Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apa Itu Penyakit Diseksi Aorta? Ini Gejala, Penyebab dan Perawatannya
Pexels/Towfiqu barbhuiya
  • Diseksi aorta adalah kondisi darurat medis akibat robekan pada lapisan dalam pembuluh darah utama tubuh, yang dapat menyebabkan pendarahan fatal bila tidak segera ditangani.
  • Terdapat dua tipe utama, yaitu tipe A yang lebih berbahaya dan memerlukan operasi darurat, serta tipe B yang butuh pengawasan intensif dan terapi medis jangka panjang.
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga tekanan darah, berhenti merokok, memperbaiki pola makan, serta melakukan pemeriksaan rutin terutama bagi yang memiliki riwayat genetik terkait.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu mendengar tentang diseksi aorta? Masalah kesehatan yang satu ini mungkin masih terdengar asing di telinga kebanyakan orang, namun bahayanya sama sekali tidak bisa disepelekan. 

Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa memberikan peringatan, dan berpotensi sangat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan kecepatan penuh di ruang gawat darurat.

Sederhananya, ini adalah gangguan medis yang menyerang pembuluh darah utama, alias aorta di tubuh kita. 

Untuk kamu yang ingin tahu tentang penyakit ini, berikut Popmama.com merangkum apa itu penyakit diseksi aorta? Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Diseksi Aorta

Wikimedia Commons/J. Heuser

Membicarakan sistem peredaran darah memang tidak ada habisnya. Jantung memompa darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran utama dan terbesar yang kita sebut aorta. 

Mengutip dari Cleveland Clinic, diseksi aorta adalah kondisi gawat darurat berupa robekan pada lapisan bagian dalam pembuluh darah aorta yang dindingnya sudah melemah.

Ketika robekan kecil ini terjadi, darah akan mengalir deras dan masuk menembus celah tersebut. 

Akibatnya, lapisan dalam dan tengah pada dinding aorta menjadi terpisah atau terbelah (dissection). Jika tekanan darah terus mendorong hingga merobek dinding luar aorta secara total, darah akan menyebar ke luar jalur. 

Kondisi inilah yang bisa sangat fatal karena memicu pendarahan dalam skala besar. Walaupun tergolong langka, penyakit ini butuh penanganan instan layaknya balapan dengan waktu.

Jenis-Jenis Diseksi Aorta

Wikimedia Commons/Npatchett

Melansir dari Heart Foundation NZ, ada dua jenis utama dari diseksi aorta:

  • Tipe A: Ini adalah jenis yang paling umum terjadi sekaligus yang paling berbahaya. Pada tipe ini, robekan bermula di bagian atas aorta (aorta asendens), tepat di area pembuluh darah keluar dari jantung. Robekan ini bahkan bisa merambat meluas hingga ke area perut. Karena posisinya yang sangat krusial, tipe A biasanya membutuhkan operasi bedah dada darurat saat itu juga.

  • Tipe B: Pada jenis ini, robekan terjadi di bagian bawah aorta (aorta desendens), sedikit lebih jauh dari letak jantung, namun juga bisa memanjang hingga ke pembuluh darah perut. Walau terkadang tidak membutuhkan operasi darurat seperti tipe A, pasien dengan diseksi tipe B tetap memerlukan pengawasan intensif di rumah sakit dan penanganan medis yang berkelanjutan untuk mencegah komplikasi.

Gejala yang Sering Muncul

Pexels/RDNE Stock project

Mengutip dari Mayo Clinic, berikut adalah sejumlah gejala diseksi aorta yang harus selalu diwaspadai:

  • Nyeri dada atau punggung yang ekstrem: Rasa sakit ini datang tiba-tiba dengan intensitas yang sangat parah. Banyak pasien menggambarkannya seperti perasaan dada robek, tertusuk, atau terbelah, yang menjalar hingga ke area leher dan punggung bagian bawah.

  • Nyeri perut hebat: Rasa sakit yang datang mendadak di area perut bagian bawah.

  • Sesak napas akut: Kesulitan bernapas yang terjadi secara seketika dan tidak tertahankan.

  • Pusing atau pingsan: Penurunan tekanan darah drastis yang menyebabkan penderita merasa sangat linglung hingga kehilangan kesadaran.

  • Gejala mirip stroke: Termasuk mendadak kesulitan berbicara, gangguan penglihatan secara tiba-tiba, serta kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi bagian tubuh.

  • Denyut nadi tidak beraturan: Denyut nadi terasa sangat lemah atau hilang di satu lengan, dibandingkan dengan lengan yang satunya.

Penyebab di Balik Robeknya Dinding Aorta

Pexels/Pavel Danilyuk

Berikut adalah daftar penyebab utama kondisi diseksi aorta:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) terus-menerus: Kondisi ini menyebabkan dinding aorta harus terus menahan stres yang berat, sehingga perlahan-lahan merusak jaringan sel dan memicu robekan.

  • Kelemahan struktural bawaan: Terjadinya pelapukan atau kerusakan secara perlahan pada sel-sel penyusun dinding aorta yang diwariskan secara genetik, membuatnya rentan terhadap retak.

  • Tekanan aliran darah di lokasi spesifik: Robekan paling sering terjadi di bagian pembuluh yang melengkung atau menanjak, di mana beban dari pompaan jantung terasa paling kuat.

  • Trauma tumpul pada area dada: Benturan yang sangat keras akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari tempat yang sangat tinggi dapat langsung mengoyak jaringan aorta.

Faktor Risiko dari Diseksi Aorta

Pexels/Anastasia Shuraeva

Dilansir dari Cleveland Clinic, beberapa faktor risiko diseksi aorta meliputi:

  • Usia dan jenis kelamin: Kondisi ini lebih sering menimpa pria, khususnya mereka yang berada di usia 40 hingga 70 tahun ke atas, karena tingkat kelenturan pembuluh darah yang mulai menurun.

  • Penyakit penyumbatan pembuluh darah: Adanya tumpukan kolesterol atau plak (aterosklerosis) yang membuat dinding aorta menjadi kaku.

  • Kondisi genetik dan penyakit bawaan: Orang yang menderita Sindrom Marfan, Sindrom Ehlers-Danlos, atau kelainan katup aorta bawaan lahir memiliki jaringan pembuluh darah yang lebih rapuh daripada orang biasa.

  • Aneurisma aorta: Pernah terdiagnosis memiliki benjolan atau pembengkakan tidak normal pada dinding aorta sebelumnya.

  • Gaya hidup buruk: Kebiasaan merokok aktif atau penggunaan obat terlarang seperti kokain yang memicu tensi darah meroket secara tidak wajar.

  • Angkat beban terlalu berat: Olahraga angkat beban yang kelewat ekstrem bisa menyebabkan lonjakan tekanan darah mendadak yang membebani pembuluh utama.

Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Pexels/Yaroslav Shuraev

Beberapa langkah pencegahan diseksi aorta antara lain:

  • Kontrol tekanan darah secara ketat: Gunakan alat ukur tensi secara berkala di rumah. Jika kamu punya hipertensi, disiplinlah dalam meminum obat sesuai resep dokter.

  • Hentikan kebiasaan merokok: Merokok adalah musuh paling nyata bagi kekuatan pembuluh darah. Berhenti merokok akan sangat membantu menjaga fungsi optimal aorta kamu.

  • Perbaiki pola makan: Kurangi garam dan makanan berlemak tinggi. Beralihlah ke menu yang kaya sayur, buah, serta biji-bijian utuh guna menstabilkan kolesterol.

  • Gunakan sabuk pengaman: Saat berada di dalam mobil, selalu gunakan sabuk pengaman untuk melindungi dadamu dari trauma benturan hebat bila terjadi kecelakaan.

  • Cek kesehatan genetik dan berkala: Beritahu dokter jika di keluargamu ada yang pernah menderita penyakit diseksi aorta, sehingga dokter bisa melakukan deteksi dini melalui pemindaian rutin.

Perawatan dan Pengobatan Diseksi Aorta

Pexels/Stéf

Berikut adalah pilihan pengobatannya:

  • Operasi bedah terbuka (open-heart surgery): Tindakan ini wajib untuk kasus tipe A. Dokter bedah akan membedah dada, mengangkat area aorta yang rusak, lalu memasangkan tabung sintetis (graft) yang kuat sebagai pengganti bagian yang robek.

  • Pemasangan stent endovaskular: Biasa dilakukan untuk mengatasi diseksi tipe B yang sudah mengancam organ lain. Dokter akan memasukkan selang tipis kecil (kateter) berisi tabung kawat ke dalam aorta untuk menambal dari dalam, sehingga darah tidak terus masuk ke sela-sela robekan.

  • Pengobatan secara medis: Jika robekannya stabil dan masuk dalam tipe B yang tidak berkomplikasi, dokter mungkin tidak langsung mengoperasi pasien. Perawatan menggunakan obat penurun tekanan darah dan penstabil detak jantung seperti beta-blocker akan diberikan dalam jangka panjang, guna mencegah robekan pada dinding aorta semakin melebar.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu penyakit diseksi aorta? Semoga bermanfaat!

Editorial Team

Related Article