Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

9 Contoh Authoritative Parenting untuk Anak, Terapkan di Rumah!

9 Contoh Authoritative Parenting untuk Anak, Terapkan di Rumah!
Freepik
Intinya Sih
  • Authoritative parenting membantu orangtua menyeimbangkan ketegasan dan kehangatan agar anak merasa aman sekaligus memahami batasan.

  • Penerapannya dilakukan lewat komunikasi, validasi emosi, pilihan terbatas, serta konsistensi aturan dan konsekuensi.

  • Dengan pendekatan ini, anak tumbuh merasa didukung, mampu mengelola emosi, dan tetap memahami aturan yang jelas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menerapkan pola asuh yang tegas tapi tetap hangat memang tidak selalu mudah. Di satu sisi, si Kecil perlu batasan yang jelas agar mereka tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Di sisi lain, mereka juga butuh rasa aman dan dukungan emosional dari orangtua.

Authoritative parenting jadi salah satu pendekatan yang bisa membantu orangtua menetapkan batasan tanpa harus membentak si Kecil. Pola asuh ini menggabungkan ketegasan dengan kehangatan, memberikan struktur sekaligus dukungan emosional.

Dengan cara ini, si Kecil tetap merasa didengar sekaligus belajar memahami aturan. Mereka tidak merasa dikekang atau ditolak, tetapi justru merasa aman karena tahu ada batasan yang melindungi mereka.

Berikut Popmama.com rangkum contoh authoritative parenting yang bisa Mama terapkan!

Table of Content

1. Tetapkan batasan dengan tenang dan konsisten

1. Tetapkan batasan dengan tenang dan konsisten

Papa melihat anak marah
Freepik/karlyukav

Si Kecil boleh tidak suka dengan aturan yang ditetapkan, dan itu sangat wajar. Namun yang perlu dipahami adalah bahwa ketidaksukaan si Kecil tidak berarti aturan harus diubah atau dihapuskan.

Saat menetapkan batasan, lakukan dengan suara yang tenang dan tidak emosional. Hindari nada mengancam atau membentak yang justru membuat si Kecil fokus pada emosi Mama, bukan pada aturan yang disampaikan.

Konsistensi adalah kunci utama dalam authoritative parenting. Aturan yang hari ini berlaku harus tetap berlaku besok dan lusa. Jika aturan berubah-ubah tergantung mood orangtua, si Kecil akan bingung dan tidak menganggap serius batasan yang ditetapkan.

Contohnya, jika aturannya adalah tidak boleh main gadget setelah jam 8 malam, maka aturan ini harus konsisten diterapkan setiap hari. Meski si Kecil menangis atau merengek, tetap pada keputusan yang sudah dibuat.

Jelaskan alasan di balik aturan dengan bahasa yang bisa dipahami si Kecil. Misalnya, "Tidak boleh main gadget setelah jam 8 karena mata perlu istirahat dan kamu harus tidur agar besok segar."

Ketegasan bukan berarti kasar. Mama bisa tegas tanpa harus marah atau membentak. Suara yang tenang tapi konsisten justru lebih efektif daripada teriakan yang membuat si Kecil takut.

2. Validasi emosi tanpa mengubah keputusan

Anak merajuk
Freepik

Salah satu kunci authoritative parenting adalah kemampuan untuk memvalidasi perasaan si Kecil sambil tetap pada batasan yang sudah ditetapkan. Ini adalah keseimbangan yang tidak mudah tapi sangat penting.

Dengarkan perasaan si Kecil saat mereka marah, kecewa, atau sedih karena aturan yang ditetapkan. Akui bahwa perasaan mereka valid dan bisa dipahami. "Mama tahu kamu kecewa tidak bisa nonton lagi. Mama mengerti."

Validasi emosi ini sangat penting karena membuat si Kecil merasa didengar dan dipahami. Mereka belajar bahwa perasaan mereka penting, meski tidak selalu bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat.

Namun, validasi emosi bukan berarti mengubah aturan. Setelah mengakui perasaan si Kecil, tetap pada batas yang sudah ditentukan. "Mama tahu kamu kecewa, tapi aturannya tetap tidak boleh nonton setelah jam 8."

Anak yang emosinya divalidasi akan lebih mudah menerima batasan. Mereka tidak merasa ditolak atau diabaikan, tetapi mereka juga belajar bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi.

Hindari meremehkan perasaan si Kecil dengan kalimat seperti "Ah, kecil gini doang kok sedih." Bagi si Kecil, perasaan mereka sama nyatanya dengan perasaan orang dewasa dan perlu dihormati.

3. Ajarkan untuk mengekspresikan emosi dengan tepat

Anak bermain dengan mainan
Freepik

Si Kecil boleh marah, sedih, atau kecewa. Emosi-emosi ini adalah bagian normal dari kehidupan dan tidak boleh ditekan. Yang perlu diajarkan adalah cara mengekspresikan emosi tersebut dengan tepat.

Boleh marah, tapi tidak boleh menyakiti orang lain. Boleh kecewa, tapi tidak boleh melempar barang atau merusak. Batasan ini perlu dijelaskan dengan jelas pada si Kecil sejak dini.

Berikan alternatif cara mengekspresikan emosi yang lebih sehat. Misalnya, jika marah, si Kecil bisa meremas bantal, menggambar dengan keras di kertas, atau berlari-lari di halaman untuk melepaskan energi negatif.

Ajarkan si Kecil untuk menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan mereka. "Aku marah karena mainanku diambil" adalah cara yang jauh lebih baik daripada langsung memukul.

Berikan contoh dari Mama sendiri. Saat Mama merasa kesal, tunjukkan bagaimana Mama mengelola emosi dengan cara yang sehat. "Mama sedang kesal sekarang, jadi Mama mau minum air dulu dan tarik napas."

Puji si Kecil saat mereka berhasil mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat. "Mama bangga kamu bisa bilang kamu marah dengan kata-kata, tidak langsung mukul."

4. Bantu tenangkan saat emosi

Anak bermeditasi
Freepik

Saat si Kecil sedang dalam keadaan emosi yang tinggi, mereka sering kali tidak bisa langsung tenang dengan sendirinya. Mereka butuh bantuan orangtua untuk menstabilkan sistem saraf mereka.

Dampingi si Kecil sampai tubuh dan emosinya lebih stabil. Kehadiran fisik Mama yang tenang bisa membantu si Kecil merasa lebih aman dan perlahan menurunkan intensitas emosinya.

Jangan memaksa si Kecil untuk langsung tenang atau berhenti menangis. Perintah seperti "Sudah, jangan nangis lagi!" justru bisa membuat si Kecil merasa tidak didengar dan menangis semakin keras.

Tawarkan pelukan atau sentuhan lembut jika si Kecil mau. Beberapa anak merasa lebih tenang dengan pelukan, tapi ada juga yang butuh ruang sendiri dulu.

Ajak si Kecil untuk bernapas dalam-dalam bersama Mama. Tarikan napas yang dalam dan lambat bisa membantu menurunkan detak jantung dan membuat tubuh lebih rileks.

Setelah si Kecil lebih tenang, baru bisa mulai bicara tentang apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan ke depannya. Saat si Kecil masih sangat emosional, otak rasional mereka tidak bisa berfungsi dengan baik.

5. Berikan pilihan sederhana

Mama dan anak bersama
Freepik/gpointstudio

Memberikan pilihan pada si Kecil adalah cara untuk menghormati mereka sambil tetap menjaga kontrol sebagai orangtua. Pilihan-pilihan ini harus diberikan dalam batasan yang sudah jelas.

Misalnya, saat harus pergi keluar rumah, bukan bertanya "Kamu mau pergi atau tidak?" karena jawaban "tidak" bukan pilihan yang tersedia. Lebih baik, "Kita harus pergi sekarang. Kamu mau jalan sendiri atau mau Mama gendong?"

Pilihan sederhana seperti ini membuat si Kecil merasa punya kontrol atas situasi meski keputusan utama (yaitu harus pergi) sudah ditetapkan oleh orangtua.

Contoh lain, saat waktu tidur."Sekarang waktunya tidur. Kamu mau gosok gigi dulu atau ganti baju dulu?" Kedua pilihan tetap mengarah pada tujuan yang sama yaitu bersiap untuk tidur.

Pilihan-pilihan ini juga melatih si Kecil untuk mengambil keputusan kecil yang sesuai usia mereka. Mereka belajar bahwa mereka punya atau kemampuan untuk mempengaruhi apa yang terjadi pada mereka.

Pastikan semua pilihan yang ditawarkan adalah pilihan yang Mama bisa terima. Jangan menawarkan pilihan yang sebenarnya Mama tidak inginkan karena ini hanya akan membingungkan si Kecil.

6. Tegaskan aturan untuk menjaga keamanan

Anak duduk di car seat
Freepik/jcomp

Ada situasi-situasi tertentu di mana tidak ada ruang untuk negosiasi karena menyangkut keselamatan si Kecil. Dalam situasi seperti ini, orangtua harus benar-benar memegang kendali penuh.

Contohnya adalah aturan tentang keamanan seperti harus pakai car seat di mobil, tidak boleh main di jalan, atau harus pegang tangan saat menyeberang. Aturan-aturan ini tidak bisa ditawar karena langsung berkaitan dengan keselamatan jiwa.

Jelaskan pada si Kecil dengan tegas tapi tenang mengapa aturan ini tidak bisa dilanggar. "Kamu harus pakai car seat karena ini yang melindungi kamu kalau mobil berhenti mendadak."

Jangan merasa bersalah untuk sangat tegas dalam masalah keselamatan. Ini bukan tentang mengontrol si Kecil, tapi tentang melindungi mereka dari bahaya yang mereka belum bisa pahami sepenuhnya.

Jika si Kecil menolak atau tantrum, tetap konsisten. Mobil tidak jalan sebelum car seat terpasang dengan benar, tidak peduli seberapa lama si Kecil menangis.

Konsistensi dalam aturan keselamatan akan membuat si Kecil akhirnya paham bahwa ini adalah tidak bisa dinegosiasi. Setelah beberapa kali, mereka akan berhenti melawan karena tahu hasilnya selalu sama.

7. Berikan pilihan disertai konsekuensi yang jelas

Tangan memilih
Freepik

Mengajarkan si Kecil tentang konsekuensi adalah bagian penting dari authoritative parenting. Si Kecil perlu belajar bahwa setiap pilihan yang mereka ambil punya akibat, baik positif maupun negatif.

Sampaikan pilihan dengan konsekuensinya dengan jelas sejak awal. "Kamu bisa pilih main dengan tenang atau kita pulang sekarang." Biarkan si Kecil memilih dengan informasi yang lengkap.

Yang penting adalah Mama harus benar-benar mengikuti aturan dengan konsekuensi yang disampaikan. Jika si Kecil tetap main dengan kasar setelah diberi peringatan, maka harus benar-benar pulang seperti yang dikatakan.

Konsistensi dalam menjalankan konsekuensi adalah yang membuat si Kecil belajar. Jika Mama hanya mengancam tapi tidak pernah melaksanakan, si Kecil akan belajar bahwa kata-kata Mama tidak perlu didengarkan.

Konsekuensi harus logis dan berhubungan dengan perilaku. Jika si Kecil tidak mau makan siang, konsekuensinya adalah mereka akan lapar nanti, bukan kehilangan waktu main yang tidak ada hubungannya.

Hindari konsekuensi yang terlalu berat atau tidak realistis. "Kalau kamu tidak mau pakai sepatu, kita tidak jalan-jalan lagi selama sebulan" adalah ancaman yang tidak masuk akal dan tidak akan dilaksanakan.

8. Latih berkomunikasi dengan cara yang baik

Papa dan anak berbincang
Freepik

Komunikasi dua arah adalah fondasi dari authoritative parenting. Si Kecil perlu belajar bahwa suara mereka penting dan akan didengarkan, tapi dengan cara yang tepat.

Dengarkan si Kecil saat mereka berbicara dengan tenang dan sopan. Beri perhatian penuh, kontak mata, dan tunjukkan bahwa Mama benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan.

Namun, jika si Kecil berbicara dengan nada kasar, merengek, atau berteriak, jangan langsung merespons permintaan mereka. Ini mengajarkan bahwa cara komunikasi yang salah tidak akan mendapat hasil.

Ajarkan si Kecil kalimat-kalimat yang tepat untuk meminta sesuatu. "Mama, boleh aku minta air minum?" adalah cara yang jauh lebih baik daripada "Mama! Aku mau minum!"

Berikan contoh dengan cara Mama berkomunikasi dengan si Kecil. Gunakan bahasa yang sopan, nada yang tenang, dan kata-kata yang menghormati meski sedang menyampaikan aturan atau batasan.

Puji si Kecil saat mereka berhasil berkomunikasi dengan cara yang baik. "Terima kasih sudah meminta dengan sopan. Mama senang kamu bisa bicara dengan tenang."

9. Batasi pilihan agar anak tidak bingung

Mama memegang baju
Freepik/drobotdean

Memberikan terlalu banyak pilihan justru bisa membuat si Kecil sulit mengambil keputusan. Pilihan sederhana dengan jumlah terbatas adalah yang paling efektif untuk si Kecil.

Batasi pilihan menjadi dua atau maksimal tiga opsi. "Kamu mau pakai baju merah atau biru?" jauh lebih mudah untuk si Kecil daripada membuka lemari dan bilang "Pilih baju yang kamu mau."

Pilihan yang terbatas membantu si kecil belajar mengambil keputusan tanpa merasa terbebani. Mereka berlatih menimbang opsi dan memilih tanpa merasa kewalahan dengan terlalu banyak kemungkinan.

Pastikan semua pilihan yang ditawarkan adalah pilihan yang sesuai dengan situasi. Jangan menawarkan pilihan pakai baju renang kalau cuaca sedang dingin, karena ini hanya akan membingungkan.

Authoritative parenting memang membutuhkan usaha dan konsistensi yang tidak mudah. Tapi hasilnya sangat sepadan dengan usaha yang dikeluarkan. Dengan menerapkan authoritative parenting, Mama bisa membangun hubungan yang hangat sekaligus penuh batasan yang jelas. Si Kecil merasa dicintai dan didukung, tapi juga tahu ada struktur dan aturan yang harus diikuti.

Setiap anak unik dan mungkin merespons pendekatan yang sama dengan cara berbeda. Jadi, Mama perlu menyesuaikan strategi dengan temperamen dan kebutuhan anak Mama.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More