- berjalan,
- batuk,
- melompat,
- bergerak.
5 Tanda Usus Buntu pada Anak, Jangan Sampai Terlambat!

- Demam berkepanjangan yang tidak membaik, terutama dengan leukosit tinggi tanpa penyebab jelas, dapat menjadi tanda radang usus buntu pada anak.
- Nyeri yang awalnya di sekitar pusar lalu berpindah ke perut kanan bawah, makin sakit saat bergerak, dapat disertai muntah dan hilangnya nafsu makan.
- Sembelit dapat menyumbat usus buntu dan memicu infeksi; pemeriksaan cepat penting karena keterlambatan berisiko menyebabkan perforasi serta penyebaran infeksi ke rongga perut.
Mama, jangan menganggap remeh ketika Si Kecil mengalami demam yang berlangsung berhari-hari, terutama jika disertai nyeri di perut kanan bawah dan muntah.
Kondisi tersebut memang bisa disebabkan oleh berbagai penyakit, tetapi juga dapat menjadi salah satu tanda radang usus buntu atau apendisitis yang membutuhkan penanganan medis segera.
Melalui unggahan di Instagramnya, dr. Rinal Dhuhri (@dr_brewok) mengungkapkan bahwa ia cukup sering menemukan kasus anak yang awalnya hanya mengalami demam berkepanjangan.
Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata penyebabnya adalah radang usus buntu. Bahkan, tidak sedikit pasien yang akhirnya harus menjalani operasi karena kondisi usus buntunya sudah mengalami perforasi atau pecah.
Lalu, gejala apa saja yang perlu diwaspadai orangtua? Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa tanda usus buntu pada anak yang dijelaskan dr. Rinal Dhuhri. Yuk, simak!
1. Demam yang tidak kunjung membaik bisa menjadi tanda awal

Demam pada anak memang sering kali disebabkan oleh infeksi virus yang akan membaik dalam beberapa hari.
Namun, Mama perlu lebih waspada jika demam berlangsung terus-menerus, tidak kunjung turun meski sudah mendapatkan pengobatan, atau justru semakin tinggi.
Menurut dr. Rinal Dhuhri melalui akun Instagram @dr_brewok, kondisi seperti ini cukup sering ditemui pada pasien anak yang ternyata mengalami radang usus buntu (apendisitis).
Dokter menjelaskan bahwa anak dengan radang usus buntu biasanya juga menunjukkan peningkatan jumlah leukosit atau sel darah putih sebagai tanda tubuh sedang melawan infeksi.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan leukosit tinggi tetapi penyebab infeksi belum jelas dan demam tidak kunjung membaik, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan adanya infeksi di rongga perut, termasuk radang usus buntu.
Karena itu, Mama dan Papa sebaiknya tidak hanya berfokus menurunkan demam, tetapi juga memperhatikan gejala lain yang menyertainya.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu dokter menegakkan diagnosis sebelum terjadi komplikasi yang lebih serius.
2. Nyeri di perut kanan bawah yang semakin berat

Salah satu gejala khas radang usus buntu adalah munculnya nyeri pada perut kanan bawah.
Meski begitu, pada anak-anak, keluhan ini tidak selalu langsung dirasakan di lokasi tersebut. Pada awalnya, rasa sakit dapat muncul di sekitar pusar, kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut dan terasa semakin tajam seiring berkembangnya peradangan.
Menurut dr. Rinal Dhuhri, orangtua perlu waspada apabila anak mengeluhkan sakit perut yang tidak kunjung hilang, sulit berdiri tegak karena nyeri, atau menangis saat bagian kanan bawah perut disentuh.
Rasa nyeri biasanya akan semakin berat ketika anak:
Gejala ini tidak boleh dianggap sebagai sakit perut biasa, terlebih jika disertai demam dan muntah.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti tes darah maupun USG untuk memastikan penyebab nyeri.
Penanganan yang cepat dapat mencegah radang usus buntu berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya.
3. Muntah dan nafsu makan menurun juga sering menyertai

Selain demam dan nyeri perut, anak yang mengalami radang usus buntu juga kerap mengalami mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan.
Gejala-gejala ini sering kali membuat orangtua mengira anak hanya mengalami gangguan pencernaan biasa atau keracunan makanan.
Padahal, apabila keluhan tersebut muncul bersamaan dengan nyeri perut kanan bawah dan demam yang tidak kunjung reda, kondisi ini perlu segera diperiksakan ke dokter.
Menurut dr. Rinal Dhuhri, kombinasi beberapa gejala tersebut sering ditemukan pada pasien anak yang pada akhirnya didiagnosis mengalami apendisitis.
Nafsu makan yang tiba-tiba hilang juga merupakan salah satu tanda yang cukup khas pada radang usus buntu.
Bila anak tampak lemas, menolak makan dan minum, serta muntah berulang, jangan menunggu hingga gejalanya membaik dengan sendirinya. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui penyebabnya.
Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang anak mendapatkan penanganan sebelum usus buntu mengalami pecah atau infeksi menyebar ke rongga perut.
4. Sembelit dapat meningkatkan risiko terjadinya radang usus buntu

Dalam edukasinya, dr. Rinal Dhuhri juga mengingatkan orangtua agar tidak menyepelekan sembelit pada anak.
Menurutnya, salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risiko radang usus buntu adalah adanya penumpukan feses yang mengeras sehingga menyumbat saluran usus buntu.
Sumbatan tersebut dapat memicu pertumbuhan bakteri di dalam usus buntu dan akhirnya menyebabkan peradangan hingga infeksi.
Karena itu, Mama perlu memperhatikan pola buang air besar Si Kecil.
Jika anak sering kesulitan BAB, mengejan, atau frekuensi BAB menjadi sangat jarang, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani.
Untuk membantu mencegah sembelit, pastikan anak mengonsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayuran, minum air putih yang cukup, serta aktif bergerak setiap hari.
Meski tidak semua anak yang sembelit akan mengalami radang usus buntu, menjaga kesehatan saluran cerna tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko berbagai gangguan pencernaan, termasuk apendisitis.
5. Terlambat ditangani dapat menyebabkan usus buntu pecah

Menurut dr. Rinal Dhuhri, tidak sedikit pasien anak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi radang usus buntu sudah terlambat terdiagnosis.
Saat dilakukan operasi, usus buntunya ternyata sudah mengalami perforasi atau pecah. Kondisi ini jauh lebih serius karena infeksi tidak lagi terbatas pada usus buntu, tetapi dapat menyebar ke rongga perut sehingga memicu peritonitis.
Akibatnya, penanganan menjadi lebih kompleks dan masa pemulihan anak biasanya juga lebih lama.
Karena itu, orangtua sebaiknya tidak menunggu hingga nyeri perut menjadi sangat hebat sebelum membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Bila Si Kecil mengalami demam yang terus-menerus, nyeri di perut kanan bawah, muntah, nafsu makan menurun, atau memiliki riwayat sembelit yang disertai keluhan tersebut, segera periksakan ke dokter.
Itulah 5 tanda usus buntu pada anak yang perlu Mama waspadai.
Meski gejalanya sering menyerupai penyakit lain, seperti demam biasa atau gangguan pencernaan, jangan abaikan jika Si Kecil mengalami demam yang tidak kunjung membaik, nyeri di perut kanan bawah, muntah, atau kehilangan nafsu makan, terutama bila disertai sembelit.
Jangan ragu mencari pertolongan medis ketika gejalanya mengarah pada radang usus buntu, karena setiap keterlambatan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius





















