Apa Penyebab El Nino? Ini Fakta Ilmiah dan Dampaknya

- El Nino adalah bagian dari siklus ENSO, terjadi saat suhu permukaan laut Pasifik tengah dan timur menghangat lebih dari normal, lalu mengubah pola cuaca global.
- Pelemahan atau pembalikan angin pasat menggeser air hangat ke timur dan menghambat upwelling; pemicu awal perubahan angin serta arus ini belum sepenuhnya dipahami ilmuwan.
- Di Indonesia, El Nino dapat memicu suhu tinggi, kemarau panjang, kekeringan, gangguan panen, kebakaran lahan, serta risiko dehidrasi dan heat stroke; episode umumnya berlangsung sembilan hingga dua belas bulan.
Belakangan ini cuaca terasa panas menyengat hampir setiap hari. Fenomena bernama El Nino sering disebut sebagai biang keladinya.
Tapi, apa sebenarnya yang membuat fenomena ini muncul dan bikin suhu Bumi naik drastis? Karena peristiwa ini, banyak yang terkena dampak, baik di lautan maupun di daratan.
Supaya kamu dapat memahami el nino, berikut Popmama.com merangkum apa penyebab el nino? Simak sampai habis, ya!
Table of Content
Apa Itu El Nino?

Pexels/Pyae Phyo Aung Mengutip NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), El Nino adalah salah satu pola iklim kompleks yang muncul akibat perubahan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator.
Fenomena ini merupakan bagian dari siklus besar bernama El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yang juga mencakup fenomena kebalikannya, yaitu La Nina.
Menurut UNU (United Nations University), nama El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki kecil", istilah yang pertama kali dipakai nelayan di pesisir Pasifik Amerika Selatan pada abad ke-17.
Saat itu, mereka menyadari air laut tiba-tiba menghangat setiap beberapa tahun sekali, lalu mengganggu hasil tangkapan ikan mereka.
Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan timur menjadi jauh lebih hangat dari biasanya. Kondisi ini kemudian memicu perubahan pola cuaca dan iklim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Apa yang Menyebabkan El Nino?

Wikimedia Commons/NOAA image Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat sepanjang garis khatulistiwa, membawa air hangat dari Amerika Selatan menuju Asia. Proses ini kemudian digantikan oleh air dingin dari kedalaman laut yang naik ke permukaan, yang dikenal dengan istilah upwelling, seperti dijelaskan oleh NOAA.
Saat El Nino terjadi, angin pasat ini melemah, bahkan bisa berbalik arah menjadi angin barat. Akibatnya, massa air hangat yang tadinya terkumpul di Pasifik Barat justru bergeser ke arah timur menuju pesisir Amerika, seperti diungkapkan NASA.
Pergeseran ini otomatis menghentikan proses upwelling, sehingga air dingin kaya nutrisi dari kedalaman laut tidak lagi naik ke permukaan.
Menariknya, meski ilmuwan sudah memahami mekanisme ini dengan baik, NASA mengungkap bahwa apa yang sebenarnya memicu pergeseran angin dan arus ini masih menjadi misteri sains yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Apa Saja Dampak El Nino?

Wikimedia Commons/Jon Sullivan Di daratan, El Nino membuat pola curah hujan berubah drastis. Melansir NOAA, kawasan utara Amerika Serikat dan Kanada cenderung menjadi lebih kering dan hangat, sementara wilayah selatan seperti pesisir Teluk dan Amerika Serikat bagian tenggara justru mengalami hujan lebih deras hingga banjir.
Di lautan, dampaknya juga terasa nyata. NOAA menjelaskan bahwa proses upwelling yang melemah membuat jumlah fitoplankton berkurang drastis, sehingga rantai makanan ikan pun ikut terganggu, sementara spesies laut dari perairan hangat seperti tuna albacore justru bermigrasi ke area yang biasanya lebih dingin.
Selain itu, NASA mencatat bahwa El Nino kerap memicu kekeringan panjang di Indonesia, Asia Tenggara, dan Australia utara, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, wilayah yang biasanya kering seperti Peru dan Chili justru diguyur hujan lebat yang berujung banjir dan longsor.
Berapa Lama El Nino Terjadi?

Wikimedia Commons/Jon Sullivan Menurut NOAA, satu episode El Nino umumnya berlangsung sekitar sembilan hingga dua belas bulan, meski dalam beberapa kasus bisa bertahan lebih dari satu tahun.
Fenomena ini juga tidak muncul setiap tahun, melainkan berulang setiap dua sampai tujuh tahun sekali dengan pola yang tidak beraturan.
NASA menambahkan bahwa El Nino biasanya mencapai puncaknya antara bulan November hingga Januari, meski tanda-tandanya sudah bisa terdeteksi beberapa bulan sebelumnya. Efeknya terhadap cuaca global pun butuh waktu untuk benar-benar terasa di berbagai belahan dunia.
Apakah Indonesia Terdampak El Nino?

Wikimedia Commons/NASA Earth Observatory images by Lauren Dauphin, using MODIS data from NASA EOSDIS LANCE and GIBS/Worldview and Landsat data from the U.S. Geological Survey. Mengutip laman UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), Indonesia sempat mengalami gelombang panas signifikan akibat El Nino, dengan suhu rata-rata naik dari biasanya 26,6 derajat Celsius menjadi sekitar 27 derajat Celsius, bahkan sempat menyentuh 38,7 derajat Celsius di Stasiun Meteorologi Kertajati, Jawa Barat.
Kenaikan suhu muka laut di Pasifik ini memicu tekanan udara tinggi di perairan sekitar Indonesia, sehingga pembentukan awan hujan pun ikut terganggu.
Dampaknya, sejumlah wilayah mengalami kekeringan panjang yang mengancam ketersediaan air bersih, hasil panen, hingga produktivitas pertanian.
Dosen Geografi UMS, Yuli Priyana, menjelaskan bahwa musim kemarau yang diperpanjang oleh El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Dari sisi kesehatan, dr. Budi Hernawan dari UMS mengingatkan bahwa cuaca panas berkepanjangan dapat meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit kronis.
Karena itu, menjaga asupan cairan dan membatasi aktivitas berat di luar ruangan menjadi langkah penting yang perlu kamu lakukan saat suhu udara sedang tinggi-tingginya.
Nah, itulah pembahasan mengenai apa penyebab el nino? Yang memengaruhi siklus cuaca. Semoga informatif dan bermanfaat!





















