Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Asal-Usul Nama Semarang dalam Catatan Sejarah Jawa Tengah
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama Semarang tidak hanya dikenal sebagai ibu kota Jawa Tengah, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang asal-usul penamaannya.

Berbagai catatan sejarah dan cerita tutur masyarakat menyebut bahwa nama Semarang berkaitan erat dengan kondisi geografis serta perjalanan awal wilayah ini.

Dari masa kerajaan hingga era kolonial, Semarang berkembang sebagai kawasan penting di pesisir utara Jawa yang memiliki peran strategis dalam perdagangan dan pemerintahan.

Untuk lebih dalamnya, Popmama.com akan menjelaskan tentang asal usul nama Semarang dalam catatan sejarah Jawa Tengah. Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

Akar Etimologis: Perpaduan Fenomena Alam

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Secara bahasa, nama Semarang berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: "Asem" yang merujuk pada tanaman pohon asam (Tamarindus indica) dan "Arang" yang berarti jarang atau berjauhan.

Dikisahkan pada akhir abad ke-15, Raden Pandanarang (putra dari Pangeran Sabrang Lor/Sultan Demak kedua) melakukan perjalanan menuju daerah selatan demi menyebarkan ajaran Islam.

Beliau menemukan lahan yang sangat subur. Keajaiban muncul ketika pohon-pohon asam tumbuh subur di sana, namun jarak antar pohonnya sangat tidak lazim, saling berjauhan satu sama lain (arang-arang).

Fenomena "pohon asam yang tumbuh jarang" ini menjadi ciri khas wilayah tersebut sehingga masyarakat mulai menyebutnya Asem Arang, yang secara pelafalan kemudian menyusut menjadi Semarang.

Akar Geografis: Masa Pelabuhan Pragota

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Jauh sebelum narasi "Asem Arang" populer, pada abad ke-8, wilayah ini dikenal sebagai Pragota (sekarang menjadi daerah Bergota). Pada masa itu, Semarang merupakan pelabuhan laut yang sangat besar.

Akibat proses sedimentasi (pendangkalan) yang terjadi selama berabad-abad, garis pantai perlahan menjauh ke utara, dan wilayah yang tadinya laut berubah menjadi daratan luas.

Perubahan lanskap ini memungkinkan pohon-pohon asam yang menjadi asal-usul nama kota tersebut untuk tumbuh di lahan yang baru terbentuk.

Masa Transisi Politik: Dari Padepokan Menjadi Kabupaten

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Transisi nama Semarang dari sekadar sebutan wilayah menjadi entitas politik terjadi saat Ki Ageng Pandanaran I mendirikan padepokan dan pusat penyiaran agama.

Kesuksesannya dalam memajukan daerah tersebut menarik perhatian Kesultanan Demak. Setelah Ki Ageng Pandanaran I wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Raden Pandanaran II.

Di bawah kendalinya, Semarang semakin berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama.

Karena prestasinya, pada tanggal 2 Mei 1547, Sultan Hadiwijaya (penguasa Kerajaan Pajang) secara resmi menetapkan Semarang sebagai Kabupaten dan mengangkat Raden Pandanaran II sebagai Bupati pertama.

Momen ini secara de jure mengukuhkan nama "Semarang" di peta administrasi Nusantara.

Evolusi di Era Kolonial: "Little Netherland"

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Nama Semarang semakin mendunia saat VOC dan pemerintah Hindia Belanda menjadikannya pusat pemerintahan di Jawa Tengah.

Belanda membangun banyak kanal untuk mengatasi banjir dan transportasi air, meniru tata kota di Eropa. Hal ini membuat Semarang mendapatkan julukan Venetie van Java (Venesia dari Jawa).

Selain itu, karena banyaknya bangunan bergaya Eropa di kawasan Kota Lama, Semarang juga sering disebut sebagai Little Netherland.

Makna Simbolis Pohon Asam

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Hingga saat ini, pohon asam tetap menjadi simbol penting bagi kota ini. Nilai yang dikandungnya tercermin dalam berbagai catatan sejarah dan tradisi lokal yang berkembang di Semarang.

Filosofi tersebut menggambarkan cita-cita kota sebagai ruang hidup yang memberi kenyamanan dan kemakmuran bagi masyarakatnya.

Dengan memahami asal-usul nama Semarang, kita dapat melihat bahwa sebuah nama wilayah lahir dari perjalanan sejarah yang panjang dan berlapis.

Catatan sejarah Jawa Tengah menunjukkan bahwa penamaan Semarang tidak lepas dari kondisi alam, budaya, serta dinamika masyarakat pada masanya.

Jika Mama berkunjung ke Semarang hari ini, Mama masih bisa menemukan jejak sejarah ini di pusat kota, di mana pohon asam sering ditanam sebagai pengingat akan jati diri kota yang lahir dari "Asam yang Arang".

Editorial Team