Busana Sabang Merauke 2026, Kerja Kreatif Menghidupkan Srikandi

- Busana untuk “Hikayat Srikandi Nusantara” melalui proses panjang sebelum tampil di panggung.
- Tim melakukan riset budaya, mencari material, membuat bagian khusus, dan menjalani fitting sambil bergerak.
- Desainer, perajin, serta pendukung aksesori menyelaraskan elemen busana agar karakter dan cerita Indonesia terasa.
Banyak tangan kreatif bekerja untuk menghidupkan para tokoh dalam “Hikayat Srikandi Nusantara”
Saat menyaksikan Pagelaran Sabang Merauke, perhatian mungkin langsung tertuju pada busana penuh warna, hiasan kepala yang detail, hingga aksesori yang membuat setiap karakter terlihat semakin hidup. Namun, di balik penampilan yang hanya berlangsung beberapa menit di atas panggung, ada proses panjang yang sudah dimulai jauh sebelum hari pertunjukan.
Dalam Pagelaran Sabang Merauke Hanya Indonesia yang Punya 2026 bertajuk Hikayat Srikandi Nusantara, busana bukan sekadar pelengkap. Setiap kain, warna, siluet, hingga aksesori ikut memperkuat karakter sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Berikut Popmama.com ulas proses di balik busana Pagelaran Sabang Merauke 2026 yang menarik untuk diketahui.
Table of Content
1. Prosesnya dimulai dari riset budaya dan berburu material

Dok. Forte Sebelum sebuah busana tampil di atas panggung, tim terlebih dahulu melakukan riset mengenai bentuk busana tradisional, cara pemakaian kain, jenis aksesori, hingga detail yang menjadi ciri khas suatu daerah.
Setelah itu, pencarian material pun dimulai. Tim bisa mencari kain, ornamen, manik-manik, subeng, hingga aksesori tertentu melalui perajin, sentra kerajinan, maupun pasar tradisional. Bahkan, tak jarang mereka harus blusukan untuk mendapatkan material yang paling mendekati referensi aslinya.
Jika material yang dicari tidak tersedia, beberapa bagian harus dibuat secara khusus. Semua dilakukan agar karakter budaya tetap terasa, meski busana nantinya disesuaikan dengan kebutuhan panggung.
2. Busana harus cantik sekaligus nyaman untuk menari

Dok. Forte Tantangannya tidak berhenti pada tampilan. Busana juga harus nyaman dan aman digunakan ketika para penampil bergerak mengikuti koreografi.
Hiasan kepala, misalnya, harus cukup menonjol dari kejauhan tanpa membuat penari merasa terlalu berat.
Kain juga perlu memiliki jatuh yang baik tanpa membatasi langkah. Begitu pula dengan perhiasan yang harus dipastikan tidak mudah bergeser atau tersangkut saat pertunjukan berlangsung.
Karena itu, proses fitting dilakukan sambil bergerak, bukan hanya berdiri di depan cermin.
Dari sinilah tim dapat mengetahui jika ada kain yang terlalu panjang, aksesori yang mudah bergeser, atau bagian tertentu yang justru mengganggu gerakan.
3. Banyak kreator ikut menyatukan busana dalam satu dunia pertunjukan

Dok. Forte Pagelaran Sabang Merauke 2026 melibatkan banyak nama dalam dunia mode Indonesia, seperti Ivan Gunawan, Priyo Oktaviano, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Didi Budiardjo, Denny Wirawan, Sebastian Gunawan, Mel Ahyar, Batik Keris, dan desainer lainnya.
Tri Anggoro menangani busana tradisional dengan tugas menjaga karakter budaya tetap terasa meski disesuaikan untuk kebutuhan panggung modern.
Sementara itu, mahkota dan satu set perhiasan untuk Srikandi, Mahadewi, serta Dayang Sumbi dirancang khusus oleh UBS Gold. Aksesori lainnya turut didukung oleh Subeng Klasik, Rinaldy Yunardi, Ryan Papua, dan Tjokro Suharto.
Dengan begitu banyak tangan kreatif yang terlibat, setiap elemen perlu diselaraskan agar warna, bentuk, tekstur, dan aksesori tetap terasa berada dalam satu dunia pertunjukan.
Jadi, ketika satu mahkota, kain, atau aksesori terlihat begitu menyatu dengan gerakan para penampil di atas panggung, sebenarnya ada perjalanan panjang di baliknya.
Mulai dari riset, berburu material, kerja para perajin, fitting, hingga revisi dilakukan untuk menghadirkan busana yang tidak hanya indah, tetapi juga mampu menghidupkan karakter dan cerita Indonesia.



















-AIymW3oPNEywE45P2Tt3SKkdqElUnzIF.jpg)

