Tak Mau Imunisasi, Wabah Campak Serang Thailand Bagian Selatan

Sebanyak 14 orang sudah dilaporkan meninggal akibat wabah ini

14 November 2018

Tak Mau Imunisasi, Wabah Campak Serang Thailand Bagian Selatan
Pexels/Snapwire

Angka kasus penyakit campak di Thailand sedang meningkat, dengan jumlah kematian sebanyak 14 kasus sejak September 2018.

Selain itu, jumlah pasien dari penyakit ini juga sudah mencapai 1.500 orang. Provinsi-provinsi yang paling terkena dampaknya adalah Yala, Pattani dan Narathiwat.

Disebutkan bahwa munculnya wabah campak ini kembali adalah karena beredar sebuah rumor palsu terkait vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) yang ada.

Berikut Popmama.com berikan rangkuman informasinya:

1. Rumor vaksin mengandung unsur babi

1. Rumor vaksin mengandung unsur babi
Pexels/Pixabay

Menurut rumor yang beredar di kalangan komunitas Muslim di Thailand bagian selatan, vaksin MMR mengandung gelatin.

Komposisi gelatin ini diyakini berasal dari tubuh babi, yang berfungsi sebagai penstabil vaksin itu sendiri.

Akibatnya, angka cakupan imunisasi campak di wilayah tersebut dan sekitarnya pun menjadi sangat rendah.

Penurunan angka cakupan imunisasi ini kemudian berimbas pada mewabahnya kembali penyakit campak.

2. Diklarifikasi oleh pejabat setempat

2. Diklarifikasi oleh pejabat setempat
Pixabay/Whitesession

Meski rumor yang beredar tersebut sudah semakin santer terdengar di wilayah Thailand selatan, pejabat kesehatan setempat, Vicharn Pawan, menegaskan bahwa rumor tersebut sama sekali tidak benar.

Dilansir New York Times, ia mengklarifikasi bahwa vaksin MMR yang diimpor oleh Thailand tidak mengandung gelatin atau apapun yang berasal dari babi.

Beredarnya rumor ini membuat angka cakupan imunisasi MR di beberapa wilayah tersebut hanya mencapai 60 persen dari total populasi.

Editors' Picks

3. Tentang penyakit campak

3. Tentang penyakit campak
Freepik

Campak merupakan salah satu penyakit infeksi pernapasan yang sangat menular. Infeksi ini disebabkan oleh virus.

Meski terkesan sepele, campak juga bisa menjadi berkembang semakin parah. Terutama jika tak segera diatasi dengan pengobatan yang tepat.

Tidak langsung berdampak setelah kena virus, gejala campak biasanya mulai muncul sekitar 1-2 minggu setelah virus masuk ke tubuh.

Beberapa gejala campak yang perlu diwaspadai di antaranya demam, batuk kering, mata merah, hidung berair, sakit tenggorokan, serta muncul bercak putih keabu-abuan pada tenggorokan.

Ruam yang muncul biasanya akan terlihat mulai dari bagian belakang telinga, kepala, kemudian baru menyebar ke seluruh tubuh.

Saat curiga si Kecil terkena campak, Mama bisa segera membawanya ke dokter atau klinik terdekat. Nantinya akan diperiksa apakah benar gejala yang dialami adalah campak.

Selain dilihat dari gejala yang muncul, diagnosis campak juga bisa ditegakkan melalui pemeriksaan sampel air liur dan darah.

4. Penyebaran virus campak

4. Penyebaran virus campak
Pexels/Pixabay

Campak disebarkan melalui virus yang berada pada percikan cairan, yang akan keluar saat pasien bersin atau batuk.

Jika kemudian ada orang yang menghirup percikan cairan ini, ia berisiko tertular virus campak.

Selain terkena percikan langsung, faktanya virus campak juga bisa bertahan di sebuah permukaan benda setelah berjam-jam lho, Ma.

Apabila si Kecil menyentuh benda yang terkena percikan cairan dari pasien campak, kemudian menyentuh hidung atau mulut, risiko infeksi juga bisa muncul.

5. Pengobatan penyakit campak

5. Pengobatan penyakit campak
Freepik/Peoplecreations

Secara alami, sistem imun akan melawan infeksi virus yang masuk ke dalam tubuh, termasuk virus campak.

Untuk mempercepat proses pemulihan, perbanyak minum air putih guna mencegah dehidrasi.

Selain itu, jangan lupa cukupi istirahat dengan tidur teratur.

Karena mata sedang merah dan mungkin menjadi sensitif terhadap cahaya, maka sebisa mungkin hindari dulu paparan sinar matahari atau sinar lainnya.

Minum obat penurun demam dan pereda nyeri juga bisa dilakukan untuk mengatasi peningkatan suhu tubuh.

Untuk mendapatkan obat yang tepat, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memutus rantai penularan campak adalah dengan imunisasi MMR atau MR. Ini adalah vaksin gabungan dari campak, gondongan dan campak Jerman (rubella).

Pada dasarnya, vaksin MR wajib diberikan pada semua anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun dalam masa program pemberian vaksin MR oleh pemerintah Indonesia. 

Tak perlu khawatir berlebihan apabila setelah diberikan vaksin MR anak kemudian menjadi demam ya, Ma.

Soal efek pasca pemberian vaksin, hal tersebut tergolong wajar.

Beberapa reaksi yang muncul biasanya berupa demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan.

Reaksi ini pun sebenarnya nanti bisa hilang sendiri setelah 2-3 hari. 

Saat curiga si Kecil terkena campak, jangan tunda lagi untuk segera cek ke dokter ya, Ma!

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!