Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Gigi Susu Anak yang Berlubang Jangan Disepelekan, Ini Risikonya!

Gigi Susu Anak yang Berlubang Jangan Disepelekan, Ini Risikonya!
Instagram.com/indah_yyg
  • Anak 7 tahun mengalami demam tinggi dan bengkak pipi-rahang selama tiga minggu; setelah sempat diduga parotitis, pemeriksaan menemukan infeksi bernanah yang diduga terkait gigi berlubang hingga perlu operasi.
  • Gigi susu berlubang tetap harus dirawat karena lubang menjadi jalan masuk bakteri yang dapat menyebarkan infeksi ke gusi, pipi, dan rahang, selain berperan untuk mengunyah, bicara, serta ruang gigi permanen.
  • Sakit gigi disertai demam, bengkak, sulit membuka mulut, makan, menelan, lemas, atau sulit bernapas memerlukan pertolongan medis; pencegahan mencakup sikat gigi berfluoride, membatasi gula, dan pemeriksaan rutin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mama mungkin pernah berpikir, “Gigi susu kan nanti juga tanggal, jadi tidak apa-apa kalau berlubang.” Padahal, anggapan tersebut justru bisa membuat masalah gigi pada anak semakin serius.

Hal ini dialami oleh seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang mengalami demam tinggi hingga tiga minggu disertai pembengkakan di area pipi dan tulang rahang. Awalnya, kondisi tersebut sempat didiagnosis sebagai gondongan atau parotitis.

Namun, setelah beberapa kali mendapatkan obat dan antibiotik tanpa perubahan kondisi yang berarti, ternyata penyebab bengkak pada pipinya bukan sekadar gondongan. Infeksi tersebut diduga berasal dari gigi berlubang dan sudah berkembang hingga menimbulkan penumpukan nanah.

Kisah ini dibagikan sang Mama melalui akun Instagram @indah_yyg. Kondisi tersebut bahkan membuat putranya harus menjalani tindakan operasi.

Berikut Popmama.com telah merangku beberapa hal yang perlu Mama ketahui agar tidak menganggap sepele gigi susu berlubang.

  1. 1. Berawal dari sakit gigi dan demam yang tak kunjung membaik

    Awalnya sakit gigi kemudian muncul gejala lain, yaitu demam
    Instagram.com/indah_yyg

    Menurut cerita yang dibagikan @indah_yyg, masalah kesehatan putranya bermula ketika anak mengalami sakit gigi.

    Saat itu, kondisi pipinya belum terlihat membengkak sehingga belum menyangka masalah tersebut dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius.

    Anak kemudian dibawa ke dokter gigi untuk mendapatkan pemeriksaan. Namun, saat itu belum ada tindakan yang dilakukan terhadap giginya karena terdapat pertimbangan terkait tindakan pada gigi anak.

    Memasuki minggu kedua, kondisi anak justru semakin mengkhawatirkan. Demam tinggi yang dialaminya tidak kunjung turun dan mulai disertai pembengkakan di area pipi serta tulang rahang.

    Orangtua kemudian membawa anak ke UGD. Berdasarkan pemeriksaan dokter jaga saat itu, pembengkakan diduga merupakan gondongan atau parotitis. Anak pun diberikan obat dan antibiotik.

    Namun, setelah mendapatkan pengobatan dari beberapa dokter dan mengonsumsi antibiotik, kondisi anak tidak juga membaik. Demam dan pembengkakan yang menetap akhirnya membuat keluarga kembali mencari pemeriksaan lebih lanjut.

  2. 2. Ternyata bengkak di pipi berasal dari infeksi gigi

    Bengkak di pipi anak disebabkan oleh infeksi dari gigi berlubang
    Pexels/Towfiqu barbhuiya

    Memasuki minggu ketiga, orangtua kembali membawa anak ke dokter umum. Pemeriksaan kali ini memberikan jawaban yang cukup mengejutkan bagi keluarga.

    Bengkak pada area pipi anak ternyata bukan sekadar gondongan. Dokter menemukan bahwa sudah terjadi infeksi dan terdapat nanah pada area yang mengalami pembengkakan.

    Karena kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut, dokter kemudian menyarankan keluarga untuk segera membawa anak kembali ke UGD dan menjalani tindakan operasi.

    Meski detail mengenai tindakan operasi yang dilakukan tidak dibagikan, kondisi ini menunjukkan bahwa infeksi pada area mulut dan rahang anak tidak boleh dianggap sepele.

    Dari cerita tersebut, infeksi dan pembengkakan bernanah yang dialami anak diduga kuat berkaitan dengan gigi berlubang yang sebelumnya sudah dikeluhkan.

    Kondisi ini menjadi pengingat bahwa sakit gigi pada anak bukan sekadar masalah yang bisa ditunggu sampai giginya tanggal. Apalagi jika keluhan mulai disertai demam, pembengkakan, atau kondisi anak yang semakin menurun.

  3. 3. Gigi susu berlubang tetap perlu dirawat

    Walaupun gigi susu masih tetap bisa tumbuh, perlu perawatan juga
    Pexels/Nadezhda Moryak

    Masih banyak orangtua yang menganggap gigi susu tidak terlalu penting untuk dirawat karena nantinya akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen.

    Padahal, gigi susu yang mengalami kerusakan tetap membutuhkan perhatian dan perawatan.

    Mengutip penjelasan dari @omdc_official yang didirikan oleh drg. Oktri Manessa, lubang kecil pada gigi dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri. Jika tidak segera ditangani, infeksi berpotensi menyebar ke jaringan di sekitar gigi, termasuk gusi, pipi, dan rahang.

    Artinya, masalah yang awalnya hanya terlihat seperti lubang kecil pada gigi dapat berkembang menjadi infeksi apabila dibiarkan.

    Kondisi ini tentu bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan berisiko mengganggu aktivitasnya sehari-hari.

    Selain membantu anak mengunyah makanan dan berbicara, gigi susu juga berperan dalam menjaga ruang untuk gigi permanen.

    Karena itu, ketika anak mengeluhkan sakit gigi, Mama sebaiknya tidak hanya menunggu sampai gigi tersebut tanggal.

    Segera periksakan kondisi gigi anak agar dokter dapat menentukan perawatan yang sesuai.

  4. 4. Waspadai gejala infeksi gigi pada anak

    Ketahui tanda-tanda ketika kondisi gigi anak membutuhkan perawatan
    Pexels/RDNE Stock project

    Gigi berlubang memang tidak selalu langsung menyebabkan infeksi berat. Namun, Mama perlu mengetahui tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kondisi anak membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

    Mama dan Papa sebaiknya segera mencari pertolongan medis ketika anak mengalami sakit gigi yang disertai demam.

    Pembengkakan pada pipi, gusi, atau rahang juga perlu diperhatikan, terlebih jika anak sampai mengalami kesulitan membuka mulut.

    Selain itu, jangan abaikan ketika anak mulai sulit makan atau menelan. Anak yang terlihat sangat lemas dan kondisinya tidak kunjung membaik juga perlu segera mendapatkan pemeriksaan.

    Hal yang lebih serius adalah ketika anak mengalami kesulitan bernapas. Kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.

    Mama juga sebaiknya tidak hanya berfokus pada menghilangkan rasa sakitnya. Jika keluhan terus berulang atau disertai gejala lain, penting untuk mencari tahu penyebabnya.

    Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, Mama dan Papa dapat membantu anak mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum infeksi berkembang semakin luas.

  5. 5. Jangan tunggu gigi susu copot untuk menanganinya

    Tidak perlu menunggu gigi anak tanggal baru di bawa ke dokter gigi
    Pexels/Phúc Phạm

    Kisah anak berusia 7 tahun tersebut menjadi pengingat bahwa gigi susu tetap perlu mendapatkan perhatian meskipun pada akhirnya akan tanggal.

    Kalimat seperti:

    “Toh masih gigi susu, nanti juga copot,”

    Sebaiknya tidak menjadi alasan untuk membiarkan gigi anak berlubang tanpa pemeriksaan. Sebab, lubang pada gigi dapat menjadi jalan masuk bakteri yang kemudian menyebabkan infeksi pada jaringan di sekitarnya.

    Untuk mencegah masalah gigi, Mama dapat membiasakan anak menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride.

    Kebiasaan menjaga kebersihan gigi juga perlu disertai dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.

    Selain itu, pemeriksaan gigi secara rutin dapat membantu menemukan masalah sejak dini, bahkan sebelum anak mengalami sakit gigi.

    Jika anak sudah mengeluhkan sakit gigi, jangan menunggu sampai muncul demam atau pipinya membengkak. Lebih baik segera periksakan ke dokter gigi untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan perawatan yang sesuai.

    Semoga pengalaman ini menjadi pengingat bagi Mama bahwa meskipun hanya gigi susu, kesehatan gigi anak tetap tidak boleh disepelekan.

    Sebab, penanganan sejak awal dapat membantu mencegah masalah berkembang menjadi infeksi yang lebih serius.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More