12 Penyebab Vagina Lembab yang Bisa Bikin Nggak Nyaman

Menyebabkan rasa tidak nyaman saat beraktifitas

15 Februari 2020

12 Penyebab Vagina Lembab Bisa Bikin Nggak Nyaman
Freepik/Maksymiv_yura

Vagina perempuan mempunyai tingkat kelembapan yang menyebabkanya menjadi sedikit basah atau memiliki cairan, hal itu selalu terjadi karena kelembapannya dipengaruhi oleh pertumbuhan flora normal di dalamnya.

Dalam kondisi tertentu, kelembapan dapat menyebabkan keluarnya cairan dari vagina yang terkadang bisa keluar hingga mengenai celana dalam, sehingga membuat perempuan menjadi tidak nyaman untuk beraktifitas.

Jika sering mengalami peningkatan jumlah cairan yang keluar dari vagina, mungkin bisa menjadi kondisi-kondisi di bawah ini. Amati dengan baik ketika vagina mengeluarkan cairan agar memahami apakah cairan tersebut berbahaya ata tidak.

Jika berbahaya, dapat ditangani secepatnya agar tidak mengganggu kesehatan seks dan reproduksi.

Berikut ini Popmama.com akan menjelaskan kondisi yang dapat menyebabkan vagina basah pada perempuan.

1. Mengalami alergi

1. Mengalami alergi
Freepik

Vagina adalah bagian tubuh yang rawan terhadap alergi. Alergi bisa disebabkan akibat penggunaan sabun yang memiliki kandungan zat kimia, douching, atau menggunakan alat bantu seks yang terbuat dari bahan berbahaya.

Selain mengeluarkan cairan yang lebih banyak, perempuan yang alergi pada bagian vagina juga akan mengalami rasa sakit saat buang air kecil dan juga muncul bercak merah pada bagian yang terasa sakit.

2. Mengalami ovulasi

2. Mengalami ovulasi
Freepik/Maksymiv-yura

Ketika memasuki masa ovulasi atau masa subur, vagina perempuan mengeluarkan cairan lebih banyak dengan tekstur lebih tebal dan memiliki warna yang agak gelap.

Kondisi ini wajar dialami oleh perempuan sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Cairan berlebih yang keluar dari vagina terkadang dapat keluar hingga mengenai celana dalam.

Jika merasa tidak nyaman, sebaiknya langsung mencucinya dengan air bersih tanpa menggunakan sabun agar celana kembali bersih.

3. Mengalami PCOS

3. Mengalami PCOS
Freepik/Spukkato

PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome merupakan kondisi gangguan hormone yang menyebabkan ovarium membesar dengan kista kecil di tepi luar. Perempuan yang mengalami ketidakseimbangan pada hormonnya, memang rawan terkena PCOS.

Kondisi PCOS dapat muncul karena testoteron di dalam tubuh mengalami peningkatan yang signifikan, sehingga menyebabkan cairan vagina berlebih.

Perempuan dapat mengetahui dirinya sedang mengalami PCOS atau tidaknya dari memeriksakan tubuh atau melihat dari tanda seks sekunder pada tubuh.

Bila muncul rambut halus atau kumis di area dada, memiliki kemungkinan terjadi PCOS.

Bacajuga:

4. Sedang terangsang

4. Sedang terangsang
Freepik/ Jcomp

Perempuan yang sedang terangsang dapat memproduksi cairan vagina dalam jumlah yang banyak.

Cairan pada vagina ini bermanfaat dalam melakukan aktivitas seks. Sehingga saat penetrasi terjadi, gesekan penis dengan dinding vagina akan mengalami penurunan dan bisa mengurangi rasa sakit.

Justru dengan cairan ini hubungan seks terasa lebih nyaman.

5. Gejala penyakit menular seksual

5. Gejala penyakit menular seksual
Freepik/Rawpixel.com

Beberapa penyakit menular seksual seperti gonore dan klamidia dapat menyebabkan munculnya cairan vagina dengan jumlah yang banyak. Cairan tersebut juga disertai dengan rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.

Selain itu penyakit menular seksual dapat menyebabkan perempuan seringkali mengalami sakit sehingga dapat mengganggu pada saat berhubungan seks.

Baca juga:

6. Infeksi jamur

6. Infeksi jamur
Freepik/Tutatama

Banyaknya cairan yang keluar dari vagina bisa disebakan oleh infeksi jamur. Infeksi jamur dapat menyebabkan kelenjar di dalam vagina memproduksi cairan berlebih dengan warna yang tidak bening saja, namun agak kekuningan dan kehijauan.

Gejala infeksi jamur diikut dengan timbul perasaan panas serta rasa sakit pada saat berhubungan seks dan saat buang air kecil. 

Bila mengalami kondisi serupa, mungkin terjadi infeksi jamur dan memicu munculnya keputihan bakteri pathogen.

Editors' Picks

7. Trikomoniasis

7. Trikomoniasis
Freepik/Doucefleur

Trikomoniasis merupakan jenis infeksi yang disebabkan oleh protozoa atau organisme sel tunggal. Infeksi ini dapat menyebar melalui kontak seksual, namun juga dapat menyebar melalui handuk atau pakaian renang.

Trikomoniasis dapat menghasilkan cairan vagina yang berwarna kuning atau hijau yang disertai dengan bau busuk. Trikomoniasis memiliki gejala rasa sakit, radang, dan gatal-gatal, namun bagi beberapa orang tidak mengalami gejala tersebut.

8. Penyakit radang panggul

8. Penyakit radang panggul
Freepik

Penyakit radang panggul (PID) merupakan infeksi yang seringkali menyebar melalui kontak seksual. Hal ini disebabkan oleh bakteri yang menyebar ke vagina dan ke organ reproduksi lainnya. Penyakit radang panggul dapat menghasilkan cairan vagina yang berbau tak sedap hingga busuk.

9. Infeksi bakteri vaginosis

9. Infeksi bakteri vaginosis
Bearfotos / Freepik

Bakteri vaginosis menyebabkan peningkatan cairan vagina namun memiliki bau yang kuat dan busuk, namun infeksi bakteri ini cukup umum. Meskipun beberapa kasus tidak menimbulkan gejala.

Perempuan yang menerima seks oral atau berganti-ganti pasangan seksual dapat memiliki peningkatan risiko tertular infeksi vaginosis tersebut.

10. Menggunakan alat kontrasepsi IUD

10. Menggunakan alat kontrasepsi IUD
venusmed.at

IUD merupakan salah satu alat kontrasepsi yang aman dan dapat mencegah kehamilan dengan baik. Tetapi, pada kondisi tertentu, dapat memicu munculnya cairan berlebih dari vagina dengan warna agak kecoletan dan mengeluarkan bau yang tak sedap.

Kondisi ini cukup normal sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Namun bila cairan yang keluar warnanya kehijauan dan mengeluarkan arona yang lebih pekat, secepatnya periksakan kondisi pada dokter.

11. Gonore dan klamidia

11. Gonore klamidia
Freepik/Pimnana

Gonore dan klamida merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan keluarnya cairan pada vagina yang tidak normal. Terkadang cairan vagina dapat berwarna kuning, kehijauan, atau abu-abu

12. Human Papillomavirus (HPV) atau kanker serviks

12. Human Papillomavirus (HPV) atau kanker serviks
Freepik/spukkato

Human Papillomavirus (HPV) dapat menular melalui kontak seksual, virus HPV ini dapat menyebabkan kanker serviks. Walaupun tidak ada gejalanya, kanker serviks dapat menghasilkan cairan vagina yang juga disertai oleh keluarnya darah berwarna coklat atau berair dengan bau yang tidak sedap.

Kanker serviks dapat didiagnosa dengan melakukan screening Pap Smear yang rutin dilakukan setiap tahunnya dan melakukan tes HPV.

Menjaga kesehatan vagina dengan rajin membersihkannya dengan sabun khusus daerah kewanitaan, dan selalu menjaga kebersihan toilet agar terhindar dari penularan virus-virus berbahaya yang dapat menyebabkan kondisi penyakit tertentu.

Itulah 12 penyebab vagina lembab dan basah yang mungkin bisa membuat terasa nggak nyaman saat beraktivitas sehari-hari. Jika kamu mengalaminya, ketahui mana yang jadi penyebabnya dan dan se periksakan diri ke dokter.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.