Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Kaldu Jamur Lebih Berbahaya daripada Micin?
Magnific/azerbaijan_stockers
  • Kaldu jamur tidak otomatis lebih sehat atau lebih berbahaya daripada micin karena kandungan setiap produk bisa berbeda.

  • MSG dikategorikan FDA sebagai bahan yang secara umum diakui aman, sementara kaldu jamur biasanya terdiri dari beberapa bahan.

  • Perbandingan sebaiknya melihat kadar sodium dan gula per takaran, bukan hanya nama atau label produk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Membandingkan kandungan dan keamanan kaldu jamur dengan micin atau MSG sebagai penyedap rasa.
  • Who?
    MSG, kaldu jamur, FDA, WHO, dan konsumen yang menggunakan penyedap rasa.
  • Where?
    Pada produk penyedap rasa dan informasi nilai gizi yang tercantum di kemasan.
  • When?
    Saat memilih dan membandingkan penyedap rasa untuk digunakan dalam masakan.
  • Why?
    Karena kandungan sodium, gula, dan bahan tambahan pada setiap produk dapat berbeda.
  • How?
    Dengan membaca komposisi serta membandingkan kadar sodium dan gula per takaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kaldu jamur dan micin sama-sama bisa membuat makanan terasa enak. Micin tidak otomatis berbahaya, dan kaldu jamur juga tidak selalu lebih sehat. Kaldu jamur bisa punya garam, gula, dan bahan lain. Jadi, kita perlu melihat tulisan di kemasan, terutama jumlah sodium dan gula. Jangan memakai bumbu terlalu banyak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Informasi kandungan pada kemasan membantu konsumen membuat pilihan yang lebih berdasarkan data. Perbandingan antara MSG dan kaldu jamur tidak berhenti pada label, tetapi memperhatikan sodium, gula, serta bahan tambahan. Dengan begitu, penggunaan penyedap dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tetap menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penyedap rasa sering menjadi pilihan agar masakan terasa lebih lezat. Ada banyak macamnya, tetapi yang paling umum digunakan adalah MSG atau micin dan kaldu jamur. 

Kaldu jamur ini sering dianggap sebagai alternatif micin karena dinilai lebih alami. Namun, secara ilmiah, kaldu jamur tidak otomatis lebih sehat lho! Tetapi juga tidak otomatis lebih berbahaya daripada micin atau MSG.

Hal yang lebih penting justru melihat kandungan di dalam produk, terutama jumlah sodium, gula, dan bahan tambahan lainnya.

Sebab, micin umumnya berupa satu bahan utama, sedangkan kaldu jamur biasanya merupakan campuran beberapa bahan.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Micin atau MSG tidak otomatis berbahaya

Vecteezy/Bigc Studio

Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), MSG atau monosodium glutamate adalah garam natrium dari asam glutamat. Asam glutamat sendiri merupakan asam amino yang secara alami terdapat di dalam tubuh dan berbagai jenis makanan.

FDA juga mengategorikan MSG sebagai bahan yang secara umum diakui aman atau generally recognized as safe (GRAS). 

Glutamat sendiri bukan sesuatu yang hanya ditemukan dalam micin. Zat ini juga terdapat secara alami pada tomat, keju, serta beberapa bahan pangan lainnya Karena itu, anggapan bahwa micin selalu lebih berbahaya karena dianggap sebagai “bahan kimia” sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.

2. Kaldu jamur biasanya terdiri dari beberapa bahan

Freepix

Berbeda dengan MSG murni, kaldu jamur kemasan biasanya bukan hanya berisi ektrak jamur saja.

Sebagai ilustrasi, salah satu produk kaldu jamur rendah sodium mencantumkan bahan berupa bubuk jamur, garam, gula, protein kedelai, ekstrak jamur, penguat rasa E635, dan yeast extract.

Artinya, kaldu jamur bisa tetap mengandung sumber rasa umami dari berbagai bahan sekaligus tambahan garam dan gula.

Jadi, label “kaldu jamur” atau “tanpa tambahan MSG” tidak selalu berarti produk tersebut otomatis lebih sehat.

Tetap penting membaca komposisi dan informasi nilai gizinya.

3. Sodium justru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan

Magnific

Jika membicarakan dampak kesehatan, salah satu kandungan yang lebih penting diperhatikan adalah sodium.

Hal ini karena World Health Organization (WHO) merekomendasikan konsumsi sodium orang dewasa kurang dari 2.000 mg per hari, atau setara dengan kurang dari 5 gram garam.

Konsumsi sodium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan dalam jangka panjang berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, serta penyakit ginjal.

Karena itu, saat membandingkan micin dengan kaldu jamur, lebih tepat melihat berapa sodium yang terkandung dalam setiap takaran daripada hanya melihat nama produknya.

4. Ilustrasi kandungan kaldu jamur dan micin

commons.wikimedia.org/Ragesoss, CC BY-SA 3.0

Supaya lebih mudah dibandingkan, berikut ilustrasi sederhana berdasarkan contoh produk yang tersedia.

Kandungan

MSG murni

Kaldu jamur contoh

Sodium per 1 gram

sekitar 100–120 mg

sekitar 136 mg

Gula

0 gram

sekitar 0,2 gram

Komposisi

Monosodium glutamate

Bubuk jamur, garam, gula, ekstrak jamur, yeast extract, dan lainnya

Salah satu contoh, Ajinomoto Indonesia menyebut MSG mengandung sekitar 12 persen sodium. Artinya, dalam 1 gram MSG terdapat sekitar 120 mg sodium. Sementara itu, pada salah satu contoh produk kaldu jamur rendah sodium, terdapat sekitar 136 mg sodium dan 0,2 gram gula per 1 gram produk.

Namun, angka ini hanya ilustrasi karena kandungan setiap merek kaldu jamur bisa berbeda. Ada produk dengan sodium lebih tinggi maupun lebih rendah.

5. Jadi, mana yang lebih sehat?

Pexels/ Tara Winstead

Antara micin dan kaldu jamur, mana yang lebih sehat? Kaldu jamur tidak otomatis lebih sehat daripada micin, begitu pula micin tidak selalu lebih buruk. Kita harus melihat kandungan sodium, gula, dan takaran penggunaannya.

Secara data MSG murni memiliki komposisi yang lebih sederhana dan umumnya tidak mengandung gula tambahan.

Sementara kaldu jamur bisa memberikan rasa yang lebih kompleks, tetapi sering kali mengandung campuran garam, gula, dan bahan tambahan lain.

Karena itu, pilihan yang lebih baik adalah melihat informasi nilai gizi pada kemasan, terutama kadar sodium dan gula per takaran.

Selain itu, penggunaan bumbu apa pun tetap sebaiknya tidak berlebihan karena yang paling berpengaruh terhadap kesehatan adalah total pola makan sehari-hari, bukan hanya satu jenis penyedap saja

Sumber:

  • FDA dalam Questions and Answers on Monosodium Glutamate (MSG)

  • WHO dalam Sodium Reduction

Curated For You

Editorial Team

Related Article