Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Apakah Autoimun Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Fakta dan Penjelasannya

Apakah Autoimun Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Fakta dan Penjelasannya
Wikimedia Commons/Haley Otman
  • Penyakit autoimun dapat menyebabkan kematian, tetapi risikonya bergantung pada jenis penyakit, organ yang terdampak, serta kecepatan penanganan medis.
  • Autoimun yang tidak terkontrol dan sering kambuh dapat memicu komplikasi berat pada otak, ginjal, jantung, hingga berbagai organ lain; deteksi dini dan kontrol rutin penting.
  • Lupus, multiple sclerosis, dan vaskulitis termasuk autoimun berisiko tinggi; diagnosis biasanya memadukan tes darah, ANA, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, dan evaluasi gejala.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Penyakit autoimun belakangan makin sering terdengar, mulai dari obrolan sehari-hari hingga unggahan di media sosial. Tak sedikit pula yang mulai bertanya-tanya, sebenarnya seberapa serius sih penyakit ini, sampai-sampai muncul pertanyaan apakah autoimun bisa menyebabkan kematian?

Pertanyaan ini muncul, mengingat autoimun adalah kondisi ketika sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru berbalik menyerang sel-selnya sendiri. 

Supaya kamu dapat mengetahui fakta mengenai penyakit ini, berikut Popmama.com mengulas apakah autoimun bisa menyebabkan kematian? Yuk, simak sampai habis!

  1. Apakah Autoimun Bisa Menyebabkan Kematian?

    Apakah Autoimun Bisa Menyebabkan Kematian?
    Pexels/Armin Rimoldi

    Mengutip Autoimmune Registry, sebuah studi menemukan bahwa penyakit autoimun termasuk 10 besar penyebab kematian pada perempuan usia muda hingga paruh baya, yakni 15-64 tahun.

    Bahkan, angka ini disebut lebih tinggi dibandingkan dengan penyebab kematian resmi yang berada pada peringkat ke-8 versi data kesehatan umum.

    Studi lain dari Inggris turut mengonfirmasi hal serupa sekaligus mengungkap fakta menarik, yaitu angka kematian akibat autoimun kerap tidak tercatat secara akurat karena setiap jenis autoimun biasanya dihitung terpisah, bukan sebagai satu kelompok besar. 

    Menurut Harvard Health, tingkat keparahan penyakit autoimun memang sangat bervariasi, mulai dari yang sekadar mengganggu aktivitas harian hingga yang benar-benar mengancam nyawa.

    Jadi, jawabannya bisa, tetapi bukan berarti semua orang dengan autoimun otomatis berada dalam bahaya. Risiko kematian ini sangat bergantung pada jenis autoimun yang diidap, organ yang diserang, dan seberapa cepat penanganan medis dilakukan.

  2. Apa yang Terjadi Jika Autoimun Sudah Memburuk?

    Apa yang Terjadi Jika Autoimun Sudah Memburuk
    Wikimedia Commons/George Henry Fox

    Mengutip dari laman FK UI, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis mengatakan bahwa autoimun sebenarnya tidak berbahaya selama bisa dikontrol dengan baik.

    Namun, ceritanya jadi berbeda kalau penyakit ini dibiarkan tak terkontrol dan sering kambuh, karena komplikasi serius pada berbagai organ bisa mengintai.

    Sebagai contoh, lupus yang memburuk dapat menyerang otak hingga menyebabkan penurunan kesadaran dan kejang. Pada ginjal, autoimun bisa memicu kerusakan berat hingga penderita harus menjalani cuci darah, sementara serangan pada jantung berpotensi mengganggu fungsi pompanya.

    Melansir Citizens Hospitals, dampak autoimun yang memburuk memang bisa meluas ke berbagai organ lain, mulai dari tiroid, sendi, kulit, sistem saraf, saluran pencernaan, pankreas, mata, hingga pembuluh darah.

    Itulah kenapa deteksi dini dan kontrol rutin menjadi kunci penting agar kondisi tidak berkembang ke tahap yang lebih berat.

  3. Apa Penyakit Autoimun Paling Berbahaya?

    Apa Penyakit Autoimun Paling Berbahaya
    Wikimedia Commons/Doktorinternet

    Nah, kalau bicara soal jenis autoimun yang paling berisiko tinggi, ada beberapa nama yang kerap disebut oleh para ahli kesehatan. Melansir Almoosa Health Group, berikut tiga di antaranya yang tergolong paling berbahaya:

    1. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE): Jenis autoimun ini menyerang banyak jaringan tubuh sekaligus, mulai dari sendi, kulit, jantung, hingga ginjal. Jika dibiarkan tanpa penanganan, lupus bisa memicu gagal ginjal atau gangguan serius pada jantung.
    2. Multiple Sclerosis (MS): Pada kondisi ini, sistem imun menyerang selubung pelindung saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Akibatnya, komunikasi antara otak dan bagian tubuh lain terganggu, dan pada kasus tertentu bisa menimbulkan kecacatan motorik yang menetap.
    3. Vaskulitis: Autoimun jenis ini menyerang dinding pembuluh darah hingga melemah atau tersumbat. Pada kondisi yang parah, pembuluh darah bahkan bisa pecah dan memicu kondisi gawat darurat.

  4. Bagaimana Mendeteksi Autoimun?

    Bagaimana Mendeteksi Autoimun
    Pexels/https://kaboompics.com/

    Semakin cepat autoimun terdeteksi, semakin besar pula peluang untuk mengontrolnya sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. Menurut Medichecks, berikut beberapa cara yang umum dipakai dokter untuk mendiagnosis autoimun:

    1. Tes darah untuk autoantibodi: Pemeriksaan ini mengecek keberadaan antibodi yang justru menyerang sel tubuh sendiri, bukan kuman atau virus.
    2. Tes ANA (Antinuclear Antibody): Ini biasanya menjadi langkah awal jika muncul gejala yang mengarah ke lupus, rheumatoid arthritis, atau sindrom Sjogren.
    3. Penelusuran riwayat kesehatan keluarga: Dokter biasanya menanyakan riwayat autoimun di keluarga, mengingat faktor genetik cukup berperan dalam kemunculan penyakit ini.
    4. Pemeriksaan fisik dan evaluasi gejala: Dokter akan mengamati tanda-tanda seperti ruam kulit, nyeri sendi, atau pembengkakan yang muncul berulang kali.

    Perlu diingat, satu tes saja biasanya belum cukup untuk memastikan diagnosis autoimun. Kombinasi beberapa pemeriksaan di atas biasanya diperlukan agar dokter dapat mengambil kesimpulan yang lebih akurat.

  5. Kenapa Seseorang Bisa Terkena Autoimun?

    Kenapa Seseorang Bisa Terkena Autoimun?
    Pexels/Monstera Production

    Menurut Johns Hopkins Medicine, penyebab pasti autoimun sebenarnya belum sepenuhnya dipahami. Namun, ada beberapa teori yang cukup kuat, mulai dari respons imun yang salah sasaran setelah infeksi, kerusakan jaringan akibat cedera berulang, hingga faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga.

    Perempuan pun tercatat jauh lebih rentan terkena autoimun dibandingkan dengan laki-laki, meski alasan pastinya, termasuk dugaan pengaruh hormon, masih terus diteliti oleh para ahli.

    Mengutip Medichecks, faktor risiko lain yang turut berperan meliputi paparan racun lingkungan, kelebihan berat badan, gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan pola makan tinggi makanan olahan, hingga infeksi virus tertentu.

    Jadi, kombinasi antara faktor bawaan dan gaya hidup sehari-hari sama-sama punya andil besar di sini.

    Nah, itulah pembahasan mengenai apakah autoimun bisa menyebabkan kematian? Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More