"Ketika kita ngomong gentle parenting itu bukan berarti semuanya harus lurus, nggak ada aturan, nggak ada batasan. Tapi sebenarnya lebih ke bagaimana prosesnya, bagaimana memberikan aturan ketika harus ada alasannya," jelas Saskhya.
Psikolog Saskhya Aulia Tegaskan Gentle Parenting Bukan Berarti Tanpa Aturan

Psikolog Saskhya Aulia Prima menegaskan gentle parenting tetap memerlukan aturan dan batasan. Perbedaannya dengan pola konvensional terletak pada cara orangtua menyampaikan alasan aturan.
Orangtua tetap memegang kendali: sebagian batasan, seperti jam pulang terkait keamanan dan tanggung jawab, bersifat mutlak, sementara aturan lain dapat didiskusikan.
Mendengarkan alasan anak dan mengajak mencari solusi membantu orangtua memahami kebutuhannya, sekaligus melatih anak menyampaikan pendapat serta menetapkan tujuan.
Istilah gentle parenting kerap disalahartikan sebagai pola asuh yang membebaskan anak tanpa aturan maupun batasan. Padahal, pola asuh ini tetap membutuhkan ketegasan orangtua, tetapi dengan cara penyampaian yang lebih mengedepankan komunikasi dan pemahaman.
Psikolog Saskhya Aulia Prima turut meluruskan pemahaman tersebut saat menjadi narasumber dalam sesi talkshow Family Happy Day di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (27/9/2026). Saskhya menjelaskan bahwa perbedaan gentle parenting dengan pola asuh konvensional bukan terletak pada ada atau tidaknya aturan, melainkan bagaimana orangtua menerapkan aturan tersebut kepada anak.
Menurut Saskhya, memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat bukan berarti orangtua kehilangan kendali dalam menentukan batasan. Justru, komunikasi yang terbuka dapat membantu anak memahami alasan di balik aturan yang diberikan.
Berikut Popmama.com rangkum penjelasan psikolog Saskhya Aulia Prima soal gentle parenting yang tetap memiliki aturan dan batasan.
Table of Content
1. Gentle parenting tetap membutuhkan aturan dan batasan

Instagram.com/saskhya Saskhya menegaskan bahwa gentle parenting bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti atau orangtua membiarkan anak tanpa aturan.
Menurutnya, batasan tetap diperlukan dalam pengasuhan karena orangtua memiliki peran untuk memberikan arah dan menjaga anak.
Perbedaannya terletak pada cara aturan tersebut diberikan kepada anak, terutama dengan menyertakan alasan yang dapat dipahami.Â
2. Ada aturan yang tidak bisa dinegosiasikan

Popmama.com/Aril Tri Yusgiantara Meski mengutamakan komunikasi, Saskhya menjelaskan bahwa tidak semua aturan harus dibicarakan atau dinegosiasikan dengan anak. Ia membagi aturan dalam pengasuhannya menjadi batasan yang bersifat mutlak dan aturan lain yang masih dapat didiskusikan bersama.
Salah satu contohnya adalah aturan mengenai batas waktu pulang yang berkaitan dengan keamanan dan tanggung jawab anak.
Untuk aturan yang masih bisa didiskusikan, Saskhya memilih meminta anak memberikan alasan sebelum dirinya memutuskan untuk mengiyakan permintaan tersebut.
3. Diskusi dengan anak bisa melatih goal setting

Instagram.com/saskhya Anak-anak Gen Alpha dinilai semakin kritis dan tidak jarang memiliki banyak argumen ketika berhadapan dengan sebuah aturan.
Saskhya menyarankan orangtua tidak langsung menolak atau terpancing emosi, tetapi mendengarkan alasan anak untuk mengetahui kebutuhan yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.
Menurutnya, orangtua dapat mengajak anak mencari cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus melatih kemampuan menetapkan tujuan sejak dini.Â
"Biasanya kalau dia udah mulai banyak argumentatif, aku nanya, 'Kasih alasannya kenapa aku harus mengiyakan kamu.' Dari situ kelihatan kebutuhannya dan sekalian mengajarkan goal setting," tuturnya.
Penerapan gentle parenting yang dijelaskan Saskhya menunjukkan bahwa orangtua tetap memiliki kendali dalam menetapkan aturan, termasuk batasan yang tidak dapat dinegosiasikan. Namun, ketika situasinya memungkinkan, anak dapat dilibatkan dalam diskusi agar mereka memahami alasan dan belajar menyampaikan kebutuhan dengan baik.
Dengan begitu, gentle parenting bukan berarti menghilangkan aturan dari kehidupan anak, melainkan mengubah cara orangtua dalam memberikan dan menjelaskan batasan tersebut. Pendekatan ini juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar memahami alasan, menyampaikan pendapat, serta menentukan tujuan dari keinginannya.
Itulah rangkuman penjelasan psikolog Saskhya Aulia Prima mengenai gentle parenting yang tetap mengedepankan aturan dan batasan bagi anak.
Aturan yang disampaikan dengan alasan dan ruang diskusi dapat membantu anak belajar memahami batasan tanpa menghilangkan peran orangtua sebagai pemberi arah.






















