“Gender memiliki peranan penting. Pada laki-laki terdapat prostat, sedangkan perempuan tidak. Sisa urine yang tertinggal pada laki-laki dapat disebabkan oleh pembesaran atau kanker prostat. Sementara pada perempuan, kondisi tersebut bisa terjadi akibat turunnya turun peranakan atau turun organ panggulnya,” kata Prof.dr.Harrina E. Rahardjo,Sp.(K),PhD dalam acara peresmian Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic di Aryaduta Hotel Menteng, Senin (29/06/2026).
6 Faktor Penyebab Masalah pada Kandung Kemih, Bukan Cuma Usia

- Masalah kandung kemih bisa dialami siapa saja, dipengaruhi oleh faktor seperti jenis kelamin, usia, penyakit penyerta, perubahan hormon, efek obat, dan obesitas.
- Perbedaan anatomi antara laki-laki dan perempuan serta penuaan membuat fungsi kandung kemih menurun dan meningkatkan risiko gangguan berkemih.
- Siloam Hospitals Asri meluncurkan Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic untuk diagnosis dan penanganan terpadu gangguan kandung kemih dengan pendekatan multidisiplin.
Masalah pada kandung kemih tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa dengan berbagai latar belakang kesehatan.
Keluhan seperti sering buang air kecil, sulit menahan kencing, hingga nyeri saat berkemih sering kali dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sistem saluran kemih.
Ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya masalah pada kandung kemih, mulai dari jenis kelamin, pertambahan usia, hingga kondisi kesehatan tertentu.
Memahami penyebabnya dapat membantu Mama maupun anggota keluarga lainnya melakukan pencegahan dan mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini.
Berikut Popmama.com telah merangkum enam faktor yang dapat memengaruhi kesehatan kandung kemih berdasarkan penjelasan dokter.
Table of Content
1. Perbedaan jenis kelamin memengaruhi risiko gangguan kandung kemih

Laki-laki dan perempuan memiliki struktur anatomi yang berbeda, sehingga faktor penyebab gangguan kandung kemih pun tidak selalu sama.
Pada laki-laki, keberadaan kelenjar prostat menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses pengeluaran urine, terutama jika terjadi pembesaran atau gangguan pada prostat.
Sementara itu, perempuan lebih rentan mengalami masalah akibat melemahnya otot dasar panggul atau turunnya organ panggul. Kondisi ini dapat menyebabkan kandung kemih tidak bekerja secara optimal, sehingga menimbulkan keluhan saat buang air kecil.
2. Pertambahan usia membuat kandung kemih menjadi lebih sensitif

Seiring bertambahnya usia, fungsi berbagai organ tubuh akan mengalami perubahan, termasuk kandung kemih. Elastisitas jaringan dan kemampuan otot untuk menahan urine pun dapat berkurang, sehingga seseorang menjadi lebih mudah mengalami gangguan berkemih.
Tak heran jika orang berusia lebih tua sering mengeluhkan frekuensi buang air kecil yang meningkat atau kesulitan menahan keinginan untuk berkemih. Kondisi ini merupakan salah satu perubahan alami yang tetap perlu mendapat perhatian apabila mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Usia menyebabkan banyak perubahan pada kandung kemih, sehingga sensitivitasnya meningkat,” ujar Prof.dr.Harrina E. Rahardjo,Sp.(K),PhD.
3. Penyakit penyerta dapat memicu gangguan kandung kemih

Beberapa penyakit kronis ternyata juga dapat memengaruhi kesehatan kandung kemih. Misalnya, diabetes melitus yang dapat merusak saraf pengontrol kandung kemih, maupun penyakit jantung yang berpengaruh terhadap keseimbangan cairan di dalam tubuh.
Ketika penyakit penyerta tidak terkontrol dengan baik, keluhan pada saluran kemih bisa muncul sebagai dampaknya. Oleh karena itu, pengelolaan penyakit kronis juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kandung kemih.
“Adanya penyakit penyerta, seperti diabetes melitus dan penyakit jantung, yang dapat bermanifestasi menjadi gangguan pada kandung kemih,” jelas Prof.dr.Harrina E. Rahardjo,Sp.(K),PhD.
4. Perubahan hormon saat menopause meningkatkan risiko infeksi

Perempuan yang memasuki masa menopause mengalami penurunan kadar hormon estrogen. Perubahan hormon ini tidak hanya memengaruhi organ reproduksi, tetapi juga kesehatan saluran kemih dan kandung kemih.
Akibatnya, perempuan menopause lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih maupun gangguan seperti beser, sulit menahan kencing, hingga rasa nyeri saat buang air kecil.
“Perubahan hormon pada perempuan, terutama saat menopause. Menopause sering dikaitkan dengan infeksi saluran kemih. Keluhannya dapat berupa sering buang air kecil (beser), sulit menahan kencing, hingga nyeri saat buang air kecil,” ungkap Prof.dr.Harrina E. Rahardjo,Sp.(K),PhD.
5. Efek samping obat-obatan dapat memengaruhi fungsi kandung kemih

Tidak banyak yang menyadari bahwa beberapa jenis obat dapat memberikan efek samping pada sistem saluran kemih. Penggunaan obat tertentu berpotensi mengubah cara kerja kandung kemih maupun memengaruhi produksi urine.
“Penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi fungsi kandung kemih,” kata Prof.dr.Harrina E. Rahardjo,Sp.(K),PhD.
6. Obesitas meningkatkan tekanan pada kandung kemih

Kelebihan berat badan tidak hanya berdampak pada kesehatan jantung atau sendi, tetapi juga dapat memberikan tekanan lebih besar pada dasar panggul dan kandung kemih. Kondisi ini membuat seseorang lebih berisiko mengalami gangguan berkemih.
Menjaga berat badan ideal menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat membantu mempertahankan fungsi kandung kemih tetap optimal.
“Obesitas merupakan salah satu faktor risiko. Tidak hanya meningkatkan risiko kebocoran urine saat batuk atau bersin (stress urinary incontinence), obesitas juga dapat menyebabkan keluhan sering buang air kecil,” pungkasnya.
Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic resmi diluncurkan

Sayangnya, banyak pasien masih menganggap masalah pada kandung kemih sebagai bagian normal dari proses penuaan atau pasca persalinan, sehingga terlambat mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Demi menjawab kebutuhan tersebut. Siloam Hospitals Asri secara resmi meluncurkan Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic, sebuah pusat layanan terpadu yang didedikasikan untuk diagnosis, penanganan, dan rehabilitasi berbagai gangguan kandung kemih serta dasar panggul pada perempuan dan laki-laki.
Melalui pendekatan multi disiplin, pasien dapat menjalani konsultasi, pemeriksaan penunjang, rehabilitasi, hingga tindakan lanjutan secara lebih terkoordinasi sesuai dengan kondisi yang dialami. Pendekatan seperti ini diharapkan dapat membantu pasien memperoleh diagnosis lebih cepat sekaligus penanganan yang lebih menyeluruh.
Nah, itu dia beberapa faktor yang dapat memengaruhi kesehatan kandung kemih. Dengan mengenali berbagai faktor risikonya sejak dini, Mama bisa lebih waspada sejak dini.


















