“Dia nggak ada bilang apa-apa, cuma nyamperin kita, bilang, ‘Mom, I'm ready to go home’,” jelas Mama Sari di video Tiktok-nya itu.
Mama Ini Curhat Anaknya Dirundung di Amerika, Diduga Diusap Kotoran

James, anak berusia 5 tahun, diduga mengalami perlakuan bullying dari anak lain saat bermain di pertandingan voli di Amerika Serikat.
James baru bercerita setelah menangis dan berkali-kali meminta baju favoritnya segera dicuci.
Orangtua dianjurkan memperhatikan perubahan perilaku, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mencari bantuan saat anak menghadapi situasi tidak aman.
Seorang Mama pemilik akun TikTok @sariamerikano membagikan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami anaknya, James, saat berada di Amerika Serikat. Sang anak yang masih berusia 5 tahun diduga mendapat perlakuan bullying dari anak lain yang juga berusia sama.
Dalam ceritanya, James tidak langsung menceritakan kejadian tersebut kepada sang Mama. Ia baru membuka diri setelah pulang ke rumah dan berkali-kali meminta baju favoritnya segera dicuci.
Berikut Popmama.com rangkum kisahnya beserta hal yang bisa diperhatikan orangtua ketika anak mengalami bullying.
Table of Content
1. Anak Mama Sari awalnya hanya bilang harinya tidak menyenangkan

Freepik/master1305 Kejadian bermula ketika keluarga mereka datang ke sebuah pertandingan voli. Anak sang Mama, James meminta izin untuk bermain bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian, James kembali dan hanya mengatakan bahwa dirinya sudah ingin pulang.
Setelah pulang, James masih menjalani aktivitas seperti biasa. Namun saat makan malam, ia sempat mengungkapkan bahwa harinya tidak berjalan menyenangkan.
“Pas makan malam dia ada bilang, ‘I didn't have a good day today.’ Tapi kita habis itu bahas yang lain lagi,” ungkap Mama Sari.
Kalimat sederhana seperti ini ternyata menjadi tanda awal bahwa ada sesuatu yang membuat James merasa tidak nyaman.
2. Baru cerita setelah menangis dan meminta bajunya segera dicuci

Pexels/Mikhail Nilov James baru terbuka ke Sari saat malam hari menjelang tidur. Ia berkali-kali meminta Mamanya segera mencuci baju favoritnya yang dipakai hari itu saat bermain bersama teman-temannya. Sang Mama awalnya menyarankan agar baju tersebut dicuci keesokan pagi.
Namun, James terus bersikeras hingga akhirnya menangis selama 40 menit. James baru mengungkap alasan dirinya ingin baju tersebut segera dicuci.
“Mom, you must wash that banana shirt, because his friend wiped poop on it,” tutur Mama Sari mengulang ucapan anaknya.
Menurut cerita James, seorang anak meminta dirinya menemani pergi ke toilet. Di sana, anak tersebut diduga menunjukkan tisu toilet yang terkena kotoran dan kemudian mengusapkannya kepada James.
James berusaha lari, tetapi menurut ceritanya ia kemudian dikejar dan dicekik beberapa kali.
“Langsung anakku lari, dikejar sama dia, nggak sampai cuma beberapa step, dicekik lehernya. Dicekiknya itu nggak main-main, sampai enam-tujuh kali,” jelas Mama Sari.
3. Sang Mama kemudian mendatangi sekolah

Pexels/RDNE Stock project Setelah kejadian itu, James mengatakan tidak ingin pergi ke sekolah. Sang Mama kemudian memeriksa baju anaknya yang berada di ruang laundry dan mengaku menemukan noda kecokelatan pada pakaian tersebut.
Ia akhirnya mencuci baju itu karena James memang meminta demikian. Namun setelahnya, ia menyadari bahwa pakaian tersebut sebenarnya bisa disimpan sebagai bukti ketika berbicara dengan pihak sekolah.
Sang Mama juga mengungkap bahwa James sebelumnya sudah beberapa kali mengatakan anak yang sama bersikap kurang baik kepadanya. Saat itu, orangtuanya hanya meminta James mengabaikannya.
“Itu salahnya kita sebagai parent, bilangnya, ‘Ya sudah, biarin aja. Ignore aja.’ No,” tegas Mama Sari.
Peristiwa disebut terjadi pada hari Kamis. Keesokan harinya, sang Mama datang ke sekolah dan menanyakan kejadian tersebut kepada anak yang diduga terlibat. Tak lama kemudian, seorang guru datang dan sang Mama menceritakan apa yang dialami James kepada pihak sekolah.
4. Anak yang tiba-tiba tidak mau sekolah bisa menjadi warning bagi orangtua

Freepik/gpointstudio Cerita James dari video Tiktoknya menunjukkan bahwa anak tidak selalu langsung menceritakan pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya.
Sebenarnya ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan orangtua dari anak yang kemungkinan menjadi korban bullying, berikut beberapa diantaranya:
Anak tiba-tiba tidak ingin pergi ke sekolah- Mengalami gangguan tidur
- Kehilangan atau mengalami kerusakan pada barang pribadi
- Menarik diri dari pergaulan
- Mengalami perubahan emosi atau perilaku
Namun, tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying karena bisa juga berkaitan dengan masalah lain.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan orangtua melakukan percakapan tanpa menghakimi ketika melihat perubahan pada anak. Anak bisa saja belum siap bercerita karena merasa malu, takut, atau bingung dengan apa yang baru dialaminya.
Karena itu, ketika anak tiba-tiba mengatakan, “Aku nggak mau sekolah,” atau “Hari ini nggak menyenangkan,” orangtua bisa mencoba menggali ceritanya dengan pertanyaan terbuka dan suasana yang tenang.
5. Jangan hanya minta anak mengabaikan bullying, dengarkan dan bantu cari solusi

Pexels/Mikhail Nilov Hal yang juga disadari Mama James dari pengalaman tersebut adalah pentingnya tidak selalu meminta anak “mengabaikan saja” ketika berkali-kali mengeluhkan perilaku teman.
Mama Sari sebagai orangtua menjaga komunikasi terbuka, mendengarkan cerita anak, mencari tahu apa yang terjadi, serta bekerja sama dengan sekolah apabila diperlukan. Ketika anak menghadapi situasi yang tidak aman, mereka juga dianjurkan untuk menjauh dan mencari bantuan orang dewasa yang dipercaya, bukan membalas dengan kekerasan.
Bila kejadian melibatkan kekerasan fisik, langkah pertama adalah memastikan kondisi anak aman dan menangani kebutuhan medis maupun psikologis yang mendesak. Orang dewasa juga sebaiknya tidak menganggap anak-anak akan selalu mampu menyelesaikan persoalan tersebut sendiri tanpa bantuan.
Dari cerita ini, orangtua bisa belajar untuk lebih peka terhadap perubahan kecil pada anak. Mendengarkan tanpa menyalahkan dan menunjukkan bahwa anak memiliki tempat aman untuk bercerita dapat membantu orangtua memahami apa yang sebenarnya sedang mereka alami.























