Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kenapa Mobil di Indonesia Pakai Setir Kanan? Ini Sejarahnya!

Kenapa Mobil di Indonesia Pakai Setir Kanan? Ini Sejarahnya!
Pexels/Harry Tucker
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Sistem setir kanan di Indonesia berawal dari pengaruh kolonial Belanda yang membawa mobil bersetir kanan ke Nusantara, meski Belanda kemudian beralih ke sistem setir kiri.
  • Pendudukan Jepang memperkuat kebiasaan setir kanan karena Jepang juga menggunakan sistem serupa, sehingga tradisi ini menyebar luas di kawasan Asia Tenggara.
  • Setir kanan dipertahankan karena sudah menyatu dengan infrastruktur dan dinilai lebih aman untuk kondisi jalan Indonesia yang sempit serta padat kendaraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Coba perhatikan mobil-mobil yang lalu lalang di jalanan Indonesia. Hampir semuanya punya satu kesamaan, yaitu setirnya berada di sebelah kanan. 

Kalau kamu sering nonton film-film Hollywood, mungkin kamu sempat bingung kenapa mobil di sana justru punya posisi setir yang kebalikannya. Ternyata, perbedaan ini bukan sekadar soal selera pabrikan, tapi punya cerita panjang di baliknya.

Penasaran dengan alasan di balik penempatan posisi di sebelah kanan ini? Berikut Popmama.com merangkum kenapa mobil di Indonesia pakai setir kanan? Ini sejarahnya! Yuk, simak sampai habis!

Warisan dari Era Kolonial Belanda

Warisan dari Era Kolonial Belanda
Leiden University Libraries

Cerita soal setir kanan ini, kalau ditarik ke belakang, ternyata berawal dari zaman kolonial.

Melansir IDN Times, Indonesia mengenal mobil pertama kali dari Belanda, dan saat itu mobil-mobil Belanda memang menggunakan setir kanan. Jadi wajar saja kalau kendaraan yang masuk ke Nusantara juga ikut setir kanan.

Menariknya, Belanda sendiri belakangan justru pindah haluan ke setir kiri usai negeri kincir angin itu ditaklukkan oleh pasukan Napoleon, yang kemudian membawa kebiasaan setir kiri ala Prancis.

Namun, perubahan ini rupanya tidak diikuti oleh negeri-negeri jajahannya, termasuk Indonesia. Alhasil, sampai hari ini pun mobil-mobil di Indonesia tetap setia dengan setir kanan, sementara Belanda sudah lama beralih ke setir kiri.

Makin Kokoh gara-gara Penjajahan Jepang

Makin Kokoh gara-gara Penjajahan Jepang
Wikimedia Commons/Nicholas de St. Germain

Selepas era Belanda berakhir, Indonesia memasuki masa pendudukan Jepang. Nah, di sinilah kebiasaan setir kanan makin diperkuat. Sebab, sama seperti Belanda, Jepang juga merupakan negara penganut sistem setir kanan.

Kondisi ini membuat posisi setir kanan makin mengakar di Indonesia, apalagi negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand pun ikut menerapkan sistem yang sama.

Bisa dibilang, kombinasi pengaruh Belanda dan Jepang inilah yang bikin setir kanan jadi identitas kendaraan di kawasan ini, bukan cuma di Indonesia saja.

Sudah Jadi Kebiasaan sejak Eropa Abad Pertengahan

Sudah Jadi Kebiasaan sejak Eropa Abad Pertengahan
Wikimedia Commons/Petar Milošević

Kalau ditelusuri lebih jauh lagi, akar dari kebiasaan setir kanan ini sebenarnya jauh lebih tua dari era kolonial.

Dilansir dari Astra Daihatsu, kebiasaan ini bermula ketika Inggris masih berada di bawah kekuasaan Romawi. Kala itu, para prajurit terbiasa berjalan atau berkuda di sisi kiri jalan sambil menggenggam senjata dengan tangan kanan agar siap siaga menghadapi musuh dari arah berlawanan.

Posisi tangan kanan yang dominan untuk memegang senjata inilah yang lambat laun menjadi kebiasaan turun-temurun, bahkan setelah kereta kuda dan mobil ditemukan.

Pengendara pun terbiasa duduk atau mengemudi dari sisi yang memudahkan mereka mengatur kendaraan sekaligus waspada terhadap sekitarnya.

Adaptasi Infrastruktur

Adaptasi Infrastruktur
Pexels/Tom Fisk

Setelah puluhan tahun berjalan, sistem setir kanan ini bukan cuma menjadi kebiasaan, tapi juga sudah menyatu dengan infrastruktur di Indonesia.

Mulai dari arah lalu lintas, posisi rambu jalan, sampai desain jalan raya, semuanya sudah dirancang mengikuti pola kendaraan bersetir kanan yang melaju di lajur kiri.

Mengubah sistem ini secara nasional tentu bukan perkara mudah. Butuh biaya besar, waktu panjang, dan penyesuaian besar-besaran, mulai dari posisi setir kendaraan, rambu-rambu, hingga kebiasaan jutaan pengendara. 

Itulah kenapa sejak tahun 1970-an, impor mobil setir kiri ke Indonesia pun mulai dibatasi demi menjaga konsistensi sistem yang sudah berjalan. Bisa dibilang, mempertahankan setir kanan jauh lebih efisien ketimbang membongkar ulang seluruh sistem yang sudah mapan.

Lebih Aman untuk Kondisi Jalan di Indonesia

Lebih Aman untuk Kondisi Jalan di Indonesia
Pexels/Andhika Indra Pratama

Selain soal sejarah dan infrastruktur, ada juga alasan keselamatan yang membuat setir kanan tetap dipertahankan.

Posisi setir yang searah dengan lajur kendaraan dinilai memberi pengemudi jangkauan pandangan yang lebih luas ke arah lawan lajur, sehingga lebih mudah memperkirakan jarak saat menyalip atau berpapasan dengan kendaraan lain.

Kalau posisi setir dan lajur kendaraan tidak sinkron, risiko pengemudi kehilangan visibilitas ke sisi jalan yang berlawanan justru makin besar.

Itulah kenapa kombinasi setir kanan dengan lajur kiri di Indonesia dianggap sudah pas dan lebih aman, apalagi kondisi jalan di banyak daerah masih sempit dan padat oleh kendaraan.

Nah, itulah pembahasan mengenai kenapa mobil di Indonesia pakai setir kanan? Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More