“Kalau dilihat dari luar, tidak ada gangguan fisik yang terlihat, tapi ketika dia berbicara, gangguan itu terdengar karena saat berbicara suaranya sengau,” kata dr. Maulina.
Bibir Sumbing pada Anak Masih Jadi Tantangan Kesehatan di Indonesia

- Bibir sumbing dan celah langit-langit dapat mengganggu makan, bicara, serta tumbuh kembang; kasus dengan keduanya umumnya memerlukan operasi bertahap pada usia sekitar tiga bulan dan satu tahun.
- Celah langit-langit yang tersembunyi sering baru terdeteksi saat anak belajar bicara dan dapat menyebabkan suara sengau; operasi tepat waktu serta terapi wicara dapat dibutuhkan.
- Kondisi ini terjadi pada sekitar satu dari 700–1.000 kelahiran, dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan, sementara biaya operasi masih menghambat akses sebagian keluarga.
Setiap anak berhak mendapatkan akses kesehatan yang tepat, termasuk bagi mereka yang lahir dengan bibir sumbing maupun celah langit-langit. Kondisi bawaan ini masih menjadi tantangan kesehatan anak di Indonesia.
Kondisi ini tak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga kemampuan makan, berbicara, hingga proses tumbuh kembang anak. Penanganan bibir sumbing juga tidak selalu bisa dilakukan dalam satu kali tindakan.
Pada beberapa kasus, anak membutuhkan operasi bertahap dan pendampingan lanjutan agar fungsi makan serta kemampuan bicaranya dapat berkembang dengan baik.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai bibir sumbing pada anak masih jadi tantangan kesehatan di Indonesia.
Table of Content
1. Bibir sumbing dan celah langit-langit tidak selalu ditangani dalam satu kali operasi

Bibir sumbing sering kali disertai dengan celah langit-langit, sehingga proses penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Apabila anak mengalami bibir sumbing sekaligus gangguan pada celah langit-langit, maka tindakan operasi umumnya dilakukan dalam dua tahap.
Operasi bibir biasanya dilakukan saat usia tiga bulan, sedangkan operasi celah langit-langit dilakukan ketika anak berusia sekitar satu tahun.
“Kadang-kadang gangguan bibir sumbing itu disertai dengan gangguan langit-langit. Bila kondisinya seperti ini, maka biasanya operasinya dilakukan dua tahap. Di usia 3 bulan, kita operasi bibirnya dulu, lalu kemudian di usia 1 tahun kita operasi celah langit-langit. Kalau masalahnya bibir sumbing, maka di usia 3 bulan sudah cukup diatasi,” ujar dr. Maulina Rachmasari, SpBP RE, Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika Hermina Bogor, mengutip dari Siaran Pers yang diterima Popmama.com.
2. Masalah pada celah langit-langit bisa tidak terlihat, tetapi memengaruhi kemampuan bicara anak

Tak semua anak dengan celah langit-langit memiliki bibir sumbing. Pada beberapa kasus, kelainan hanya terjadi pada langit-langit mulut, sehingga tidak tampak dari luar dan baru diketahui ketika anak mulai belajar berbicara.
Karena tidak ada perubahan fisik yang terlihat, kondisi ini sering terlambat dikenali oleh keluarga. Padahal, keterlambatan penanganan dapat membuat anak terbiasa berbicara dengan langit-langit yang masih terbuka, sehingga artikulasinya menjadi kurang jelas.
Ia juga menjelaskan bahwa operasi celah langit-langit ideal dilakukan saat anak berusia sekitar satu tahun, ketika proses belajar berbicara mulai berkembang. Setelah operasi, sebagian anak masih membutuhkan terapi wicara agar kemampuan bicaranya semakin optimal.
“Usia 1 tahun usia terbaik karena ia sudah belajar berbicara. Kalau terlambat, dia nanti terbiasa berbicara dengan kondisi langit-langit terbuka dan suaranya menjadi kurang jelas. Untuk itu, kadang setelah operasi langit-langit dibutuhkan terapi wicara,” jelasnya.
3. Penyebab bibir sumbing pada anak-anak Indonesia

Secara epidemiologis, bibir sumbing dan celah langit-langit bukan merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi. dr. Maulina menyebutkan bahwa kelainan ini diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 700 hingga 1.000 kelahiran hidup.
Penyebabnya bersifat multifaktorial, yaitu dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Risiko dapat meningkat akibat infeksi selama kehamilan, kekurangan nutrisi, paparan asap rokok, radiasi, maupun riwayat genetik dalam keluarga.
Selain itu, masih banyak keluarga yang menghadapi kendala biaya untuk memperoleh tindakan operasi. Sebab, biaya operasi bibir sumbing maupun celah langit-langit dapat mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah.
“Yang jadi permasalahan, banyak kalangan belum bisa mengakses operasi bibir sumbing dan celah langit-langit karena terkendala biaya. Asal tahu saja, untuk satu operasi saja bisa jutaan bahkan puluhan juta,” ungkap dr. Maulina.
4. Tujuan operasi bukan sekadar memperbaiki penampilan anak, tetapi juga meningkatkan kualitas hidupnya

Penanganan bibir sumbing memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibandingkan aspek estetika. Operasi dilakukan untuk membantu mengembalikan fungsi dasar anak, mulai dari kemampuan makan, memperoleh nutrisi yang cukup, hingga perkembangan bicara.
“Melalui program operasi bibir sumbing tidak bisa dipandang hanya sebagai prosedur rekonstruktif, melainkan sebagai upaya komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup anak,” ujar Direktur RS Hermina Bogor, dr. Muyi Ayoe Hapsari, SH., MM.
Sementara itu, dari sisi medis, dr. Maulina juga menegaskan bahwa tujuan utama operasi adalah mengembalikan fungsi dasar anak. Dengan begitu, anak dapat tumbuh dengan kualitas hidup yang lebih baik.
“Bibir sumbing merupakan kelainan bawaan yang memerlukan penanganan komprehensif. Operasi pada waktu yang tepat menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi, bukan sekadar memperbaiki penampilan, dengan tindakan sejak dini anak memiliki kesempatan lebih baik untuk memperoleh nutrisi yang optimal, perkembangan bicara yang baik, serta kualitas hidup yang lebih baik hingga dewasa,” katanya.
5. Pentingnya deteksi dini pada anak

Deteksi dini menjadi langkah penting dalam penanganan bibir sumbing maupun masalah celah langit-langit. Bibir sumbing umumnya dapat dikenali setelah bayi lahir. Sedangkan, celah langit-langit tersembunyi memerlukan pemeriksaan rongga mulut secara menyeluruh agar tidak terlewat.
Keterlambatan penanganan dapat berdampak pada kemampuan makan, pertumbuhan, perkembangan bicara, hingga kondisi psikososial anak saat mulai berinteraksi di lingkungan sekolah.
Oleh karena itu, edukasi kepada orangtua dan akses rujukan yang lebih merata masih menjadi kebutuhan penting di Indonesia. Di sisi lain, perluasan akses layanan juga dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Program operasi bibir sumbing gratis yang melibatkan Smile Train Indonesia bersama sejumlah mitra, termasuk dukungan dari PT Alamii Natura Sejahtera (Alamii Food), diharapkan dapat membantu lebih banyak anak dari keluarga prasejahtera memperoleh tindakan operasi yang dibutuhkan.
“Program tersebut diharapkan mampu mengembalikan fungsi makan dan berbicara, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang layak,” ujar Country Manager dan Program Director Smile Train Indonesia, Deasy Larasati.
Demikian informasi mengenai bibir sumbing pada anak masih jadi tantangan kesehatan di Indonesia. Karena itu, deteksi dini, penanganan yang tepat, serta akses layanan kesehatan yang memadai menjadi kunci agar setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.





















