Kepercayaan ini sebenarnya bukan tanpa dasar. Ada sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas, yang menjadi rujukan utama soal ini.
Dikisahkan, Rasulullah SAW pernah melewati dua makam yang penghuninya sedang diazab. Bukan karena dosa besar, melainkan karena kebiasaan tidak menjaga diri saat buang air kecil, dan satu lagi karena suka menyebarkan fitnah.
Melihat itu, Nabi Muhammad SAW mengambil pelepah kurma yang masih basah, membelahnya jadi dua, lalu menancapkan masing-masing bagian di atas kedua makam tersebut.
Saat sahabat bertanya alasannya, Rasulullah menjawab bahwa harapannya azab keduanya bisa diringankan selama pelepah itu masih basah, sebagaimana dijelaskan dalam laman resmi MUI Digital.
Dari kisah inilah, ulama Ahlussunah wal Jamaah berpendapat bahwa tanaman yang masih hidup dan segar itu senantiasa bertasbih kepada Allah SWT.
Mengutip dari NU Online Gresik, dzikir dari tanaman yang ditancapkan di atas kubur dipercaya bisa membantu meringankan siksa di dalamnya. Landasannya pun cukup kuat, sebab Al-Qur'an dalam Surah Al-Hasyr ayat 1 menegaskan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah.
Namun, perlu kamu catat juga, sebagian ulama menilai tindakan Nabi tersebut adalah kekhususan beliau saja, bukan anjuran umum untuk semua kuburan.
Sebab Rasulullah hanya melakukannya pada makam yang beliau ketahui penghuninya sedang disiksa lewat wahyu, bukan pada setiap makam yang dilewati. Jadi, dzikir tumbuhan ini sifatnya membantu, bukan jaminan mutlak.
Yang paling utama bagi ahli kubur tetaplah doa, istigfar, dan amal jariyah dari keluarga yang masih hidup.