Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

6 Tips Menahan Amarah di Depan Anak

6 Tips Menahan Amarah di Depan Anak
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya orangtua mengendalikan amarah di depan anak karena luapan emosi dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan perkembangan emosional anak.
  • Dijelaskan enam tips utama, seperti mengambil jeda, berbicara lembut, berpelukan, berhitung, meningkatkan kesadaran emosional, serta mengingat tujuan pola asuh untuk menjaga hubungan sehat dengan anak.
  • Penelitian menunjukkan pengendalian emosi orangtua menciptakan rasa aman emosional yang menjadi fondasi kepercayaan diri dan kemampuan regulasi emosi anak hingga dewasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjadi orangtua sejatinya adalah proses yang tak mudah. Memenuhi kebutuhan jasmani hingga menjaga kebutuhan emosional tumbuh kembang anak merupakan salah satu hal penting yang tak luput dari tanggung jawab Mama sebagai orangtua.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari situasi tak terduga kerap kali terjadi baik rasa lelah, frustrasi, hingga amarah yang meledak hebat. Luapan emosi yang tidak terkontrol dinilai dapat berdampak buruk dan mengganggu kondisi psikis anak.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering terpapar amarah orangtua berisiko mengalami kecemasan hingga kesulitan mengelola emosi. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki strategi menahan amarah agar komunikasi dengan anak dapat tetap terjaga secara sehat.

Untuk memahami tips ini secara lebih mendalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum 10 tips menahan amarah di depan anak yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disimak, ya!

Table of Content

1. Ambil waktu sejenak

1. Ambil waktu sejenak

orangtua sedang membaca buku dan meminum kopi
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Saat emosi sedang memuncak, memberi jeda waktu adalah langkah pertama yang sangat penting untuk meredam amarah di depan anak. Berhenti sejenak membantu otak berpindah dari reaksi impulsif ke respon yang lebih rasional. Dengan menunda respons tersebut, Mama memiliki waktu untuk berpikir lebih jernih sebelum berbicara atau bertindak kepada anak.

Menurut studi, emosi marah dipicu oleh aktivasi amigdala di otak. Saat mengambil jeda, bagian prefrontal kortex yang berperan dalam pengambilan keputusan akan kembali aktif, sehingga respons menjadi lebih terkendali. Menggunakan jeda selama 30–60 detik terbukti dapat membantu menurunkan ketegangan emosi secara signifikan.

2. Bicara dengan nada lembut

orangtua sedang berbicara lembut dengan anak
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Nada suara memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional anak. Nada tinggi atau membentak dapat berdampak pada psikis anak, mulai dari merasa terancam, takut, hingga trauma yang panjang. Sebaliknya, ketika orangtua berbicara dengan nada yang lembut membantu menciptakan suasana rumah yang tenang dan kondusif.

Nada lembut juga memberi contoh langsung kepada anak bagaimana cara mengelola emosi secara sehat. Anak belajar bahwa masalah tidak harus diselesaikan dengan teriakan atau kemarahan, melainkan dengan komunikasi yang penuh empati.

Ketika Mama merasa kesal, usahakan memperlambat tempo bicara dan menurunkan volume suara. Meski terdengar sederhana, kebiasaan ini dapat membentuk pola komunikasi yang lebih positif dalam keluarga.

3. Peluk erat anak

anak dipeluk Mama
Freepik/prostooleh

Berpelukan merupakan salah satu tips sederhana yang bisa diterapkan orangtua untuk menahan amarah di depan anak. Sentuhan fisik berupa pelukan mampu merangsang pelepasan hormon oksitosin yang berperan dalam menciptakan rasa nyaman dan aman pada tubuh. Pelukan tak hanya menenangkan anak, tetapi juga membantu Mama untuk meredakan emosi yang sedang memuncak.

Hal ini juga dijelaskan dalam Jounal of Family Psychology, yang menyebutkan bahwa kontak fisik positif seperti pelukan, mampu menurunkan kadar hormon stres kortisol sekaligus meningkatkan perasaan tenang dan bahagia pada anak maupun orangtua.

Saat emosi sedang naik, mendekap anak dengan penuh kasih dapat menjadi pilihan sekaligus pengingat bahwa hubungan emosional jauh lebih penting daripada melampiaskan kemarahan sesaat. Pelukan yang tulus membuat anak merasa dicintai meskipun sedang melakukan kesalahan.

4. Latih teknik berhitung

Berhitung pakai jari
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Metode berhitung merupakan teknik klasik yang terbukti efektif dalam menahan amarah. Dengan menghitung secara perlahan dari satu hingga sepuluh, Mama memberi kesempatan pada otak untuk menurunkan intensitas emosi.

Teknik ini membantu mengalihkan fokus dari sumber kemarahan menuju aktivitas kognitif tubuh yang lebih baik. Tekni membuat respons emosi menjadi lebih stabil sehingga orangtua dapat berpikir lebih rasional sebelum bertindak.

Jika diperlukan, Mama bisa mengombinasikan metode berhitung dengan napas dalam agar efek menenangkan menjadi lebih maksimal.

Berikut cara sederhana yang dapat dipraktikkan saat menahan amarah:

  1. Tarik nafas perlahan melalui hidung selama 4 detik lalu hembuskan, ulangi berulang hingga emosi mereda.
  2. Hembuskan nafas secara perlahan melalui mulut, menghitung satu hingga sepuluh guna mendapatkan relaksasi yang optimal.
  3. Ulangi teknik ini sebanyak dua hingga tiga kali hingga tubuh terasa rileks.

Dengan latihan rutin, metode sederhana ini dapat membantu Mama merespons situasi sulit dengan jauh lebih tenang dan penuh empati terhadap si Kecil.

5. Membangun kesadaran Emotional Awareness

orang sedang meditasi
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Memiliki kesadaraan emosional merupakan salah satu kunci untuk mengenali, memahami serta menerima perasaan yang muncul tanpa bereaksi secara berlebihan. Ketika memiliki kesadaran emosional yang tinggi, orangtua mampu menyadari bahwa emosi marah sedang meningkat dapat berdampak buruk jika ditunjukkan pada anak.

Penelitian dalam Journal of Child and Family Studies, menunjukkan bahwa orangtua dengan tingkat kesadaran emosional yang tinggi, cenderung memiliki respons pengasuhan yang lebih hangat, sabar, dan konsisten. Kesadaran ini membantu menurunkan pola asuh keras serta meningkatkan kualitas hubungan antara orangtua dan anak.

6. Ingat kembali tujuan utama pola asuh

anak sedang digendong orangtua
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Di tengah rasa lelah dan tekanan sehari-hari, mengingat kembali tujuan utama pola asuh dapat membantu dalam meredam amarah. Tujuan tersebut bukan hanya sekadar mendisiplinkan, melainkan membentuk karakter anak yang sehat secara emosi, percaya diri dan penuh empati.

Menurut Dr. Laura Markham, orangtua yang mampu mengendalikan emosinya akan menciptakan rasa aman emosional pada anak. Rasa aman inilah yang menjadi fondasi utama bagi perkembangan regulasi emosi serta kepercayaan diri anak.

Hal serupa juga disampaikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), yang menegaskan bahwa respons orangtua yang tenang dan penuh kehangatan berperan besar dalam membangun kemampuan pengendalian diri anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan pengasuhan yang suportif terbukti memiliki risiko stres lebih rendah, mengikuti kemampuan sosial yang jauh lebih baik dan kesehatan mental yang stabil hingga dewasa.

Itulah Ma, deretan informasi penting mengenai tips menahan emosi marah saat di depan anak. Marah sejatinya bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, namun bagaimana cara mengelola amarah yang tepat tanpa melukai emosional anak yang berdampak di masa depan.

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More