Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Sekadar Liburan, Apa Itu Psychological Tourism?

Bukan Sekadar Liburan, Apa Itu Psychological Tourism?
Dok. Artotel
Intinya Sih
5W1H
  • Psychological tourism menggabungkan liburan dengan pendekatan psikologi, membantu peserta mengenal diri, mengelola emosi, dan memulihkan keseimbangan hidup melalui kegiatan reflektif bersama psikolog.
  • Program ini menawarkan sesi diskusi kelompok dan konseling pribadi dalam suasana santai, agar peserta lebih terbuka membicarakan kesehatan mental tanpa rasa takut atau malu.
  • Inisiatif ini banyak menyasar lansia usia 50 tahun ke atas untuk membantu mereka menghadapi masa transisi hidup dengan teknik reframing dan teori psikologi modern seperti stress recovery dan positive psychology.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Apa yang terlintas di pikiran kamu ketika membahas liburan? Pasti banyak orang mengaitkannya dengan jalan-jalan, menikmati suasana baru, atau sekadar staycation di hotel. 

Semuanya memang menyenangkan. Namun, seiring berkembangnya zaman, dunia pariwisata pun juga mengalami perkembangan. Ada konsep liburan baru yang cukup menarik karena dibarengi dengan hal yang tidak biasa, yaitu konseling psikolog.

Liburan dan konseling psikolog memang terdengar tidak nyambung karena merupakan dua hal yang sangat berbeda. Tapi, coba deh kamu simak penjelasan mengenai apa itu psychological tourism yang akan Popmama.com bahas di bawah ini. Mungkin kamu bakal berubah pikiran!

Table of Content

Apa Itu Psychological Tourism?

Apa Itu Psychological Tourism?

Apa Itu Psychological Tourism 2
Dok. Artotel

Psychological tourism atau wisata psikologis merupakan konsep liburan yang menggabungkan kegiatan wisata dengan pendekatan ilmu psikologi. 

Peserta tidak hanya datang untuk menginap atau menikmati fasilitas hotel, tetapi juga diajak untuk lebih mengenal diri sendiri, mengelola emosi, dan meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas sehari-hari.

Konsep ini muncul dari gagasan bahwa liburan bukan hanya soal berpindah tempat atau mencari hiburan, tetapi juga bisa menjadi kesempatan untuk memulihkan kondisi mental dan menemukan kembali keseimbangan dalam hidup.

“Konsep liburan ini menggabungkan ilmu psikologi dan ilmu pariwisata. Dimana, di sini kita mengajak peserta untuk tumbuh dan mengendalikan emosi, juga bisa menemukan ruang-ruang kebebasan selama staycation,” ujar Catur Prasetyo selaku Chief Operating Officer PT Perisai Psikologi Indonesia, dalam acara Press Conference The Launching of Psychological Tourism pada Rabu (17/6/2026).

Fokusnya Bukan Cuma Aktivitas Fisik

Apa Itu Psychological Tourism 3
Popmama.com/Helga Malya Razita

Selama ini, konsep wellness tourism lebih banyak dikenal melalui aktivitas seperti yoga, spa, olahraga, atau kegiatan relaksasi lainnya. 

Namun, psychological tourism mencoba membawa konsep tersebut ke arah yang lebih dalam dengan memberikan perhatian pada aspek psikologis, emosional, dan spiritual peserta.

Bukan berarti unsur wellness ditinggalkan. Justru, kegiatan-kegiatan yang identik dengan liburan dan relaksasi tetap dilakukan, lalu dipadukan dengan pendampingan dari psikolog agar peserta dapat menikmati waktu istirahat sekaligus melakukan refleksi diri.

“Dengan konsep wellness yang dikolaborasikan, kami ingin mengajarkan dimensi baru. Yaitu pengalaman yang membantu seseorang merefleksikan hidupnya, dan kembali terhubung dengan dirinya sendiri dengan bantuan langsung dari para ahli psikologis,” ucap Nastalia Nursanti selaku Director of Sales & Revenue Artotel Group.

Dengan begitu, psychological tourism hadir bukan hanya untuk membuat tubuh lebih rileks, tetapi juga membantu seseorang memahami dirinya dengan lebih baik.

Ada Sesi Diskusi dan Konseling Bersama Psikolog

Apa Itu Psychological Tourism 4
Popmama.com/Helga Malya Razita

Meski dikemas dalam suasana staycation yang santai, peserta tidak hanya menghabiskan waktu untuk beristirahat di hotel. Di sela-sela kegiatan liburan, mereka juga mengikuti berbagai sesi yang dipandu langsung oleh psikolog.

Mulai dari diskusi kelompok (focus group discussion/FGD), aktivitas bersama, hingga sesi konseling secara pribadi. Aktivitas ini bertujuan agar peserta memiliki ruang yang nyaman untuk berbagi cerita yang mungkin selama ini dipendam.

"Disinilah kami hadir para psikolog untuk memberikan pendampingan. Karena dengan berbicara dengan psikolog, mereka akan diberi pengalaman bagaimana sih rasanya pertama kali untuk seseorang merasa dirinya didengarkan tanpa dihakimi," tambah Yulisa Susanti selaku CEO PT Perisai Psikologi Indonesia.

Melalui suasana yang lebih santai dibandingkan ruang konsultasi formal, program ini diharapkan dapat membuat masyarakat lebih terbuka untuk membicarakan kesehatan mental tanpa rasa takut atau malu.

Banyak Menyasar Lansia

Apa Itu Psychological Tourism 5
Dok. Artotel

Program ini banyak ditujukan bagi mereka yang memasuki usia 50 tahun ke atas atau para lansia yang sedang berada dalam masa transisi kehidupan. 

Pada fase tersebut, seseorang biasanya mulai menghadapi berbagai perubahan, mulai dari pensiun, berkurangnya aktivitas yang selama ini dijalani, hingga munculnya pertanyaan tentang tujuan hidup dan harapan yang belum sempat tercapai.

Perubahan besar semacam ini tidak jarang membuat sebagian orang merasa kehilangan peran, kesepian, atau kesulitan beradaptasi dengan kehidupan yang baru.

Karena itulah, psychological tourism muncul sebagai ruang untuk membantu mereka lebih mengenal diri sendiri dan menjalani masa transisi tersebut dengan lebih sehat secara emosional.

Meski demikian, penyelenggara menegaskan bahwa program ini bukanlah pengganti terapi atau pengobatan bagi gangguan mental yang membutuhkan penanganan klinis jangka panjang. 

Psychological tourism lebih berperan sebagai bentuk pendampingan dan intervensi awal dalam suasana yang lebih santai.

Peserta Diajak Melihat Kembali Pengalaman Hidup dari Sudut Pandang yang Berbeda

Apa Itu Psychological Tourism 6
Dok. Artotel

Selain sesi kelompok, peserta juga mendapat kesempatan untuk mengikuti konseling secara pribadi bersama psikolog.

Pendampingan ini bertujuan membantu peserta memahami berbagai pengalaman hidup yang pernah mereka alami dengan cara pandang yang lebih sehat.

Program Manager PT Perisai Psikologi Indonesia, Zulfikar Zain menjelaskan bahwa metode yang digunakan membantu seseorang memahami pengalaman masa lalu secara lebih objektif melalui teknik reframing, sehingga peserta bisa lebih menerima keadaan dan berdamai dengan berbagai luka emosional yang dimiliki.

Dengan cara tersebut, pengalaman yang sebelumnya dianggap sebagai beban atau penyesalan dapat dimaknai kembali secara lebih positif. 

Harapannya, peserta dapat menjalani kehidupan saat ini dengan perasaan yang lebih tenang dan memiliki pandangan yang lebih baik terhadap dirinya sendiri.

Didukung Berbagai Teori Psikologi Modern

Apa Itu Psychological Tourism 7
Dok. Artotel

Meski terdengar seperti konsep baru, psychological tourism sebenarnya disusun berdasarkan sejumlah teori yang telah lama digunakan dalam ilmu psikologi.

Catur Prasetyo mengungkapkan, kegiatan tersebut menggunakan stress recovery theory yang menjelaskan bagaimana lingkungan dapat membantu menurunkan tingkat stres.

Selain itu, ada pula attention restoration theory yang berkaitan dengan pemulihan fokus dan keseimbangan emosi, serta pendekatan positive psychology yang berfokus pada pencarian makna hidup dan kebahagiaan seseorang.

Itulah penjelasan mengenai apa itu psychological tourism. Setelah mengetahuinya, apakah kamu tertarik mencoba konsep liburan satu ini?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More