7 Ciri-Ciri Osteoporosis, Nomor 5 Paling Sering Terjadi

- Nyeri tulang atau sendi yang datangnya perlahan
- Postur tubuh mulai membungkuk
- Tinggi badan berkurang tanpa disadari
Mama dan Papa mungkin sering mendengar istilah osteoporosis, tapi masih banyak yang mengira penyakit ini hanya soal tulang rapuh di usia lanjut. Padahal, osteoporosis bisa berkembang perlahan tanpa disadari dan baru terasa saat tulang sudah mudah patah.
Menurut International Osteoporosis Foundation (IOF), kondisi ini kerap disebut sebagai silent disease karena gejalanya sering luput dikenali sejak awal.
Dilansir dari Mayo Clinic, osteoporosis tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang ditandai dengan beberapa perubahan pada tubuh. Sayangnya, tanda-tanda ini sering dianggap sepele atau dikira sebagai bagian normal dari penuaan.
Nah, supaya Mama dan Papa lebih waspada, Popmama.com akan memberikan penjelasan 8 ciri-ciri osteoporosis berikut ini. Simak yuk!
1. Nyeri tulang atau sendi yang datangnya perlahan

Mama atau Papa pernah merasakan nyeri tulang atau sendi yang muncul tanpa sebab jelas dan terasa makin sering? Keluhan ini sering dianggap hanya pegal biasa atau efek kelelahan setelah beraktivitas.
Padahal, nyeri yang datang perlahan dan menetap bisa menjadi tanda awal tulang mulai melemah. Terutama jika nyeri sering muncul di punggung, pinggul, atau lutut.
Secara medis, nyeri ini terjadi karena tulang kehilangan kepadatan dan tidak lagi menopang tubuh dengan optimal. Akibatnya, tekanan pada sendi dan jaringan sekitar meningkat.
Lama-kelamaan, rasa nyeri bisa semakin sering terasa. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harian Mama dan Papa.
2. Postur tubuh mulai membungkuk

Pernah melihat orang tua yang posturnya makin lama makin membungkuk? Kondisi ini sering dianggap sebagai hal wajar seiring bertambahnya usia. Padahal, perubahan postur bisa menjadi salah satu ciri osteoporosis, terutama jika terjadi secara perlahan.
Tulang belakang yang melemah tidak mampu lagi menopang tubuh dengan baik. Dilansir dari Mayo Clinic, osteoporosis dapat menyebabkan fraktur kecil pada tulang belakang yang tidak selalu disertai nyeri hebat.
Fraktur inilah yang membuat postur tubuh perlahan condong ke depan. Jika tidak disadari sejak awal, perubahan postur dapat memengaruhi keseimbangan tubuh. resiko jatuh pun menjadi lebih besar.
3. Tinggi badan berkurang tanpa disadari

Mama atau Papa merasa tinggi badan berkurang dibanding beberapa tahun lalu? Banyak orang menganggap ini sebagai proses penuaan yang normal.
Namun, penurunan tinggi badan bisa menjadi tanda adanya pengeroposan tulang belakang. Kondisi ini sering terjadi secara bertahap sehingga tidak langsung disadari.
Secara medis, penurunan tinggi badan terjadi akibat tulang belakang yang mengalami penekanan atau fraktur kecil. Meski tidak selalu menimbulkan rasa sakit, perubahan ini cukup signifikan.
Biasanya, tinggi badan bisa berkurang beberapa sentimeter. Jika Mama dan Papa mengalaminya, sebaiknya jangan diabaikan.
4. Tulang mudah retak atau patah

Jika tulang mudah retak atau patah hanya karena jatuh ringan atau benturan kecil, kondisi ini patut diwaspadai. Pada orang dengan tulang sehat, benturan ringan biasanya tidak langsung menyebabkan patah tulang.
Namun, pada penderita osteoporosis, tulang menjadi sangat rapuh. Akibatnya, cedera kecil bisa berujung fraktur. Menurut penjelasan medis, osteoporosis membuat struktur tulang menjadi keropos dan kehilangan kekuatan.
Lokasi patah yang sering terjadi adalah pergelangan tangan, tulang pinggul, dan tulang belakang. Proses pemulihan pun cenderung lebih lama. Kondisi ini tentu berdampak besar pada kemandirian Mama dan Papa.
5. Mudah lelah dan otot terasa lemah

Ini dia ciri osteoporosis yang paling sering terjadi, tapi sering dianggap sepele. Mama atau Papa mungkin merasa cepat lelah saat berdiri lama, berjalan sebentar, atau melakukan aktivitas ringan.
Kondisi ini sering dikira hanya karena faktor usia atau kurang istirahat. Padahal, kelemahan otot bisa berkaitan erat dengan kesehatan tulang. Dilansir dari Mayo Clinic, osteoporosis kerap disertai penurunan massa dan kekuatan otot.
Otot yang lemah membuat tulang bekerja lebih keras untuk menopang tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi mudah lelah dan kurang stabil. Jika tidak ditangani, resiko jatuh pun meningkat.
6. Keseimbangan tubuh menurun

Mama atau Papa jadi lebih sering tersandung atau merasa goyah saat berjalan? Penurunan keseimbangan bisa menjadi tanda osteoporosis yang jarang disadari.
Perubahan pada tulang dan otot memengaruhi cara tubuh menjaga stabilitas. Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih beresiko. Secara medis, osteoporosis dapat mengubah pusat gravitasi tubuh akibat perubahan postur dan kekuatan tulang.
Hal ini membuat koordinasi gerak menurun. Jika dibiarkan, resiko jatuh dan patah tulang akan semakin besar. Oleh karena itu, latihan keseimbangan sangat dianjurkan bagi kelompok beresiko.
7. Tidak ada gejala di awal

Yang membuat osteoporosis berbahaya adalah sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun di tahap awal. Mama dan Papa bisa merasa sehat-sehat saja, padahal kepadatan tulang sudah menurun.
Banyak kasus osteoporosis baru diketahui setelah terjadi patah tulang. Inilah alasan osteoporosis disebut sebagai penyakit “diam-diam”. International Osteoporosis Foundation menekankan bahwa deteksi dini sangat penting, terutama bagi perempuan pasca menopause dan lansia.
Pemeriksaan kepadatan tulang dapat membantu mengetahui kondisi tulang sejak awal. Dengan begitu, langkah pencegahan bisa segera dilakukan sebelum terjadi komplikasi.
Osteoporosis memang sering datang tanpa disadari, tapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Dilansir dari Mayo Clinic, menjaga gaya hidup aktif, mencukupi asupan kalsium dan vitamin D, serta rutin berolahraga dapat membantu memperlambat pengeroposan tulang.
Mengenali 8 ciri-ciri osteoporosis sejak dini menjadi langkah awal yang sangat penting. Sementara itu, International Osteoporosis Foundation mengingatkan agar Mama dan Papa tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan tulang, terutama jika memiliki faktor resiko.
Dengan perhatian dan penanganan yang tepat, kesehatan tulang bisa tetap terjaga hingga usia lanjut. Jadi, yuk mulai lebih peduli dengan kesehatan tulang dari sekarang.


















