."

Setelah selesai, baru lanjutkan ke instruksi berikutnya. Cara ini membuat anak lebih mudah memahami apa yang diharapkan darinya.

Selain itu, pastikan Mama sudah mendapatkan perhatian anak sebelum berbicara.

Panggil namanya dengan lembut, lakukan kontak mata, lalu sampaikan permintaan dengan suara tenang. Ketika instruksi disampaikan secara jelas dan tidak bertele-tele, anak akan lebih mudah mengikuti arahan tanpa perlu diulang berkali-kali.

Lambat laun, kebiasaan ini juga membantu mereka belajar fokus dan menjadi pendengar yang lebih baik.

2. Katakan apa yang boleh dilakukan, bukan hanya apa yang dilarang

Pexels/Ketut Subiyanto

Sering kali orangtua lebih mudah mengucapkan kalimat larangan, seperti:

"Jangan lari!", "Jangan berisik!", atau "Jangan sentuh itu!"

Padahal, anak-anak yang masih berada dalam masa tumbuh kembang lebih mudah memahami arahan yang bersifat positif dan spesifik daripada sekadar mengetahui apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Misalnya, ketika anak berlari di dalam rumah, Mama bisa mengganti larangan tersebut dengan:

"Yuk, jalannya pelan-pelan di dalam rumah," atau saat anak mulai berteriak, katakan:

"Coba gunakan suara pelan seperti sedang bercerita."

Dengan begitu, anak tidak hanya tahu perilaku yang perlu dihentikan, tetapi juga memahami tindakan yang diharapkan.

Pendekatan ini membantu anak belajar mengendalikan diri tanpa merasa terus-menerus dikoreksi. Mereka juga menjadi lebih percaya diri karena mendapatkan arahan yang jelas tentang pilihan perilaku yang tepat.

Seiring waktu, anak akan terbiasa mengikuti instruksi dengan lebih mudah karena komunikasi yang terjalin terasa sebagai bimbingan, bukan sekadar larangan.

Cara sederhana ini juga dapat menciptakan suasana yang lebih hangat antara orangtua dan anak, sehingga proses belajar mendengarkan berlangsung secara alami setiap hari.

3. Beri pemberitahuan sebelum waktu berganti aktivitas

Pexels/Yan Krukau

Salah satu alasan anak terlihat tidak mau mendengarkan adalah karena mereka belum siap menghentikan aktivitas yang sedang dinikmati.

Ketika sedang asyik bermain, menonton, atau berada di taman bermain, tiba-tiba diminta pulang bisa memicu penolakan, rengekan, bahkan tantrum.

Bukan karena anak sengaja membangkang, melainkan mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan.

Oleh karena itu, biasakan memberi pemberitahuan beberapa menit sebelum pergantian aktivitas. Misalnya:

"Setelah meluncur satu kali lagi, kita pulang, ya,"

"Lima menit lagi waktunya mandi."

Kalimat seperti ini membantu anak memahami apa yang akan terjadi selanjutnya sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri secara mental.

Jika perlu, ingatkan kembali ketika waktu yang disepakati hampir habis agar anak tidak terkejut.

Ketika orangtua konsisten melakukan transisi dengan cara yang tenang, anak akan belajar bahwa setiap kegiatan memiliki awal dan akhir.

Lama-kelamaan, mereka akan lebih mudah menerima instruksi karena sudah mengetahui apa yang diharapkan.

Kebiasaan sederhana ini juga mengurangi konflik saat harus berpindah aktivitas dan membuat anak lebih kooperatif tanpa perlu dipaksa atau dibentak.

4. Berikan anak waktu untuk merespons

Pexels/Yan Krukau

Setelah memberikan instruksi, hindari langsung mengulanginya berkali-kali atau terburu-buru menganggap anak mengabaikan perkataan Mama.

Faktanya, anak membutuhkan waktu untuk memproses informasi, menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan, lalu memutuskan untuk mengikuti arahan tersebut.

Terlebih jika mereka sedang fokus bermain atau mengerjakan sesuatu yang menarik perhatian.

Misalnya, setelah mengatakan:

"Yuk, simpan mainannya dulu,"

Cobalah menunggu beberapa detik sambil tetap menjaga kontak mata. Beri kesempatan kepada anak untuk berpikir dan mulai bergerak tanpa langsung disusul dengan kalimat:

"Mama sudah bilang, kan! Kok nggak didengar, sih?"

Kesabaran kecil ini dapat membuat anak merasa dihargai dan tidak tertekan.

Jika setelah beberapa saat anak masih belum merespons, Mama bisa mendekat dan mengulang instruksi dengan nada yang tetap tenang.

Cara ini jauh lebih efektif dibandingkan dengan langsung meninggikan suara.

Saat anak terbiasa diberi ruang untuk merespons, mereka belajar bahwa mendengarkan bukan berarti harus bereaksi secepat mungkin karena takut dimarahi, melainkan memahami instruksi dan melaksanakannya dengan penuh kesadaran.

5. Dampingi anak hingga ia benar-benar melakukan instruksi

Pexels/Mikhail Nilov

Tidak sedikit orangtua yang merasa frustrasi karena harus mengulang permintaan yang sama berkali-kali.

Padahal, setelah memberikan instruksi pertama, anak sering kali masih membutuhkan bantuan untuk benar-benar memulainya.

Hal ini bukan berarti mereka sengaja tidak mendengarkan, tetapi kemampuan mengatur diri (self-regulation) dan mengalihkan fokus masih terus berkembang.

Daripada mengulang perintah dari kejauhan, cobalah mendekat dan dampingi anak melakukan langkah pertama.

Misalnya, saat Mama meminta anak merapikan mainan, ajak ia berjalan menuju kotak mainan sambil berkata:

"Yuk, kita mulai dengan memasukkan mobil-mobilan ini dulu."

Setelah anak mulai bergerak, Mama bisa membiarkannya menyelesaikan sendiri sambil sesekali memberikan dorongan positif.

Pendampingan seperti ini membantu anak memahami bahwa instruksi bukan sekadar kata-kata, tetapi sesuatu yang memang perlu ditindaklanjuti.

Lama-kelamaan, mereka akan terbiasa menyelesaikan tugas tanpa harus selalu diarahkan secara fisik.

Pendekatan ini juga mengurangi kebiasaan orangtua mengulang perintah berkali-kali yang justru sering membuat anak semakin mengabaikan.

Dengan konsistensi dan kesabaran, anak akan belajar mengikuti arahan sejak pertama kali diminta, bukan setelah berkali-kali diingatkan.

6. Tetap tenang karena emosi orangtua mudah menular kepada anak

Pexels/Gustavo Fring

Anak belajar banyak hal dari apa yang mereka lihat setiap hari, termasuk bagaimana cara menghadapi emosi.

Ketika orangtua merespons situasi dengan suara yang tenang dan sikap yang terkendali, anak cenderung ikut merasa lebih aman dan mampu mengatur emosinya.

Sebaliknya, jika setiap instruksi selalu disampaikan dengan nada tinggi atau penuh kemarahan, anak justru lebih sulit fokus pada pesan yang ingin disampaikan karena perhatiannya teralihkan oleh emosi tersebut.

Bukan berarti Mama harus selalu terlihat sempurna atau tidak pernah merasa kesal. Wajar jika sesekali emosi muncul, apalagi saat menghadapi anak yang sedang menguji kesabaran.

Namun, sebelum berbicara, cobalah mengambil jeda sejenak agar nada bicara tetap lembut dan pesan yang disampaikan lebih jelas.

Anak akan lebih mudah menerima arahan ketika mereka merasa didengarkan dan diperlakukan dengan penuh rasa hormat.

Saat Mama mampu menjaga ketenangan, anak juga belajar bahwa setiap masalah bisa diselesaikan tanpa bentakan.

Kebiasaan ini secara perlahan membangun rasa percaya, memperkuat ikatan emosional, sekaligus menciptakan lingkungan yang membuat anak lebih nyaman untuk mendengarkan.

7. Berikan perhatian lebih pada perilaku positif yang ingin diulang

Pexels/Ketut Subiyanto

Tanpa disadari, orangtua sering kali lebih cepat bereaksi ketika anak melakukan kesalahan dibandingkan saat mereka menunjukkan perilaku yang baik.

Misalnya, Mama langsung menegur ketika anak menyentuh barang yang dilarang, tetapi tidak mengatakan apa pun ketika ia dengan sukarela merapikan mainan atau memakai sepatu tanpa diminta.

Padahal, perhatian dari orangtua merupakan salah satu bentuk penguatan yang paling bermakna bagi anak.

Mulailah membiasakan diri untuk menangkap momen-momen positif sekecil apa pun. Saat anak mendengarkan instruksi sejak pertama kali, cobalah mengatakan:

"Terima kasih ya, Kak, sudah langsung membereskan mainannya,"

"Mama senang sekali kamu mau mendengarkan."

Pujian yang spesifik seperti ini membuat anak memahami perilaku apa yang dihargai, sehingga ia terdorong untuk mengulanginya di kemudian hari.

Anak pada dasarnya ingin merasa diterima dan membanggakan orang-orang yang mereka sayangi.

Daripada mengandalkan bentakan yang hanya memberikan hasil sesaat, cobalah membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat anak merasa aman, dipahami, dan dihargai.

Ketika komunikasi berlangsung dengan tenang dan penuh perhatian, anak tidak hanya lebih mudah mengikuti arahan, tetapi juga belajar menjalin hubungan yang sehat dengan orang di sekitarnya.

Bukankah itu menjadi bekal berharga yang akan mereka bawa hingga dewasa nanti, Ma?

Curated For You

Editorial Team

Related Article