Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Camilan Ulat Sagu dari Indonesia Timur Kaya Nutrisi?
Wikimedia Commons/Kemenparekraf
  • Ulat sagu dari Papua dan Maluku dikenal sebagai sumber protein hewani alternatif dengan kandungan gizi tinggi, termasuk energi, lemak, karbohidrat, serta asam amino esensial lengkap.
  • Penelitian menunjukkan ulat sagu segar mengandung sekitar 8–10 gram protein per 100 gram dan bisa meningkat hingga 16,66% saat dikeringkan, menjadikannya setara dengan daging atau telur.
  • Masyarakat lokal mengonsumsi ulat sagu dengan berbagai cara seperti mentah, direbus, digoreng, dipanggang, hingga dijadikan tepung untuk olahan modern tanpa mengurangi nilai gizinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada ulat sagu dari Papua dan Maluku yang bisa dimakan. Ulat ini katanya punya banyak gizi, ada protein, lemak, dan karbohidrat juga. Orang bilang ulat sagu bagus buat tubuh dan bisa bantu anak-anak tumbuh kuat. Ulatnya bisa dimakan mentah, direbus, digoreng, atau dipanggang. Banyak orang suka coba karena rasanya unik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi menarik dari ulat sagu sebagai camilan khas Indonesia Timur yang ternyata kaya nutrisi dan berpotensi mendukung keanekaragaman pangan. Dengan kandungan protein tinggi, asam amino esensial lengkap, serta mineral penting seperti zink dan magnesium, ulat sagu menunjukkan bahwa bahan pangan lokal pun dapat bernilai gizi tinggi sekaligus memperkaya tradisi kuliner Nusantara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buat kamu yang suka eksplorasi kuliner Nusantara, pasti pernah dengar soal ulat sagu, kan? Camilan khas dari Indonesia Timur ini sering bikin orang penasaran sekaligus geleng-geleng kepala. 

Bentuknya yang unik membuat sebagian orang justru penasaran dan tertarik untuk mencoba makanan yang satu ini. Karena katanya, ulat sagu menyimpan banyak nutrisi.

Nah, daripada kamu pensaran, berikut Popmama.com benarkah camilan ulat sagu dari Indonesia Timur kaya nutrisi? Yuk, simak sampai habis!

Apakah Benar Ulat Sagu Mengandung Nutrisi?

Wikimedia Commons/Algenta

Jawabannya, iya! Ulat sagu memang bukan sekadar hama yang merusak batang pohon sagu. Larva dari kumbang sagu merah (Rhynchophorus) ini justru jadi sumber protein hewani alternatif yang sudah lama dikonsumsi masyarakat di Papua dan Maluku, terutama sebagai pelengkap bubur sagu.

Mengutip Asian Journal of Healthy and Science, ulat sagu segar mengandung energi total 265,67 kkal, protein 8,52%, lemak 20,07%, dan karbohidrat 12,74% per 100 gram. Sementara versi keringnya justru punya kandungan protein yang lebih tinggi, yakni 16,66%, dengan energi total 374,80 kkal.

Penelitian lain dari International Journal of Tropical Insect Science, kandungan protein ulat sagu segar bisa mencapai 10,39 gram per 100 gram. 

Angka ini membuat ulat sagu masuk kategori tinggi protein. Bukan cuma itu, ulat sagu juga mengandung asam amino esensial lengkap, sehingga nutrisinya enggak kalah dari sumber protein hewani lain seperti daging atau telur.

Oleh karena itu, asumsi bahwa ulat sagu hanyalah makanan ringan tanpa gizi jelas salah. Sebaliknya, beberapa ahli menganggap ulat sagu sebagai cara untuk meningkatkan keanekaragaman pangan, terutama di tengah krisis protein dan stunting yang masih menjadi masalah besar di Indonesia.

Kandungan Nutrisi pada Ulat Sagu

Pexels/Juan Diavanera

Protein tinggi: Ulat sagu segar mengandung protein sekitar 8,5–10,4 gram per 100 gram dan bisa meningkat hingga 16,66% saat sudah dikeringkan. Protein ini berperan penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, apalagi untuk anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang.

Asam amino esensial lengkap: Mengutip dari International Journal of Tropical Insect Science, ulat sagu mengandung sembilan asam amino esensial, termasuk lisin, fenilalanin, dan leusin. Asam amino ini penting karena tubuh enggak bisa memproduksinya sendiri, jadi harus didapat dari makanan.

Lemak dan asam lemak baik: Ulat sagu segar mengandung lemak sekitar 17–20 gram per 100 gram, dengan asam oleat dan asam palmitat sebagai komponen utamanya. Selain menjadi sumber energi, lemak ini juga berperan dalam penyerapan vitamin yang larut dalam lemak.

Mineral penting seperti zink dan magnesium: Menariknya, ulat sagu tergolong sebagai sumber zink dan magnesium yang baik. Dua mineral ini berperan dalam menjaga daya tahan tubuh, metabolisme energi, hingga kesehatan sistem saraf.

Karbohidrat sebagai sumber energi tambahan: Selain protein dan lemak, ulat sagu kering bahkan mengandung karbohidrat cukup tinggi, mencapai 77,04%, sehingga bisa jadi sumber energi instan yang praktis.

Cara Konsumsi Ulat Sagu

Wikimedia Commons/Rus Akbar

Berikut beberapa cara konsumsi yang umum dilakukan masyarakat lokal maupun di negara lain yang juga mengonsumsi serangga serupa:

Dikonsumsi mentah: Di beberapa daerah, ulat sagu memang dimakan langsung dalam keadaan segar. Cara ini umum dilakukan masyarakat Papua sebagai pelengkap makan sagu, meski tentu butuh kebiasaan tersendiri untuk mencobanya.

Direbus atau dikukus: Merebus atau mengukus ulat sagu bisa jadi pilihan yang lebih ramah untuk pemula. Teksturnya akan tetap lembut dan warnanya cenderung krem, berbeda dengan hasil gorengan yang lebih kecokelatan.

Digoreng atau dipanggang: Sebelum dimasak, ulat sagu biasanya direndam dulu dalam air garam selama kurang lebih 20 menit, lalu dicuci bersih. Setelah itu, bagian perutnya bisa disayat sedikit agar lemaknya keluar dan membantu proses memasak menjadi lebih merata. Setelah dibumbui garam dan rempah sesuai selera, ulat sagu siap digoreng atau dipanggang hingga matang.

Diolah jadi sate atau tusukan: Di beberapa negara Asia Tenggara, ulat sagu kerap diolah jadi sate dengan cara ditusuk lalu dipanggang di atas bara api. Tampilannya jadi lebih menarik dan teksturnya pun lebih renyah di bagian luar.

Dijadikan bahan campuran tepung atau sausage: Untuk olahan yang lebih modern, ulat sagu juga bisa dikeringkan dan dihaluskan menjadi tepung, lalu dicampurkan ke makanan lain seperti sosis atau makanan pendamping ASI. Cara ini biasanya dilakukan demi menyamarkan tampilan asli ulat sagu, sekaligus tetap mempertahankan nilai gizinya.

Nah, itulah pembahasan mengenai benarkah camilan ulat sagu dari Indonesia Timur kaya nutrisi? Semoga bermanfaat!

Editorial Team

Related Article