Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Waspada! IDAI Peringatkan Bahaya Timbal dan Mikroplastik pada Anak
Freepik

Belakangan ini, ancaman kesehatan untuk anak tidak hanya datang dari virus atau bakteri saja, Ma, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru saja mengingatkan tentang dua bahaya tersembunyi yang kini semakin dekat dengan keseharian anak yakni timbal dan mikroplastik.

Kedua zat ini dinilai sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak sejak dini, bahkan sejak ia masih berada dalam kandungan.

Yang mengkhawatirkan, sumber paparannya sangat umum ditemui di rumah, mulai dari cat tembok yang mengelupas, debu, hingga wadah plastik untuk makanan dan minuman panas.

IDAI juga menekankan bahwa dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada saraf, perilaku, dan fungsi organ anak dalam jangka panjang.

Nah, agar Mama lebih waspada, berikut Popmama.com rangkumkan paparan bahaya dari timbal dan mikroplastik yang telah diperingatkan oleh IDAI.

1. Paparannya sudah terjadi sejak lahir

Freepik/jcomp

Dalam paparannya kepada media, IDAI mengungkapkan fakta bahwa mikroplastik bahkan sudah ditemukan dalam mekonium atau tinja pertama bayi yang baru lahir.

Hal ini membuktikan bahwa paparan partikel plastik berukuran sangat kecil dapat berpindah dari Mama ke janin selama masa kehamilan.

Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menegaskan bukti-bukti sudah menunjukkan bahwa paparan mikroplastik itu memang karena tidak bisa didegradasi, dan akan terus ada.

Bahkan, sampai mekonium bayi baru lahir itu sudah ada mikroplastiknya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran lingkungan telah mencapai fase paling awal kehidupan manusia.

2. Bisa mengancam IQ dan perilaku anak

Freepik

Selain mikroplastik, paparan timbal juga menjadi ancaman serius karena logam berat ini sebenarnya tidak memiliki fungsi biologis dalam tubuh dan seharusnya tidak ada.

dr. Irene Yuniar dalam kesempatan yang sama juga menjelaskan bahwa timbal tidak boleh ada di dalam tubuh. Tapi kalau ada, batas toleransi itu sampai lima mikrogram saja.

Namun masalahnya, kadar lima itu sendiri ternyata sudah ada efek buat IQ dan perilaku, Ma.

Itulah mengapa seringkali anak yang dianggap "bandel" atau sulit diatur ternyata mengalami perubahan perilaku akibat paparan timbal dari lingkungan sekitarnya.

3. Bisa mengakibatkan gangguan saraf hingga ginjal

Freepik/pressfoto

Jika kadar timbal dalam tubuh anak semakin tinggi, dampaknya bisa sangat serius. dr. Irene menambahkan jika terus dibiarkan, paparan dari timbal yang tinggi dalam tubuh ini juga bisa sampai gangguan saraf, anemia atau kurang darah, terlambat tumbuh, bahkan bisa sampai gangguan ginjal.

Bahayanya lagi, Ma, kalau sudah terjadi gangguan, ada yang bisa balik, tapi ada pula yang menetap.

Anak-anak sendiri menjadi kelompok paling rentan karena organ tubuh mereka masih berkembang dan sistem detoksifikasi tubuh belum sempurna seperti orang dewasa.

Itulah mengapa IDAI memeringati para orangtua akan bahaya mikroplastik dan timbal, yang mungkin tanpa disadari masih banyak ada di lingkungan sekitar rumah.

4. Bisa menyebar ke seluruh organ tubuh

Freepik/bearfotos

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari lima mikron yang bisa masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, bahkan udara yang dihirup.

dr. Irene juga menegaskan bahwa mikroplastik bisa merusak dari sistem saraf sampai sistem pernapasan. Sementara itu, Dr. Piprim menambahkan bahwa penggunaan wadah plastik untuk makanan atau minuman panas juga sangat berisiko.

Bahan-bahan yang kita gunakan untuk makan, untuk minum, terutama kalau dipanaskan, ini tentu sangat berbahaya buat kesehatan kita, Ma.

Namun sayangnya, sampai saat ini masih banyak penggunaan bahan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

5. Cukupi gizi harian anak untuk membekali pertahanan tubuh

Freepik

Kendati demikian, IDAI juga memberikan insight kepada para orangtua bahwa kondisi gizi anak dapat membantu mengurangi dampak zat berbahaya ini.

Dengan begitu, kita sebagai orangtua perlu lebih teliti dalam mencukupi gizi harian anak seperti vitamin, kalsium, dan zat besi.

Menurut dr. Irene, gizi inilah yang menjadi barier dalam tubuh anak sehingga absorpsi timbal ke tubuh makin berkurang.

Sementara kalau anak kekurangan nutrien tertentu, hal ini justru memicu peningkatan penyerapan timbal ke tubuh, Ma.

Meski data primer tentang paparan timbal dan mikroplastik pada anak di Indonesia masih belum memadai, IDAI mengajak orangtua untuk mulai waspada.

IDAI sendiri saat ini tengah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, WHO, dan UNICEF untuk menyusun panduan nasional serta melakukan survei kadar timbal pada anak.

Namun, langkah pencegahan di rumah tetaplah yang terpenting, Ma. Bisa dimulai dengan lebih selektif memilih mainan anak, batasi penggunaan plastik terutama untuk makanan panas, biasakan cuci tangan, serta gunakan mainan dari bahan alami seperti kayu.

Perlindungan terbaik untuk si Kecil dimulai dari kewaspadaan kita sehari-hari. Tetap waspada dan selalu jaga kesehatan anak di rumah ya, Ma.

Editorial Team