Penyebab Anak Jadi Pelaku Bullying Menurut Pakar, Apakah Meniru Perilaku Orangtua?

Pakar menilai anak dapat meniru pola komunikasi, konflik, atau kekerasan yang dilihat di rumah, terutama dalam keluarga otoriter atau tanpa teladan perilaku positif.
Dorongan menguasai teman, empati rendah, pengalaman pernah dirundung, serta emosi tidak stabil dan masalah kesehatan mental dapat meningkatkan perilaku agresif anak.
Tekanan teman sebaya, penguatan sosial terhadap tindakan agresif, serta kurangnya pengawasan dan batasan konsisten dari orangtua maupun sekolah memberi ruang bagi perundungan.
Kasus perundungan atau bullying pada anak di Pemalang menjadi alarm untuk para orangtua.
Bahwa kasus bullying merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Mulai dari dinamika keluarga, kondisi psikologis individu, hingga pengaruh lingkungan sosial.
Dengan memahami penyebab anak jadi pelaku bullying menjadi penting supaya orangtua untuk melakukan pencegahan secara tepat dari dalam rumah maupun sekolah.
Menjadi cara untuk mencegah perilaku bullying. Berikut rangkuman Popmama.com mengenai penyebab anak jadi pelaku bullying menurut pakar.
Table of Content
Meniru Perilaku Mama di Rumah

Pexels/Tiger Lily Karena anak adalah peniru yang sangat kuat. Perilaku Mama di rumah bisa memengaruhi kondisi mental anak, lho!
Menurut Psikolog Klinis Olphi Disya Arinda, M.Psi. dan AAP, anak kerap meniru pola komunikasi hingga cara menyelesaikan konflik yang anak lihat dari figur teladan di rumah.
Bahkan penelitian Harsono & Febriyana (2026) menegaskan bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga otoriter atau sering menyaksikan kekerasan fisik maupun verbal cenderung menginternalisasi kebiasaan tersebut sebagai cara untuk mendominasi orang lain.
Oleh karena itu, Mama dan Papa sebagai suri tauladan anak di rumah harus menjaga sikap supaya anak tidak meneruskan perilaku kurang baik ke teman sebayanya.
Keinginan Memegang Kontrol dan Berkuasa

Pexels/RDNE Stock project Dorongan untuk merasa penting, memegang kendali, serta mendominasi posisi sosial di antara teman sebaya menjadi alasan kuat lainnya.
Hal ini menurut catatan AAP menyebutkan bahwa anak yang merasa kurang memiliki kontrol atas kehidupan pribadinya kerap mencari pelampiasan dengan mengintimidasi anak lain yang dianggap 'berbeda' atau lebih lemah.
Sejalan dengan itu Psikolog Olphi juga menjelaskan bahwa kebutuhan untuk merasa berkuasa ini sering kali dipicu oleh rasa cemas akan popularitas anak di sekolah atau kelompok bertemannya.
Rendahnya Empati

Pexels/RDNE Stock project Tingkat kecerdasan emosional yang rendah ternyata jadi salah satu faktor internal utama anak jadi pelaku bullying.
Seperti berdasarkan studi ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of the Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry (2026). Bahwa kecerdasan emosional yang meliputi regulasi emosi, empati, dan keterampilan interpersonal sangat berbanding terbalik dengan perilaku bullying.
Riset tersebut menjelaskan bahwa anak dengan tingkat empati rendah umumnya memiliki resolusi konflik yang buruk serta kemampuan regulasi emosi yang lemah.
Alhasil lebih mudah beralih menjadi pelaku perundungan saat berinteraksi sosial.
Sejalan dengan hal itu, Psikolog Olphi Disya Arinda, M.Psi. juga menegaskan bahwa tanpa penanaman empati sejak dini di rumah, anak tidak memiliki 'rem emosional' untuk memahami rasa sakit yang dirasakan oleh korbannya.
Pernah menjadi Korban Perundungan Sebelumnya

Pexels/RDNE Stock project Mama ternyata banyak pelaku perundungan sebenarnya adalah anak-anak yang sebelumnya pernah menjadi korban perundungan, lho!
Hal ini berdasarkan temuan dalam Journal of the Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry (Harsono & Febriyana, 2026) bahwa anak yang pernah mengalami kekerasan cenderung mengadopsi perilaku agresif sebagai mekanisme pertahanan diri yang keliru.
Masih berdasarkan riset tersebut, menjelaskan bahwa hal ini memicu lingkaran perundungan atau cycles of intergenerational or peer aggression.
Di mana rasa cemas, trauma, dan ketakutan dikompensasi dengan cara menindas orang lain.
Tidak hanya itu American Academy of Pediatrics (AAP) juga mencatat bahwa korban perundungan sering kali berubah menjadi agresor untuk merebut kembali rasa aman dan kendali atas diri mereka yang sempat hilang.
Emosi Tidak Stabil dan Kondisi Kesehatan Mental

Pexels/Meryl Cusinato Tidak hanya itu, ketika anak mengalami pengendalian emosi yang tidak stabil juga memicu ia menjadi pelaku bullying.
Faktor temperamen bawaan dan gangguan kesehatan mental jadi memegang peranan.
Anak yang mudah marah, tentunya memiliki kemampuan regulasi emosi yang buruk.
Ketika anak mengidap kondisi seperti Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), Oppositional Defiant Disorder (ODD), serta depresi yang tidak tertangani memiliki risiko lebih tinggi menampilkan perilaku agresif dan perundungan proaktif.
Untuk itu, Mama bisa memeriksa terlebih dahulu kondisi anak sebelum melabeli atau menyalahkan anak.
Pengaruh Teman Sebaya dan Tekanan Kelompok

Pexels/Mikhail Nilov Sebelumnya mungkin Mama berpikir bahwa penyebab anak menjadi pelaku bullying berdasarkan faktor internal anak dan parenting keluarga.
Namun, faktanya nih Ma terdapat faktor eksternal yaitu tekanan dari teman si Anak.
Jadi anak-anak sering kali ikut-ikutan melakukan perundungan demi mempertahankan status sosial, supaya dianggap 'keren', atau takut menjadi sasaran bullying berikutnya jika tidak bergabung.
Hal ini sejalan dengan temuan riset Harsono & Febriyana (2026) dalam Journal of the Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry yang menjelaskan Social Learning Theory.
Menurut studi tersebut, anak menginternalisasi perilaku agresif yang mereka lihat pada kelompok sebayanya karena mendapatkan penguatan sosial seperti pujian, tawa, atau penerimaan dari teman-teman saat merendahkan orang lain.
Kurangnya Pengawasan dan Batasan yang Jelas dari Mama

Pexels/RDNE Stock project American Academy of Pediatrics (AAP) dan studi Harsono & Febriyana (2026) mengungkapkan bahwa kurangnya pengawasan Mama serta ketiadaan aturan batasan perilaku yang jelas memberikan celah besar bagi anak.
Hal ini ditegaskan pula oleh Psikolog Olphi Disya Arinda, M.Psi., yang mengingatkan pentingnya pengawasan orangtua, termasuk dalam aktivitas digital anak mama.
Tanpa bimbingan yang konsisten dan penerapan konsekuensi dari rumah maupun sekolah, anak akan menganggap tindakan menyakiti, mengucilkan, atau merendahkan orang lain sebagai hal biasa.
Yang lebih parahnya sampai menganggap perbuatan tidak terpuji itu tidak memiliki dampak hukum atau psikologis yang serius.
Demikian penyebab anak jadi pelaku bullying menurut pakar. Dengan mengetahui penyebab tersebut Mama dapat mencegah anak dari perbuatan yang tidak terpuji ini. Semoga artikel ini bermanfaat.
























