10 Tanda Tubuh Kekurangan Oksigen, Jangan Disepelekan!

- Nafas terasa pendek atau cepat, respons otomatis tubuh terhadap penurunan saturasi oksigen.
- Wajah atau bibir tampak kebiruan, tanda kadar oksigen dalam darah menurun.
- Mudah lelah meski tidak banyak aktivitas, akibat sel-sel tubuh tidak bisa menghasilkan energi dengan optimal.
Tubuh sangat bergantung pada oksigen untuk menjalankan hampir semua fungsi penting mulai dari kerja otak, sistem saraf, detak jantung, hingga metabolisme.
Ketika kadar oksigen menurun, tubuh langsung memberi sinyal lewat berbagai gejala. Sayangnya, banyak tanda awalnya terlihat ringan sehingga Mama mungkin mengabaikannya.
Padahal, kekurangan oksigen bisa berkembang cepat dan berdampak serius pada kesehatan. Tak heran, jika orang yang kekurangan oksigen dapat mengalami sesak nafas atau bahkan pingsan.
Menurut American Lung Association, hipoksia atau kondisi kekurangan oksigen bisa mempengaruhi otot, konsentrasi, dan sistem organ penting hanya dalam hitungan menit.
Karena itu, penting bagi Mama untuk mengenali tanda-tandanya sejak awal. Dengan memahami sinyal tubuh, Mama bisa segera mengambil tindakan sebelum kondisinya makin parah.
Berikut Popmama.com akan membahas tentang 10 tanda tubuh kekurangan oksigen. Yuk simak pembahasan berikut ini.
1. Nafas terasa pendek atau cepat

Sesak napas adalah salah satu tanda paling jelas tubuh sedang berjuang mendapatkan oksigen. Mama mungkin merasa nafas menjadi dangkal atau perlu bernapas lebih cepat dari biasanya.
Tubuh melakukan hal ini untuk mencoba memasukkan lebih banyak oksigen ke paru-paru. Sensasi seperti sulit menarik napas dalam juga bisa muncul.
Menurut American Lung Association, napas pendek adalah respons otomatis tubuh terhadap penurunan saturasi oksigen. Gejala ini dapat muncul saat aktivitas ringan maupun saat istirahat.
Jika Mama merasakannya berulang, ini sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Apabila merasakan terlalu sering, segera periksakan ke dokter.
2. Wajah atau bibir tampak kebiruan

Perubahan warna kulit, terutama pada bibir atau ujung jari, menandakan kadar oksigen dalam darah menurun. Warna kebiruan muncul karena darah tidak membawa cukup oksigen ke jaringan tubuh.
Mama mungkin menyadari bibir tampak lebih pucat atau dingin. Kondisi ini disebut sianosis, dan merupakan tanda serius. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa sianosis terjadi ketika saturasi oksigen turun drastis.
Jika dibiarkan, tubuh dapat mengalami gangguan fungsi vital. Tanda ini memerlukan perhatian cepat agar tidak berkembang lebih berat.
3. Mudah lelah meski tidak banyak aktivitas

Ketika oksigen berkurang, sel-sel tubuh tidak bisa menghasilkan energi dengan optimal. Akibatnya, Mama merasa cepat lelah meski aktivitasnya ringan.
Rasa lelah ini biasanya tidak membaik meski sudah beristirahat. Mama juga bisa merasa lemas di pagi hari meski tidur cukup. Menurut Harvard Medical School, kekurangan oksigen membuat tubuh mengalihkan energi untuk fungsi dasar saja.
Inilah sebabnya stamina menurun drastis. Jika Mama merasa mudah capek tanpa sebab jelas, ini bisa jadi tanda hipoksia awal.
4. Sakit kepala yang muncul tiba-tiba

Otak membutuhkan oksigen dalam jumlah besar untuk bekerja dengan baik. Saat kadar oksigen berkurang, pembuluh darah di otak melebar dan memicu sakit kepala.
Mama mungkin merasakan nyeri berdenyut, sensasi berat, atau pusing berputar. Kondisi ini bisa semakin intens saat Mama beraktivitas. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sakit kepala akibat hipoksia sering muncul mendadak.
Gejala juga bisa disertai konsentrasi yang menurun. Jika Mama sering mengalaminya, tubuh mungkin sedang kekurangan oksigen.
5. Detak jantung menjadi lebih cepat

Ketika oksigen rendah, jantung bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Inilah yang membuat Mama merasakan jantung berdebar atau berlari lebih cepat dari biasanya.
Detak jantung yang meningkat tanpa alasan jelas adalah tanda tubuh sedang berjuang. Mama mungkin juga merasakan dada berdebar atau ritme jantung tidak teratur.
Menurut American Heart Association, peningkatan denyut jantung adalah mekanisme kompensasi alami tubuh saat oksigen menurun. Jika ini terjadi berulang, Mama perlu lebih waspada. Jangan anggap remeh karena bisa menandakan masalah serius.
6. Kebingungan atau sulit konsentrasi

Otak sangat sensitif terhadap perubahan oksigen. Ketika tubuh kekurangan oksigen, kemampuan berpikir menurun. Mama mungkin merasa sulit fokus, bingung, atau sering lupa apa yang baru dilakukan.
Beberapa orang bahkan merasa seperti “melayang” atau tidak stabil. Menurut Journal of Neuroscience, penurunan oksigen dalam waktu singkat saja sudah cukup mengganggu fungsi saraf.
Jika Mama merasa sulit memproses informasi atau lambat merespons, ini bisa menjadi sinyal tubuh kurang oksigen. Gejala ini sering muncul bersamaan dengan pusing atau sakit kepala.
7. Kulit terasa dingin dan lembap

Saat oksigen berkurang, tubuh mengalihkan aliran darah ke organ penting seperti jantung dan otak. Akibatnya, kulit menjadi lebih dingin dan lembab karena aliran darah ke permukaan berkurang.
Mama mungkin merasakan kulit seperti basah dan dingin saat disentuh. Kondisi ini juga bisa membuat tangan dan kaki lebih cepat terasa dingin.
Mayo Clinic menjelaskan bahwa kulit dingin adalah tanda tubuh sedang berada dalam mode “hemat energi” akibat kekurangan oksigen.
Jika gejala ini muncul bersamaan dengan pucat atau napas cepat, Mama harus lebih waspada. Tubuh sedang mengirim sinyal penting.
8. Mual hingga ingin muntah

Sistem pencernaan juga dipengaruhi oleh kadar oksigen dalam darah. Ketika oksigen menurun, aliran darah ke saluran cerna berkurang sehingga muncul mual.
Mama mungkin merasa tidak nyaman di perut, ingin muntah, atau kehilangan nafsu makan. Gejala ini sering muncul bersamaan dengan pusing.
Menurut Cleveland Clinic, mual adalah respons alami tubuh saat suplai oksigen tidak mencukupi. Kondisi ini bisa meningkat jika Mama berdiri terlalu cepat atau kurang istirahat. Jangan abaikan jika gejalanya terjadi berulang.
9. Kram otot atau tubuh gemetar

Otot membutuhkan oksigen untuk berkontraksi dengan baik. Ketika oksigen rendah, otot menjadi cepat lelah dan tegang. Mama mungkin merasakan kram, kedutan, atau gemetar di beberapa bagian tubuh.
Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harian. National Institutes of Health (NIH) menjelaskan bahwa kurangnya oksigen membuat sel otot kehabisan energi.
Inilah yang memicu kontraksi tidak normal. Jika Mama sering mengalami kram tanpa sebab jelas, bisa jadi otot sedang kekurangan oksigen.
10. Mengantuk berlebihan atau sulit tetap terjaga

Rasa kantuk yang muncul berlebihan dapat menandakan otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Mama mungkin merasa sulit membuka mata, mudah mengantuk meski tidur cukup, atau merasa ingin tidur sepanjang hari.
Tubuh mencoba menghemat energi agar oksigen yang ada bisa digunakan lebih efisien. Menurut Sleep Foundation, mengantuk ekstrem sering muncul pada orang yang mengalami hipoksia ringan hingga sedang.
Jika Mama merasa “berat” dan sulit tetap terjaga, jangan abaikan. Bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal penting. Mama, kekurangan oksigen bukan kondisi yang boleh disepelekan karena dapat memengaruhi banyak fungsi penting di dalam tubuh.
Dari nafas yang terasa pendek hingga sulit berkonsentrasi, semua gejala itu adalah cara tubuh memberitahu bahwa ada yang tidak beres.
Dilansir dari American Lung Association dan CDC menegaskan bahwa tanda-tanda hipoksia bisa berkembang cepat, sehingga penting bagi Mama untuk mengenalnya sejak awal.
Untuk menjaga tubuh tetap optimal, Mama perlu memperhatikan kesehatan pernapasan, mencukupi cairan, menjaga aktivitas fisik, dan segera mencari pertolongan medis bila gejala makin berat.
Dengan peka terhadap 10 tanda tubuh kekurangan oksigen yang muncul, Mama bisa mencegah kondisi semakin parah dan menjaga tubuh tetap bugar.


















