Menyikapi kekhawatiran hal tersebut,salah satu hadis riwayat Imam malik menunjukan bahwa berkeramas tidak dimakruhkan bagi orang yang berpuasa.
وروى مالك: عن سمى مولى ابى بكر، عن ابى بكر بن عبد الرحمن، عن بعض اصحاب النبي، عليه السلام:ان النبي خرج فى رمضان يوم الفتح صايما، فلما اتى العرج شق عليه الصيام، فكان يصب على راسه الماء وهو صايم
Artinya: "Dari sebagian sahabat bahwasanya Rasulullah Saw pernah bepergian pada hari fathul mekkah di bulan ramadhan dalam keadaan berpuasa. Tatkala sampai di kota 'araj beliau merasa kelelahan maka beliaupun menuangkan air ke kepalanya saat masih dalam keadaan berpuasa."
Adapun diriwayatkan dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW sendiri pernah berkeramas di siang hari dalam keadaan berpuasa.
كان صلى الله عليه وعلى اله وسلم يصب الماء على راسه وهو صايم من العطش او من الحر
Artinya: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyiramkan air ke atas kepala Beliau ketika sedang puasa, karena kehausan atau terlalu panas." (HR. Ahmad 16602)
Masih dikutip dari laman NU Online, Syekh Muhammad Asyraf bin Amir dalam kitabnya 'Aunu al-Ma'bud Juz VI halaman 352 juga berpendapat terkait kehujjahan hadis di atas.
فيه دليل على انه يجوز للصايم ان يكسر الحر بصب الماء على بعض بدنه او كله وقد ذهب الى ذلك الجمهور ولم يفرقوا بين الاغتسال الواجبة والمسنونة والمباحة
Artinya: "Hadits (di atas) adalah dalil bahwasanya orang yang berpuasa boleh menyiramkan air ke sebagian atau seluruh badannya (keramas). Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan mereka tidak membedakan antara berkeramas saat mandi sunnah dan mandi wajib (boleh secara mutlak)."