Tes PCR Tidak Diperlukan Lagi setelah Isolasi Mandiri, Apa Alasannya?

Tes PCR tidak optimal dalam pendeteksian virus

23 Juni 2021

Tes PCR Tidak Diperlukan Lagi setelah Isolasi Mandiri, Apa Alasannya
Freepik/Prostooleh
Ilustrasi

 hDi masa pandemi seperti saat ini, tes PCR (polymerase chain reaction) sangat membantu untuk mendeteksi material genetik virus Corona di dalam tubuh. Di samping itu, tes ini juga sering dimanfaatkan untuk memastikan hasil dari tes cepat lewat GeNose.

Ketika virus Sars-CoV-2 mulai menyerang Indonesia, tes PCR masih dianjurkan untuk dilakukan setelah menjalani isolasi mandiri. Hal itu ditujukan untuk memastikan apakah tubuh sudah sembuh dari infeksi virus atau tidak. Akan tetapi, ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi sekarang.

Penjelasan mengenai peniadaan tes PCR setelah isolasi mandiri tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Reisa Broto Asmoro. Ia menjelaskan bahwa tes PCR bukan lagi menjadi penentu kesembuhan karena dianggap kurang optimal.

Untuk mengetahui berita selengkapnya, mari simak informasi yang telah Popmama.com rangkum tentang peniadaan tes PCR setelah isolasi mandiri.

Editors' Picks

1. Alasan ditiadakannya tes PCR setelah isolasi

1. Alasan ditiadakan tes PCR setelah isolasi
Unsplash/Mufid Majnun
Ilustrasi

Sebelumnya, di masa awal-awal pandemi, pasien yang telah isolasi mandiri wajib untuk melakukan tes PCR. Prosedur tersebut bertujuan untuk memastikan apakah seseorang sudah terbebas dari segala material genetik virus Covid-19.

Namun setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata tes PCR kurang efektif dalam menentukan kesembuhan pasien. Sebab, tes tersebut tidak mampu membedakan virus yang aktif, virus yang sudah inaktif, ataupun sisa-sisa partikel virus.

Penting diketahui, walaupun sudah dinyatakan sembuh, partikel virus masih bisa bertahan dalam tubuh hingga berbulan-bulan. Ketidakoptimalan PCR ini cukup berbahaya karena apabila terus dilakukan, dapat memicu kekeliruan bahwa badan sudah steril total, padahal bisa saja belum.

Berkaitan dengan itu, Reisa menegaskan kalau tes PCR hanya akan digunakan untuk diagnosis Covid-19, bukan penentu kesembuhan.

2. Reisa: ‘Selalu konsultasi kepada tenaga medis, jangan putuskan sendiri!’

2. Reisa ‘Selalu konsultasi kepada tenaga medis, jangan putuskan sendiri’
Freepik/Tirachardz
Ilustrasi

Walaupun tes PCR sudah ditiadakan, Reisa tetap mengingatkan agar pasien positif corona tetap berhubungan dengan dokter yang menangani.

Sejatinya, berdasarkan panduan Kementerian Kesehatan, setiap orang wajib melakukan karantina mandiri paling sedikit selama 10 hari dan 3 hari tambahan. Akan tetapi, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda. Ada yang bisa langsung pulih, ada yang masih merasakan gejala penyakit.

Terlebih lagi, akhir-akhir ini marak terkait persoalan long covid. Dikarenakan keadaan tersebut, mereka yang telah sembuh dari Covid-19 terkadang merasa lebih sakit dibandingkan selama masa medikasi.

Itu sebabnya mengonsultasikan diri mengenai kapan harus menghentikan atau menyelesaikan masa karantina wajib dilakukan untuk mencegah hal yang tak diinginkan.

3. 5 hal yang perlu diperhatikan saat isolasi mandiri

3. 5 hal perlu diperhatikan saat isolasi mandiri
Freepik/Crowf
Ilustrasi

Dalam melakukan isolasi di rumah, penting sekali untuk tetap disiplin dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Setidaknya, Reisa menekankan 5 hal untuk senantiasa diperhatikan oleh masyarakat yang menjalani karantina mandiri, di antaranya:

1. Lapor Terlebih Dahulu

Gejala ringan Covid-19 biasanya mengharuskan seseorang untuk melakukan karantina di rumah. Karena tidak berat, masyarakat mengira bisa langsung melaksanakannya tanpa perlu menunjukkan hasil tes positifnya ke tenaga medis.

Menurut Reisa, ini adalah sebuah kekeliruan. Prosedur tersebut tidak boleh seenaknya dikerjakan. Seorang pasien harus tetap melaporkan hasil tes yang ia dapatkan. Tujuannya adalah supaya proses isolasi yang nantinya akan dikerjakan tetap terpantau oleh tenaga medis.

2. Jangan Ikut-ikutan Orang Lain

Melanjut dari poin sebelumnya, dengan melapor, dokter/tenaga medis akan memberikan terapi dan penangan yang paling tepat untuk pasien. Mereka nantinya juga akan diberi sejumlah obat untuk mempercepat proses pemulihan.

Masyarakat sangat tidak dianjurkan untuk mengikuti pengobatan yang didapat oleh orang lain. Lagi-lagi karena kondisi tubuh seseorang tidak sama.

“Jangan ikut-ikutan pengobatan, ‘si tentangga minum ini, minum itu, cepat tuh sembuhnya’. Belum tentu. Jadi berbeda-beda pada setiap tubuh pasien,” jelas Reisa.

3. Mempersiapkan Ruang Isolasi Terbaik

Ruangan yang akan dijadikan sebagai tempat isolasi mandiri harus memiliki ventilasi yang baik. Hal ini juga bertujuan untuk membiarkan sinar matahari dan udara masuk.

Di dalam ruangan itu juga, pasien sangat disarankan untuk sering membuka jendela supaya bisa berjemur dan melakukan olahraga ringan.

4. Memiliki Ruangan yang Terpisah

Selain poin ketiga, ruangan yang akan ditempati juga harus terpisah. Hal ini untuk mencegah menularkan virus kepada orang rumah lainnya yang sehat.

Itu sebabnya, ruangan tersebut harus lengkap, seperti memiliki kamar mandi. Semisal kondisi memaksa untuk pemakaian bersama, maka kamar mandi tersebut harus segera dibersihkan setelah pemakaian dan sebelum dimasuki oleh anggota keluarga lain;

5. Hindari Berinteraksi dengan Orang Rumah

Yang terakhir, pastikan untuk tidak berinteraksi dengan orang rumah. Sekecil apapun kontak dengan anggota keluarga lain bisa meningkatkan risiko penularan virus.

Maka dari itu, selama masa isolasi mandiri, seorang pasien juga harus dituntun mandiri, mulai dari makan, membersihkan ruangan, hingga memakai APD dan masker. Kalaupun ada orang rumah yang ingin mengantarkan makanan, makai a harus mengenakan masker dan menaruh makanan tersebut di luar ruangan.

Itulah informasi mengenai tes PCR yang sudah tidak diberlakukan lagi setelah masa isolasi mandiri.

Bagi mereka yang tengah menjalani proses karantina di rumah, pastikan untuk memerhatikan kelima poin di atas.

Buat kamu yang sehat, selama masa PPKM ini, usahakan untuk tetap berada di rumah serta gunakan masker dan patuhi protokol kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.