Kenali Retraksi, Tanda Anak Sedang Kesulitan Bernapas

Retraksi ditandai dada bagian bawah, sela tulang rusuk, atau leher tertarik ke dalam saat anak menarik napas, terutama ketika tetap muncul saat anak tenang.
Kesulitan bernapas dapat disertai napas sangat cepat, mengi atau suara kasar, hidung kembang-kempis, serta kesulitan menangis, berbicara, minum, atau menyusu.
Anak yang lemas, mengantuk, sulit dibangunkan, kesadarannya menurun, atau bibir dan wajah kebiruan perlu segera dibawa ke IGD atau fasilitas kesehatan.
Anak yang sedang mengalami sesak napas tidak selalu langsung menunjukkan tanda berupa bibir atau wajah yang membiru. Ada tanda lain yang bisa Mama perhatikan dari gerakan tubuhnya saat bernapas, salah satunya ketika bagian dada atau sekitar leher terlihat tertarik ke dalam.
Kondisi tersebut disebut retraksi. Gerakan ini terjadi ketika anak harus berusaha lebih keras dari biasanya untuk menarik napas.
Hal tersebut juga menjadi perhatian dr. Faldi Yaputra, Sp.N melalui unggahan di Instagramnya. Dalam video yang dibagikan, terlihat seorang anak sedang mengalami kesulitan bernapas.
Anak tersebut tampak tidak sadar sepenuhnya, sementara bagian lehernya terlihat cekung ke dalam saat menarik napas.
Lantas, bagaimana tanda anak sedang kesulitan bernapas? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!
1. Bagian dada atau leher terlihat tertarik ke dalam

Popmama.com/Violin Heldina/AI Coba perhatikan leher dan dada anak ketika ia sedang menarik napas. Dalam kondisi normal, dada akan mengembang ketika udara masuk. Namun, pada anak yang mengalami retraksi, bagian bawah dada atau area di antara tulang rusuk dapat terlihat tertarik ke dalam ketika menarik napas.
Gerakan serupa juga bisa terlihat di sekitar leher, terutama ketika anak sedang berusaha keras mendapatkan udara. WHO menjelaskan bahwa chest indrawing terjadi ketika bagian bawah dinding dada bergerak masuk saat anak menarik napas dan merupakan tanda bahwa usaha bernapas lebih besar dari normal.
Retraksi bukan sekadar gerakan dada yang terlihat sesekali ketika anak menangis. Mama perlu memperhatikan apakah tarikan tersebut tetap terlihat ketika anak berada dalam kondisi tenang.
Jika Mama melihat dada atau leher anak terus tertarik ke dalam setiap kali bernapas, terutama disertai napas cepat atau kondisi anak semakin lemah, jangan menunggu sampai muncul tanda lain yang lebih berat.
2. Napas anak menjadi sangat cepat atau terdengar tidak seperti biasanya

Popmama.com/Violin Heldina/AI Retraksi dapat muncul bersamaan dengan perubahan pola napas. Anak mungkin bernapas jauh lebih cepat dari biasanya karena tubuh sedang berusaha memenuhi kebutuhan udara.
Selain kecepatannya, perhatikan pula suara napas anak. Napas yang berbunyi seperti mengi atau suara kasar ketika menarik napas juga perlu diperhatikan. WHO mencatat napas cepat, retraksi, nasal flaring, grunting, dan suara napas tertentu sebagai tanda gangguan pernapasan pada anak.
Mama juga bisa melihat apakah hidung anak tampak kembang-kempis atau apakah ia terlihat menggunakan tenaga ekstra untuk bernapas.
Jika perubahan tersebut muncul bersamaan dan anak terlihat semakin kesulitan mendapatkan udara, sebaiknya jangan hanya mengandalkan pengamatan di rumah. Anak perlu segera mendapatkan penilaian dari tenaga medis untuk mengetahui seberapa berat gangguan pernapasannya.
3. Anak lemas, kesulitan menangis, berbicara, atau minum

Popmama.com/Violin Heldina/AI Ketika bernapas saja membutuhkan banyak tenaga, aktivitas lain seperti berbicara, menangis, atau minum bisa menjadi semakin sulit bagi anak.
Pada bayi, Mama mungkin melihat si Kecil kesulitan menyusu atau berhenti berkali-kali karena harus mengambil napas. Sementara pada anak yang lebih besar, ia mungkin hanya mampu mengucapkan beberapa kata atau sulit berbicara seperti biasanya karena kehabisan napas.
American Academy of Pediatrics menyebut anak yang mengalami kesulitan bernapas hingga hampir tidak mampu berbicara atau menangis sebagai kondisi yang membutuhkan pertolongan darurat. Retraksi pada tulang rusuk juga termasuk tanda yang perlu segera diperiksakan.
Jadi, jangan hanya menunggu anak mengatakan bahwa dirinya sesak. Perhatikan perubahan kemampuan anak untuk minum, menangis, berbicara, dan beraktivitas seperti biasanya.
4. Anak terlihat sangat lemas, mengantuk, atau sulit dibangunkan

Popmama.com/Violin Heldina/AI Mama juga perlu memperhatikan tingkat kesadaran anak. Anak yang sedang sakit memang bisa lebih banyak tidur, tetapi kondisi menjadi mengkhawatirkan ketika ia tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak merespons seperti biasanya, atau kesulitan berkomunikasi.
Dalam kondisi gangguan pernapasan yang berat, anak dapat mengalami penurunan kesadaran. WHO mencantumkan lethargy atau kondisi tidak sadar sebagai salah satu tanda bahaya pada anak dengan penyakit berat, terutama jika disertai kesulitan bernapas.
Hal ini pula yang menjadi perhatian dalam penjelasan dr. Faldi. Ketika anak yang sedang sesak mulai terlihat mengantuk, sulit dibangunkan, atau tidak mampu berkomunikasi dengan baik, orangtua perlu segera mencari pertolongan.
Jangan menunggu sampai anak benar-benar kehilangan kesadaran. Semakin berat perubahan kondisi anak, semakin cepat pula ia perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
5. Bibir kebiruan hingga kesadaran menurun

Popmama.com/Violin Heldina/AI Bibir atau wajah yang terlihat kebiruan merupakan tanda yang jauh lebih serius karena dapat menunjukkan kadar oksigen yang rendah. WHO memasukkan kebiruan pada bagian tengah tubuh atau central cyanosis sebagai tanda bahaya pada anak dengan gangguan pernapasan.
Namun, Mama tidak perlu menunggu sampai bibir anak berubah biru untuk mencari pertolongan. Retraksi yang jelas, kesulitan bernapas, anak tidak mampu berbicara atau menangis dengan baik, hingga penurunan kesadaran sudah menjadi alasan untuk segera mendapatkan penilaian medis.
American Academy of Pediatrics juga menyarankan agar anak dengan retraksi atau tulang rusuk yang tertarik setiap kali bernapas untuk segera dibawa ke IGD. Kondisi seperti sulit bernapas berat, tidak sadar, atau bibir dan wajah membiru merupakan keadaan darurat.
Jika Mama menemukan tanda-tanda tersebut, segera bawa si Kecil ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat. Dokter dapat memeriksa jalan napas, pola pernapasan, kadar oksigen, serta mencari tahu penyebab anak mengalami kesulitan bernapas. Pemberian oksigen dapat dilakukan apabila memang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Itulah tanda anak sedang kesulitan bernapas. Jika anak terlihat bekerja sangat keras untuk bernapas atau kesadarannya mulai menurun, jangan menunggu sampai kondisinya semakin berat dan segera cari pertolongan medis, ya Ma!























