Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
13 Rekomendasi Baju Batik dari Desainer Indonesia, Ubah Wastra Jadi Fashion Modern
Instagram.com/damakara.official; Instagram.com/sejauh_mata_memandang; Instagram.com/iwantirta_batik
  • Beragam brand batik Indonesia menghadirkan pilihan dari gaya klasik, premium, hingga kontemporer yang lebih mudah dipakai sehari-hari.

  • Sejumlah brand tetap memakai teknik tradisional, sementara lainnya mengeksplorasi siluet modern, keberlanjutan, dan material alami.

  • Rekomendasi mencakup brand desainer, pusat batik, serta label yang mengangkat pemberdayaan komunitas dan generasi muda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1980

Edward Hutabarat mulai berkarya di industri fashion dan konsisten mengeksplorasi kekayaan tekstil Nusantara.

1986

Josephine Komara atau Obin mendirikan BINhouse.

1992

Edward Hutabarat mulai mendalami songket dan batik Jambi serta terlibat dalam upaya menghidupkan kembali kerajinan tersebut.

2011

Nona Rara berdiri dengan tujuan membuat batik dan wastra terasa lebih approachable.

2013

Amanda Hartanto mendirikan Amanda Hartanto Batik setelah sebelumnya mendalami teknik batik ketika bekerja di Parang Kencana.

Imlek 2024

Wilsen Willim mengangkat batik Peranakan dalam koleksi Imlek 2024 dan menerjemahkannya menjadi alternatif cheongsam dengan siluet lebih modern.

Kini

Banyak desainer dan brand lokal mengolah batik menjadi busana modern, versatile, dan cocok dipakai sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Rekomendasi 13 brand batik Indonesia dengan gaya klasik, modern, premium, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan.
  • Who?
    Iwan Tirta Private Collection, BINhouse by Obin, Edward Hutabarat, Oscar Lawalata Culture, Wilsen Willim, serta brand batik lainnya.
  • Where?
    Brand-brand tersebut berasal dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Bandung, Yogyakarta, dan Mojokerto.
  • When?
    Rekomendasi mencakup brand yang berdiri atau berkarya sejak 1980, 1986, 1992, 2011, dan 2013, serta koleksi Imlek 2024.
  • Why?
    Untuk membantu pencari batik memilih busana kerja, pakaian formal, koleksi fashion lokal, atau batik untuk penggunaan sehari-hari.
  • How?
    Melalui teknik batik tulis, batik cap, jumputan, tenun, penggunaan material alami, siluet kontemporer, dan layanan custom.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Batik sekarang bisa dipakai untuk banyak hal, bukan hanya acara resmi. Ada banyak brand Indonesia yang membuat batik dengan bentuk modern, warna sederhana, dan nyaman untuk sehari-hari. Beberapa tetap memakai cara tradisional. Ada juga yang membantu pengrajin, anak muda, perempuan, dan memakai bahan alami.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan brand batik menunjukkan bahwa kain tradisional dapat hadir dalam banyak bentuk tanpa kehilangan identitasnya. Pilihannya mencakup desain modern, teknik yang tetap dikerjakan pengrajin, material alami, serta produksi yang melibatkan komunitas. Keragaman ini membuat batik lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan, gaya, dan kesempatan pemakainya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Batik nggak lagi identik dengan pakaian formal atau acara tertentu. Kini, banyak desainer dan brand lokal yang mengolah batik menjadi busana lebih modern, versatile, bahkan cocok dipakai sehari-hari.

Ada yang tetap mempertahankan pakem klasik dan teknik tradisional, ada pula yang membawanya ke siluet kontemporer dengan potongan lebih minimalis. Beberapa brand bahkan menggabungkan batik dengan prinsip keberlanjutan hingga pemberdayaan komunitas.

Bagi yang sedang mencari batik untuk bekerja, menghadiri acara formal, atau sekadar menambah koleksi fashion lokal, berikut Popmama.com rangkum deretan rekomendasi brand batik Indonesia yang menarik untuk dilirik.

1. Iwan Tirta Private Collection, batik premium dengan akar tradisi kuat

Nama Iwan Tirta sudah lekat dengan perkembangan batik Indonesia. Kini, Iwan Tirta Private Collection melanjutkan warisan tersebut dengan mengembangkan karya kontemporer berdasarkan pola-pola klasik kerajaan serta lebih dari 10.000 desain batik yang diwariskan sang maestro.

Proses pembuatannya pun masih mengandalkan keterampilan pengrajin, dengan material seperti katun halus, sutra, organza, hingga linen. Koleksinya beragam, mulai dari kemeja, gaun malam, outerwear, scarf, sampai aksesori rumah.

2. BINhouse by Obin, eksplorasi kain yang artistik dan autentik

BINhouse didirikan Josephine Komara atau Obin pada 1986. Brand ini dikenal lewat eksplorasi tekstil Indonesia, khususnya batik, dengan perhatian besar pada proses pembuatan kain.

Obin terlibat sejak pemilihan benang, pemintalan, penenunan, proses membatik, hingga pewarnaan. Pendekatan tersebut membuat kain BINhouse memiliki karakter yang khas dan artistik.

Dalam koleksi-koleksi terbarunya, BINhouse juga terus menggabungkan batik dengan kebaya dan siluet kontemporer agar kain tradisional tetap relevan dikenakan generasi sekarang.

3. Edward Hutabarat, batik kontemporer dengan karakter elegan

Edward Hutabarat sudah berkarya di industri fashion sejak 1980 dan dikenal konsisten mengeksplorasi kekayaan tekstil Nusantara.

Pada 1992, Edward mulai mendalami songket dan batik Jambi serta terlibat dalam upaya menghidupkan kembali kerajinan tersebut. Seiring perjalanan kariernya, ia kemudian banyak membawa batik ke busana ready-to-wear dengan sentuhan modern.

Desainnya cocok untuk yang menyukai batik elegan dengan siluet yang tidak terasa terlalu konvensional.

4. Oscar Lawalata Culture, mengolah batik menjadi lebih eksperimental

Oscar Lawalata dikenal punya perhatian besar terhadap berbagai tekstil tradisional Indonesia, mulai dari batik hingga tenun.

Lewat Oscar Lawalata Culture, batik pernah dieksplorasi melalui lini Lokchan dengan pendekatan yang lebih modern, termasuk potongan futuristik dan siluet longgar. Oscar juga pernah mengembangkan kebaya dari batik agar lebih wearable untuk penggunaan sehari-hari.  

Karakter desainnya cocok bagi pencinta fashion yang ingin mengenakan kain tradisional dengan cara lebih artsy dan eksperimental.

5. Wilsen Willim, batik Peranakan bertemu tailoring modern

Wilsen Willim membawa batik ke arah yang lebih sleek lewat karakter desainnya yang minimalis dan kuat pada konstruksi busana.

Salah satu eksplorasinya terlihat pada koleksi Imlek 2024 yang mengangkat batik Peranakan. Wastra tersebut diterjemahkan menjadi pilihan alternatif dari cheongsam dengan siluet yang lebih modern.

Gaya Wilsen cocok untuk yang menyukai batik dengan sentuhan kontemporer, clean, dan sedikit edgy tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

6. Parang Kencana, pilihan batik premium yang timeless

Parang Kencana menawarkan koleksi batik premium dengan pendekatan yang lebih klasik dan elegan.

Brand ini masih menggunakan teknik batik tulis dan batik cap yang dikerjakan oleh pengrajin. Selain koleksi siap pakai, Parang Kencana juga menyediakan layanan custom dengan pemilihan motif, material, hingga siluet yang dapat disesuaikan.

Pilihan ini cocok untuk acara formal, kebutuhan kerja, hingga mencari batik yang bisa digunakan dalam jangka panjang.

7. Sejauh Mata Memandang, batik dengan pendekatan berkelanjutan

Sejauh Mata Memandang dikenal dengan desain yang simpel dan mudah dipadukan untuk penggunaan sehari-hari.

Dalam proses produksinya, brand ini menggunakan sejumlah teknik tekstil seperti batik tulis, batik cap, handscreen, dan tenun tangan. Sejauh juga membawa isu keberlanjutan melalui pendekatan circular design, traceability, hingga ethical supply chain.

Karakternya cocok untuk yang mencari batik dengan tampilan minimalis sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih fashion.

8. Dama Kara, motif batik dengan cerita pemberdayaan

Dama Kara menawarkan pendekatan yang berbeda melalui motif-motif sederhana dan warna yang mudah digunakan untuk keseharian.

Selain mengangkat teknik seperti batik, ikat, jumputan, dan bordir, brand asal Bandung ini turut mengapresiasi karya dari sesi terapi menggambar penyandang autisme dengan mengembangkannya menjadi bagian dari koleksi.

Produksinya juga melibatkan pengrajin dan penjahit rumahan. Hal tersebut membuat Dama Kara tidak hanya menjual busana, tetapi juga membawa misi pemberdayaan melalui fashion.

9. Hamzah Batik, surganya batik saat berkunjung ke Yogyakarta

Bagi yang berkunjung ke kawasan Malioboro, nama Hamzah Batik tentu sudah cukup familiar.

Sebelumnya dikenal sebagai Mirota Batik, toko ini berkembang menjadi salah satu pusat batik dan oleh-oleh di Yogyakarta. Pilihannya cukup luas, mulai dari kain batik, kemeja, kaus batik, busana tradisional, hingga berbagai kerajinan tangan.

Karena variasinya banyak, Hamzah Batik bisa menjadi pilihan untuk mencari batik dengan kebutuhan dan bujet yang beragam.

10. Oemah Etnik, batik modern yang mudah dipakai sehari-hari

Oemah Etnik atau OE mengolah wastra Indonesia menjadi busana dengan pendekatan lebih modern.

Brand ini tidak menjadikan motif batik sekadar dekorasi. Menurut OE, setiap motif dikembangkan dengan cerita yang banyak mengambil inspirasi dari manusia, alam, karakter, hingga perjalanan hidup.

Siluetnya cenderung lebih santai dan mudah dipadukan, sehingga cocok untuk yang ingin memasukkan unsur batik ke dalam outfit sehari-hari tanpa terlihat terlalu formal.

11. Nona Rara, batik praktis untuk perempuan modern

Nona Rara berdiri sejak 2011 dengan tujuan membuat batik dan wastra terasa lebih approachable.

Brand ini menghadirkan desain yang modern dan praktis agar batik tidak hanya digunakan untuk acara formal, tetapi juga nyaman dipakai sehari-hari, khususnya oleh perempuan pekerja.

Koleksinya mengutamakan kesan versatile dan timeless, sehingga cukup mudah dipadukan dengan fashion item yang sudah ada di lemari.

12. Ulur Wiji, batik ramah lingkungan dari Mojokerto

Ulur Wiji cocok dilirik bagi pencinta fashion yang memberi perhatian khusus pada aspek keberlanjutan.

Brand asal Desa Pandankrajan, Mojokerto, ini memproduksi batik tulis, batik cap, hingga jumputan menggunakan material dan pewarna alami dari tumbuhan. Mereka juga mengusung pemberdayaan anak muda dan perempuan di desa dalam proses produksinya.

Motif yang relatif simpel dan warna bernuansa natural membuat produknya terasa modern meski tetap dikerjakan dengan teknik tradisional.

13. Amanda Hartanto Batik, tradisional tetapi tetap relevan dengan tren

Amanda Hartanto mendirikan Amanda Hartanto Batik pada 2013 setelah sebelumnya mendalami teknik batik ketika bekerja di Parang Kencana.

Karakter utama brand ini adalah mempertahankan identitas batik sambil membawanya ke potongan busana yang lebih modern. Amanda juga kerap memadukan motif geometris dengan motif tradisional seperti bunga, lung-lungan, dan burung.

Tujuannya sederhana: membuat batik tetap diminati, khususnya oleh generasi muda, tanpa membuatnya kehilangan akar tradisinya.

Itulah tadi rekomendasi baju batik dari desainer Indonesia dengan desain klasik sampai modern. Setiap merek memiliki ciri khas yang menarik, dari mengedepankan ramah lingkungan hingga dipadukan dengan couture design.

Curated For You

Editorial Team

Related Article