Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Autoimun Berbahaya? Ini Penjelasannya
Popmama.com/Najla Dewi Effendi/AI
  • Penyakit autoimun terjadi saat sistem imun menyerang sel dan jaringan sehat, bersifat kronis, dan tingkat keparahan gejalanya berbeda pada setiap orang.
  • Risiko autoimun diduga meningkat oleh infeksi virus, jenis kelamin perempuan, riwayat keluarga, autoimun lain, paparan bahan kimia atau lingkungan, serta kebiasaan merokok.
  • Gejala dapat meliputi nyeri sendi, kelemahan otot, gula darah tinggi, gangguan penglihatan, dan peradangan; periksakan keluhan baru, memburuk, atau pengobatan yang tidak lagi efektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Autoimun terjadi saat penjaga tubuh malah menyerang tubuh sendiri. Ini bisa lama dan keluhannya beda-beda. Orang bisa merasa sendi sakit, otot lemah, kulit merah, atau mata terganggu. Penyebabnya belum pasti. Kalau ada keluhan baru, makin parah, atau mengganggu kegiatan, kita perlu bilang ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Autoimun menjadi salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Tingkat keparahan dan keluhan yang muncul juga dapat berbeda pada setiap orang, sehingga penting untuk mengenali kondisi ini sejak awal.

Lantas, apakah autoimun berbahaya dan apa saja risiko yang perlu diwaspadai? Simak penjelasan selengkapnya dari Popmama.com yang merujuk pada Cleveland Clinic berikut ini!

Benarkah Autoimun Bisa Berbahaya?

Popmama.com/Najla Dewi Effendi/AI

Melansir Cleveland Clinic, penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sel dan jaringan yang sehat. 

Kondisi ini terjadi karena sistem imun menjadi lebih aktif dari seharusnya, meski tidak ada zat asing seperti virus atau bakteri yang perlu dilawan.

Penyakit autoimun termasuk kondisi kronis. Artinya, seseorang yang mengalaminya kemungkinan perlu mengelola penyakit dan gejala yang muncul dalam jangka panjang.

Siapa Saja yang Rentan Mengalami Autoimun?

Popmama.com/Najla Dewi Effendi/AI

Meski penyebab penyakit autoimun belum sepenuhnya diketahui, beberapa kondisi tertentu diduga dapat meningkatkan peluang seseorang mengalaminya. Sejumlah faktor yang dapat berperan sebagai pemicu antara lain:

  • Pernah mengalami infeksi virus, seperti COVID-19 atau infeksi virus Epstein-Barr.

  • Berjenis kelamin perempuan, yang diketahui memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki.

  • Ada anggota keluarga dengan riwayat autoimun, karena sebagian penyakit autoimun berkaitan dengan faktor genetik dan dapat diturunkan dalam keluarga.

  • Sudah memiliki penyakit autoimun tertentu, sebab kondisi ini dapat meningkatkan kemungkinan munculnya penyakit autoimun lainnya.

  • Terpapar bahan kimia atau faktor lingkungan tertentu, baik dari lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja.

  • Memiliki kebiasaan merokok atau menggunakan produk tembakau lainnya, yang selain berdampak pada kesehatan secara umum, juga berpotensi memicu penyakit autoimun.

Apa Penyebab Autoimun?

Popmama.com/Najla Dewi Effendi/AI

Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan penyakit autoimun.

Kondisi ini bermula ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang dan merusak jaringan tubuh yang seharusnya dilindungi.

Meski mekanisme tersebut sudah diketahui, peneliti masih terus mempelajari apa yang membuat sistem kekebalan tubuh mulai menyerang tubuh sendiri.

Karena itu, penyebab pasti penyakit autoimun masih belum dapat dipastikan.

Apa Saja Gejala Autoimun?

Popmama.com/Najla Dewi Effendi/AI

Gejala penyakit autoimun bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung jenis penyakit dan bagian tubuh yang terdampak. Beberapa keluhan yang dapat muncul, antara lain:

  • Nyeri dan kaku pada persendian, termasuk pembengkakan yang dapat terjadi pada kondisi seperti rheumatoid arthritis.

  • Kelemahan otot, terutama jika penyakit autoimun memengaruhi otot.

  • Peningkatan kadar gula darah, yang dapat terjadi pada diabetes tipe 1.

  • Gangguan penglihatan, karena beberapa jenis penyakit autoimun dapat memengaruhi mata.

  • Peradangan, yang dapat ditandai dengan kulit terasa hangat, kemerahan atau perubahan warna, pembengkakan, serta rasa sakit.

  • Gejala yang kambuh, karena sejumlah penyakit autoimun dapat menyebabkan keluhan muncul dan menghilang secara berulang. Saat gejala menjadi lebih jelas atau parah, kondisi ini disebut flare.

Kapan Harus ke Dokter?

Popmama.com/Najla Dewi Effendi/AI

Jangan abaikan gejala baru atau keluhan yang semakin memburuk dan tidak diketahui penyebabnya, terutama jika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Kondisi tersebut bisa menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapat pemeriksaan yang sesuai.

Bagi yang sudah memiliki diagnosis penyakit autoimun, segera beritahu dokter jika pengobatan yang dijalani terasa tidak lagi bekerja sebaik sebelumnya.

Jadi, apakah autoimun berbahaya? Kondisi ini perlu diperhatikan, terutama jika gejalanya semakin sering muncul atau mengganggu aktivitas

Segera konsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article