Memasukkan Barang ke Keranjang tapi Tidak Checkout Bisa Berikan Rasa Bahagia

Proses memilih barang dapat memberikan kembali rasa kendali, sehingga membantu mengurangi rasa sedih.
Pilihan belanja hipotetis tetap menunjukkan efek psikologis meski tidak berujung pada pembelian nyata.
Efek tersebut lebih berkaitan dengan rasa sedih, bukan semua emosi negatif atau kebiasaan belanja impulsif.
Pernah iseng membuka online shop, melihat-lihat produk, membandingkan harga, lalu memasukkan beberapa barang ke keranjang tanpa benar-benar membelinya? Aktivitas sederhana seperti ini ternyata bisa terasa menyenangkan bagi sebagian orang.
Ada alasan psikologis yang dapat menjelaskan sensasi tersebut. Penelitian Scott Rick, Beatriz Pereira, dan Katherine Burson yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Psychology menemukan bahwa proses membuat pilihan saat berbelanja dapat membantu mengurangi rasa sedih karena memberikan kembali rasa kendali terhadap lingkungan. Menariknya, efek itu juga muncul ketika pilihan belanja hanya bersifat hipotetis, bukan pembelian sungguhan.
Berikut Popmama.com rangkum alasan kenapa memasukkan barang ke keranjang meski tidak checkout bisa terasa menyenangkan.
Table of Content
1. Proses memilih barang bisa memberikan rasa kendali

Pexels/cottonbro studio Salah satu alasan utama aktivitas belanja terasa menyenangkan adalah adanya kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa rasa sedih sering berkaitan dengan perasaan bahwa keadaan di luar diri kita lebih menentukan apa yang terjadi dalam hidup.
Saat berbelanja, seseorang justru memiliki kebebasan menentukan barang mana yang disukai, dipertimbangkan, atau ingin dibeli. Proses memilih ini dinilai dapat membantu mengembalikan sense of control atau rasa kendali pribadi.
Karena itu, sensasi yang terasa menyenangkan bukan semata-mata berasal dari barangnya, melainkan dari pengalaman bahwa kita bisa mengambil keputusan sendiri.
2. Tidak harus benar-benar membeli untuk merasakan efeknya

Freepik/tonodia Hal menarik dari penelitian tersebut adalah manfaat psikologis tidak hanya ditemukan pada pembelian nyata. Dalam eksperimen pertama, peserta diminta membuat pilihan mengenai produk yang secara hipotetis akan mereka beli.
Hasilnya menunjukkan bahwa membuat pilihan belanja secara hipotetis tetap membantu mengurangi rasa sedih. Dengan kata lain, unsur pentingnya terletak pada proses mengambil keputusan, bukan semata-mata pada transaksi atau kepemilikan barang.
Temuan ini cukup relevan dengan kebiasaan memasukkan barang ke keranjang online tanpa checkout. Meski penelitian tersebut tidak secara khusus meneliti perilaku add to cart, aktivitas itu tetap melibatkan proses mempertimbangkan dan memilih barang.
3. Bukan sekadar distraksi karena melihat-lihat barang

Pexels/Cup of Couple Peneliti juga mencoba membedakan efek membuat pilihan dengan aktivitas sekadar melihat-lihat produk. Dalam eksperimen pertama, ada kelompok peserta yang harus memilih produk dan ada kelompok lain yang berinteraksi dengan produk tanpa membuat keputusan pembelian.
Hal ini dilakukan untuk melihat apakah perbaikan suasana hati hanya terjadi karena perhatian seseorang teralihkan oleh aktivitas belanja. Hasil penelitian mendukung gagasan bahwa unsur pilihan dan pemulihan rasa kendali memiliki peran penting.
Jadi, sekadar scroll mungkin memberikan distraksi, tetapi proses memutuskan “yang ini aku suka” atau “yang ini masuk keranjang dulu” bisa memberikan pengalaman psikologis yang berbeda.
4. Efeknya lebih terbukti untuk mengurangi rasa sedih

Pexels/Pavel Danilyuk Meski aktivitas ini bisa terasa menyenangkan, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa memasukkan barang ke keranjang dapat mengatasi semua bentuk stres atau emosi negatif.
Penelitian Rick dan rekan-rekannya secara khusus mengukur residual sadness, yakni rasa sedih yang masih tersisa setelah seseorang mengalami situasi yang memicu kesedihan. Tiga eksperimen mereka menunjukkan bahwa membuat pilihan saat berbelanja dapat membantu mengurangi rasa sedih tersebut.
Efek yang sama bahkan tidak ditemukan untuk kemarahan. Ini menunjukkan bahwa manfaat psikologis dari aktivitas memilih saat berbelanja tidak otomatis berlaku untuk semua emosi negatif.
5. Tetap perlu dibedakan dengan kebiasaan belanja impulsif

Pexels/Andrea Piacquadio Memasukkan barang ke keranjang tanpa membeli mungkin menjadi aktivitas ringan yang terasa menyenangkan. Namun, efek ini sebaiknya tidak diartikan bahwa belanja selalu menjadi cara terbaik untuk memperbaiki suasana hati.
Penelitian tersebut sendiri membahas bagaimana proses membuat pilihan dapat membantu memulihkan rasa kendali, bukan menyarankan seseorang harus membeli barang setiap kali merasa sedih. Bahkan, pada eksperimen pertama, pilihan yang dibuat peserta hanya bersifat hipotetis.
Jadi, kalau sekadar scroll online shop lalu mengisi keranjang terasa menyenangkan, salah satu penjelasannya bisa berasal dari sensasi memiliki pilihan dan kendali. Namun, belum ada bukti dari studi ini bahwa aktivitas add to cart secara khusus memicu dopamin atau menjadi cara untuk mengatasi stres secara umum.




-IK9skKl3YpNBU2IgEyGrNaX4sG3i3X1a.png)

















