Usus buntu merupakan organ kecil berbentuk seperti kantung yang menempel pada usus besar di bagian kanan bawah perut. Meski ukurannya kecil, usus buntu bisa mengakibatkan nyeri hebat yang tiba-tiba muncul ketika organ tersebut terganggu.
Apa Penyebab Usus Buntu? Ketahui sebelum Terlambat!

- Usus buntu terjadi akibat penyumbatan pada salurannya yang memicu penumpukan lendir, infeksi bakteri, hingga peradangan hebat di bagian kanan bawah perut.
- Penyumbatan dapat disebabkan oleh feses mengeras, pembengkakan jaringan limfoid saat infeksi, benda asing, cacing usus, atau bahkan pertumbuhan tumor.
- Gejala awal meliputi nyeri di sekitar pusar yang berpindah ke perut kanan bawah disertai mual dan demam ringan; jika dibiarkan bisa pecah dan sebabkan peritonitis serius.
Kondisi inilah yang kemudian dikenal dengan penyakit usus buntu (apendisitis). Penyebabnya sendiri terbilang cukup kompleks.
Dalam dunia medis, kondisi ini umumnya terjadi karena adanya penyumbatan pada saluran usus buntu yang kemudian memicu infeksi dan peradangan.
Namun untuk mengetahuinya lebih lanjut, simak pembahasan lengkap mengenai apa penyebab usus buntu yang telah Popmama.com siapkan berikut ini.
Table of Content
Penyumbatan pada Usus Buntu Menjadi Penyebab Utama

Pada dasarnya, hampir semua kasus usus buntu berawal dari adanya penyumbatan di dalam rongga usus buntu.
Dilansir dari Health.com, usus buntu secara alami menghasilkan lendir yang seharusnya mengalir ke usus besar. Namun ketika saluran kecil tersebut tersumbat, lendir tidak bisa keluar dan akhirnya menumpuk di dalam usus buntu.
Penumpukan lendir ini kemudian menimbulkan masalah baru. NewYork Presbyterian menjelaskan bahwa semakin banyak cairan yang terjebak, semakin tinggi pula tekanan di dalam usus buntu.
Lama-kelamaan tekanan tersebut dapat menghambat aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan usus buntu. Ketika aliran darah mulai terganggu, jaringan usus buntu menjadi lemah dan rentan rusak.
Pada saat yang sama, bakteri yang memang secara alami hidup di saluran pencernaan dapat berkembang biak dengan cepat di area yang tersumbat tersebut. Akibatnya, terjadilah infeksi, pembengkakan, dan peradangan yang dikenal sebagai usus buntu.
Apa Saja yang Bisa Menyebabkan Penyumbatan?

Penyumbatan pada usus buntu bisa dipicu oleh beberapa hal yang berbeda. Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan:
Feses yang Mengeras
Menurut publikasi dari Memon Medical Institute Hospital, potongan feses yang keras dapat tersangkut di pintu masuk usus buntu dan menyumbat salurannya.
Risiko ini bisa meningkat pada orang yang kurang mengonsumsi makanan berserat sehingga lebih mudah mengalami sembelit.
Pembengkakan Jaringan Kekebalan Tubuh
Di dalam dinding usus buntu terdapat jaringan limfoid yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Ketika tubuh sedang melawan infeksi, baik karena virus, bakteri, maupun parasit, jaringan ini bisa membengkak. Jika pembengkakan terjadi cukup besar, saluran usus buntu dapat tertutup dan memicu penyumbatan.
Benda Asing atau Infeksi Cacing
Meski jarang terjadi, benda asing yang tidak dapat dicerna tubuh atau infeksi cacing usus juga bisa menjadi penyebab. Material tersebut dapat masuk ke dalam usus buntu lalu menyumbat salurannya sehingga memicu peradangan.
Tumor
Pada kasus yang lebih jarang, penyumbatan dapat terjadi akibat adanya pertumbuhan tumor. Tumor yang muncul di sekitar usus besar atau pada usus buntu itu sendiri dapat menekan atau menutup saluran usus buntu sehingga lendir tidak bisa keluar dengan normal.
Gejala Awal Usus Buntu

Ketika penyumbatan dan pembengkakan mulai terjadi, tubuh akan memberikan berbagai sinyal yang biasanya muncul secara bertahap. Healthdirect Australia menyebut, gejala awal usus buntu sering kali berupa nyeri tumpul di sekitar pusar.
Selain nyeri, sebagian orang juga mengalami mual, muntah, kehilangan nafsu makan, atau merasa tidak enak badan. Pada tahap ini, gejalanya terkadang masih mirip dengan gangguan pencernaan biasa sehingga sering diabaikan.
Namun seiring bertambah parahnya infeksi dan pembengkakan, rasa sakit biasanya berpindah ke perut kanan bawah.
Nyeri pada tahap ini cenderung menjadi lebih tajam dan lebih kuat. Rasa sakit juga biasanya bertambah saat berjalan, batuk, bergerak, atau ketika area tersebut ditekan.
Banyak penderita juga mengalami demam ringan karena tubuh sedang berusaha melawan infeksi yang terjadi di dalam usus buntu.
Mengapa Usus Buntu Tidak Boleh Diabaikan?

Usus buntu termasuk kondisi yang tidak boleh dianggap sepele karena peradangannya bisa berkembang dengan cepat. Usus buntu yang terus membengkak akan semakin kekurangan pasokan darah sehingga dinding organ tersebut menjadi semakin lemah.
Jika tidak segera ditangani, terutama dalam waktu sekitar 48 hingga 72 jam setelah gejala muncul, usus buntu berisiko pecah.
Ketika hal ini terjadi, bakteri dan isi usus dapat menyebar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi serius yang disebut peritonitis. Bahkan pada beberapa kasus, juga bisa terbentuk kantung berisi nanah di dalam perut (abses).
Itu sebabnya, operasi pengangkatan usus buntu (apendektomi) menjadi jalan utama menangani kondisi tersebut. Tindakan ini biasanya disertai pemberian antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.
Itu tadi penjelasan lengkap seputar apa penyebab usus buntu. Karena mencegah lebih baik dari pada mengobati, alangkah baiknya kita menghindari faktor pemicu munculnya kondisi ini sedini mungkin.


















