“Saya mengalami masalah dalam memahami bacaan dan percakapan. Jika ada beberapa orang yang berbicara di dalam satu ruangan, saya tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi,” kata Yamini.
Dokter Temukan Gigi dan Rambut di Pasien Usia 26 Tahun, Kondisi Apa?

Yamini Karanam mengalami kesulitan memahami bacaan dan percakapan sebelum dokter menemukan teratoma di otaknya.
Teratoma dapat mengandung jaringan seperti rambut, gigi, tulang, kulit, dan otot karena perkembangan sel germinal yang tidak normal.
Tumor Yamini tidak bersifat kanker dan ia pulih sekitar tiga minggu setelah menjalani operasi minim invasif.
Kondisi medis tak biasa dialami oleh seorang perempuan berusia 26 tahun asal Indiana, Amerika Serikat, bernama Yamini Karanam. Awalnya, ia mengeluh kesulitan memahami tulisan dan percakapan yang ada di sekitarnya.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter justru menemukan tumor langka. Tumor tersebut dikenal sebagai teratoma, yakni jenis tumor yang dapat mengandung berbagai jaringan tubuh, termasuk rambut, gigi, dan tulang.
Kisah Yamini menjadi perhatian karena proses diagnosis hingga penanganan tumornya melibatkan teknik operasi yang minim invasif.
Berikut Popmama.com siap membahas dokter temukan gigi dan rambut di pasien usia 26 tahun.
Table of Content
1. Gejala awal mengalami kesulitan memahami bacaan dan percakapan

Magnific/benzoix Melansir dari laman NBC Los Angeles, gangguan yang dialami Yamini mulai terasa ketika ia menyadari ada sesuatu pada otaknya. Sebab, ia mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang dibaca dan percakapan teman-temannya.
Kondisi ini tentu mengganggu aktivitasnya, terlebih saat ia sedang menjalani pendidikan doktoral. Yamini menjelaskan bahwa dirinya kesulitan mencerna informasi meskipun hanya berupa percakapan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat Yamini berusaha mencari tahu penyebab gangguan yang dialaminya. Namun, proses untuk mendapatkan jawaban tidaklah mudah karena ia menerima pendapat berbeda dari sejumlah dokter yang menanganinya.
2. Mendapat diagnosis yang berbeda-beda dari dokter

Magnific/pressfoto Dalam proses mencari diagnosis, Yamini justru merasa kebingungan. Sebab, dokter spesialis neurologi dan dokter bedah saraf yang menanganinya memiliki pandangan berbeda tentang kondisi tubuhnya.
Perbedaan pendapat tersebut membuatnya kesulitan menentukan langkah penanganan yang tepat. Yamini bahkan mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap situasi tersebut.
"Dokter neurologi mengatakan bahwa dokter bedah saraf tidak realistis dalam menangani kasus saya. Sementara itu, dokter bedah saraf mengatakan bahwa dokter neurologi tidak cukup optimistis terhadap kondisi saya. Saya hanya berpikir, apakah ada seseorang yang benar-benar memahami masalah ini?" cerita Yamini.
3. Dokter menemukan teratoma yang disebut sebagai embrio kembar

Magnific/kjpargeter Karena belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, Yamini akhirnya melakukan riset sendiri untuk mencari alternatif penanganan.
Dari pencariannya tersebut, ia menemukan informasi mengenai Dr. Hrayr Shahinian, seorang dokter di Skullbase Institute, Los Angeles, yang mengembangkan teknik operasi untuk menjangkau tumor di bagian dalam otak dengan pendekatan minim invasif.
Setelah menjalani operasi untuk pengangkatan tumor di otaknya, Yamini mendapatkan penjelasan mengenai kondisi yang selama ini mengganggu kesehariannya.
Dokter menemukan teratoma, yaitu tumor yang dapat mengandung berbagai jenis jaringan tubuh, seperti rambut, gigi, tulang, dan jaringan lainnya.
Dalam kasus Yamini, temuan tersebut digambarkan sebagai embrio kembar yang berkembang di dalam tubuhnya. Kondisi ini sangat langka dan tentu menjadi pengalaman yang mengejutkan bagi Yamini.
"Ini seperti saudara kembar perempuan saya yang jahat, yang telah menyiksa saya selama 26 tahun terakhir,” jelasnya.
Meski terlihat aneh, teratoma sendiri merupakan kondisi medis yang benar adanya. Namun, penting dipahami bahwa teratoma tidak selalu berupa embrio kembar yang berkembang dengan sendirinya. Tumor ini terbentuk dari sel germinal yang dapat tumbuh menjadi berbagai jenis jaringan tubuh.
4. Tumor yang dialaminya tidak bersifat kanker

Pexels/Anna Shvets Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tumor yang dialami Yamini tidak bersifat kanker. Setelah operasi, Yamini dapat menjalani pemulihan secara menyeluruh dalam waktu sekitar tiga minggu.
Yamini juga menyampaikan kekecewaannya karena menurut pengalamannya, banyak dokter bedah saraf yang belum mengetahui teknik operasi minim invasif untuk menangani kasusnya.
"Sangat disayangkan banyak orang tidak mengetahui metode ini. Teknik ini seharusnya menjadi salah satu pilihan utama yang dijelaskan kepada pasien. Ketika seseorang diketahui memiliki tumor pineal, mereka seharusnya diberi tahu bahwa ada pendekatan minim invasif yang dapat membantu mengurangi risiko kerusakan dan kecacatan, sehingga mereka tetap bisa menjalani hidup seperti yang diinginkan,” jelasnya.
5. Mengapa teratoma bisa mengandung rambut dan gigi?

wikipedia.org Melansir dari laman Cleveland Clinic, Teratoma adalah jenis tumor yang terbentuk dari sel germinal, yaitu sel yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis jaringan tubuh. Tumor ini bisa mengandung jaringan yang menyerupai rambut, gigi, tulang, kulit, hingga otot.
Teratoma dapat tumbuh di beberapa bagian tubuh, seperti ovarium (indung telur), testis, tulang ekor, dan otak. Teratoma terbentuk ketika sel germinal berkembang menjadi berbagai jenis jaringan yang tidak semestinya berada di lokasi tersebut.
Tumor ini bukan disebabkan oleh kebiasaan tertentu, makanan, atau infeksi yang dialami seseorang. Sel germinal memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jaringan tubuh.
Ketika proses tersebut berlangsung secara tidak normal, jaringan seperti rambut, gigi, dan tulang dapat terbentuk di dalam tumor. Jadi, meskipun terdengar tidak biasa, keberadaan rambut dan gigi di dalam teratoma dapat terjadi karena adanya proses perkembangan sel tidak normal.
Demikian informasi mengenai dokter temukan gigi dan rambut di pasien usia 26 tahun. Bagaimana menurut pendapatmu?

























