Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Memory Investing? Tren Keuangan Gen Z Terkini
Pexels/Defrino Maasy
  • Memory investing adalah tren keuangan baru di kalangan Gen Z yang menekankan pengeluaran untuk pengalaman berkesan seperti liburan dan konser, bukan hanya fokus pada aset materi.
  • Konsep ini membantu menyeimbangkan kebahagiaan masa kini dengan tanggung jawab finansial jangka panjang, sekaligus memperkuat hubungan sosial dan kesadaran dalam mengatur uang.
  • Namun, memory investing perlu dijalankan dengan bijak agar tidak memicu pemborosan, tekanan sosial, atau mengabaikan tujuan keuangan penting seperti dana darurat dan tabungan masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau mendengar kata investasi, yang pertama terbayang mungkin saham, reksa dana, atau tabungan berjangka. Tapi belakangan muncul satu pendekatan keuangan yang berbeda dan justru makin banyak digandrungi oleh generasi muda, yaitu memory investing.

Ini bukan tentang investasi di perusahaan teknologi memori. Ini soal cara pandang baru dalam mengelola uang, di mana pengalaman hidup yang berkesan ditempatkan setara pentingnya dengan aset finansial. 

Penasaran dengan cara kerja investasi ini? Berikut Popmama.com mengulas apa itu memory investing? Dikutip dari Huff Post. Yuk, simak sampai habis!

Apa Itu Memory Investing?

Pexels/Defrino Maasy

Istilah memory investing mulai ramai diperbincangkan setelah Cash App merilis laporan bertajuk "Sound Investments" pada Mei 2025. Laporan itu meneliti bagaimana anak muda Amerika, khususnya generasi Z, mendekati urusan keuangan mereka. 

Hasilnya? Ada tren yang terus berkembang, di mana Gen Z semakin memprioritaskan pengalaman nyata yang menciptakan kenangan abadi, seperti konser, liburan, dan waktu berkualitas bersama orang-orang terdekat.

Julie Guntrip, Head of Financial Wellness di Jenius Bank, menjelaskan konsep ini dengan sederhana, yaitu memory investing adalah tentang membelanjakan uang untuk pengalaman yang membekas, seperti perjalanan atau petualangan bersama keluarga, daripada hanya berfokus pada hal-hal yang bersifat materi. 

Singkatnya, ini bukan soal mengorbankan masa depan finansial kamu, melainkan soal dengan sengaja mengalokasikan sebagian uang untuk momen-momen yang akan kamu kenang bertahun-tahun ke depan.

Bola Sokunbi, pendiri Clever Girl Finance, menyebutnya sebagai soal menyelaraskan pengeluaran dengan nilai-nilai hidup yang kamu pegang. Bukan tentang membeli barang terbaru, tapi tentang pilihan hidup yang lebih bermakna secara personal.

Manfaat Memory Investing

Pexels/Magaly Taboada

Berikut beberapa manfaat memory investing:

  1. Menambah kebahagiaan yang lebih tahan lama: Memory investing adalah investasi dalam kebahagiaan dan hubungan antarmanusia, bukan sekadar dalam rekening dan masa depan finansial semata. Kebahagiaan dari sebuah pengalaman cenderung bertahan lebih lama dibandingkan dengan kepuasan dari barang yang dibeli.

  2. Menyeimbangkan hidup saat ini dan masa depan: Juru bicara Cash App menyebutkan bahwa generasi Z mengambil pandangan yang lebih holistik terhadap keuangan, yakni menyeimbangkan perencanaan masa depan dengan menjalani hidup secara bermakna di masa kini. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menganggap tanggung jawab finansial hanya berarti menabung untuk tujuan jangka panjang.

  3. Menguatkan hubungan dengan orang-orang tersayang: Liburan bersama keluarga, merayakan momen penting bersama sahabat, atau sekadar road trip berdua pasangan, semua itu menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih berharga dari sekadar oleh-oleh.

  4. Membantu mengelola uang: Dengan menetapkan anggaran khusus untuk kenangan, kamu jadi lebih terencana dalam membelanjakan uang dan tidak sekadar impulsif. Ini justru melatih kesadaran finansial yang lebih baik.

  5. Memberi kepuasan: Berbeda dengan barang yang bisa rusak, ketinggalan zaman, atau kehilangan nilainya, kenangan dari sebuah pengalaman tidak pernah benar-benar terdepresiasi.

Kekurangan Memory Investing

Pexels/cottonbro studio

Memory investing juga punya sisi yang perlu diwaspadai. Jangan sampai semangat investasi kenangan malah membuat kondisi keuangan kamu terguncang.

  1. Risiko pengeluaran berlebih: Kalau tidak diimbangi dengan tanggung jawab finansial, memory investing bisa berubah jadi pemborosan. Perjalanan yang bermakna akan sulit dinikmati sepenuhnya kalau berakhir dengan tumpukan utang kartu kredit.

  2. Tekanan untuk terus menciptakan momen: Pakar keuangan Markley memperingatkan bahwa memory investing bisa mendorong seseorang untuk mengidealisasi hidupnya secara berlebihan dan merasa ada tekanan terus-menerus untuk melakukan sesuatu yang seru dan mahal. Padahal, kenangan terbaik sering kali justru muncul dari hal-hal sederhana.

  3. Mudah terjebak FOMO: Apalagi di era media sosial, melihat orang lain liburan atau menghadiri acara mewah bisa memicu pengeluaran yang tidak direncanakan dan tidak sesuai dengan kemampuan finansial kamu.

  4. Mengabaikan tujuan keuangan jangka panjang: Kalau porsinya tidak dijaga, terlalu banyak mengalokasikan uang untuk pengalaman bisa mengorbankan dana pensiun, dana darurat, atau tabungan penting lainnya yang dibutuhkan di masa depan.

  5. Nilai pengalaman bersifat subjektif: Tidak semua pengalaman memberikan imbalan emosional yang sepadan dengan biayanya. Beberapa momen yang diharapkan berkesan bisa berakhir mengecewakan, sementara uangnya sudah terlanjur keluar.

Cara Mencoba Memory Investing

Pexels/Ahsanjaya

Berikut langkah-langkah praktisnya, dirangkum dari panduan yang dibagikan oleh para pakar keuangan:

  1. Tentukan dulu kenangan apa yang ingin kamu investasikan. Guntrip menyarankan untuk membuat gambaran jelas soal pengalaman apa yang benar-benar penting buatmu. Bisa dengan membuat vision board, menyimpan inspirasi secara daring, atau sekadar menuliskan daftarnya. Kalau kamu punya pasangan atau keluarga, diskusikan dan prioritaskan bersama agar semua merasa dilibatkan.

  2. Masukkan anggaran memory investing ke dalam rencana keuangan keseluruhan: Jangan tempatkan memory investing sebagai sesuatu yang terpisah dari keuanganmu. Sisihkan sebagian dari pendapatan diskresioner kamu secara rutin untuk pos ini, supaya kamu bisa menikmati momen-momen itu tanpa rasa bersalah dan tanpa khawatir keuanganmu meleset dari jalur.

  3. Mulai dari yang kecil dan bermakna secara personal: Tidak harus langsung liburan ke luar negeri. Makan malam istimewa bersama orang tua, menonton konser artis favorit, atau sekadar staycation di kota sendiri pun bisa jadi bentuk memory investing yang sah.

  4. Jadwalkan dan otomasi tabungannya: Sisihkan uang secara berkala untuk pengalaman yang penting buatmu, entah itu perjalanan bareng sahabat, liburan keluarga, atau solo trip. Dengan menjadikannya kebiasaan rutin, kamu tidak perlu bergantung pada niat yang kadang naik turun.

  5. Tetap jaga keseimbangan dengan tujuan finansial jangka panjang: Memory investing yang sehat bukan berarti mengorbankan dana darurat atau tabungan masa depan. Pastikan pos ini hanya diambil dari anggaran fleksibel, bukan dari pos-pos keuangan yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditawar.

  6. Evaluasi secara berkala: Tinjau ulang anggaran kamu setiap beberapa bulan. Apakah pengalaman yang kamu kejar benar-benar bermakna, atau hanya terdorong oleh tekanan sosial? Evaluasi ini membantu kamu tetap jujur pada diri sendiri soal apa yang benar-benar penting.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu memory investing? Semoga bermanfaat!

Editorial Team

Related Article