Wikimedia Commons/Algenta
Jawabannya, iya! Ulat sagu memang bukan sekadar hama yang merusak batang pohon sagu. Larva dari kumbang sagu merah (Rhynchophorus) ini justru jadi sumber protein hewani alternatif yang sudah lama dikonsumsi masyarakat di Papua dan Maluku, terutama sebagai pelengkap bubur sagu.
Mengutip Asian Journal of Healthy and Science, ulat sagu segar mengandung energi total 265,67 kkal, protein 8,52%, lemak 20,07%, dan karbohidrat 12,74% per 100 gram. Sementara versi keringnya justru punya kandungan protein yang lebih tinggi, yakni 16,66%, dengan energi total 374,80 kkal.
Penelitian lain dari International Journal of Tropical Insect Science, kandungan protein ulat sagu segar bisa mencapai 10,39 gram per 100 gram.
Angka ini membuat ulat sagu masuk kategori tinggi protein. Bukan cuma itu, ulat sagu juga mengandung asam amino esensial lengkap, sehingga nutrisinya enggak kalah dari sumber protein hewani lain seperti daging atau telur.
Oleh karena itu, asumsi bahwa ulat sagu hanyalah makanan ringan tanpa gizi jelas salah. Sebaliknya, beberapa ahli menganggap ulat sagu sebagai cara untuk meningkatkan keanekaragaman pangan, terutama di tengah krisis protein dan stunting yang masih menjadi masalah besar di Indonesia.