Inti dari kegagalan gentle parenting sering kali terletak pada ketidakseimbangan antara kehangatan yang diberikan dengan ketegasan batasan yang seharusnya menyertai pertumbuhan si Kecil dalam lingkungan keluarga yang sehat.
Si Kecil yang terbiasa hidup tanpa aturan yang pasti akan mengalami kesulitan besar ketika mereka harus berhadapan dengan lingkungan luar yang memiliki aturan sosial yang jauh lebih kaku dan tidak memihak pada keinginan pribadi mereka.
Pezalla dan Davidson (2024) memberi peringatan keras bahwa penerapan yang salah ini dapat memicu masalah perilaku yang serius.
"Gentle parenting can work to build strong bonds, emotional regulation, and empathy in children, but it is not a magical formula and is often misapplied as permissive parenting, which can create behavior issues."
Parenting yang hanya mengandalkan kelembutan tanpa adanya kontrol otoritas akan membuat si Kecil merasa bahwa dunia berputar di sekitar keinginan mereka sehingga mereka gagal mengembangkan empati serta kemampuan untuk menunda kepuasan diri demi kepentingan bersama.
Si Kecil membutuhkan batasan untuk belajar bahwa perasaan mereka memang valid namun perilaku mereka tetap harus mengikuti etika dan aturan yang berlaku di dalam rumah maupun masyarakat.
Jika orangtua membiarkan si Kecil memenangkan setiap argumen maka orangtua tersebut secara tidak sadar sedang menghambat kemampuan si Kecil untuk menghadapi kegagalan dan kekecewaan yang pasti akan mereka temui saat dewasa nanti di dunia kerja maupun kehidupan sosial yang sebenarnya.