Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Panduan WFO untuk Orangtua saat Terjadi Sebaran Abu Vulkanik
memakai masker bekerja di laptop di lingkungan kantor (pexels.com/Ivan S)
  • Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau di Jabodetabek berisiko mengganggu pernapasan, mata, dan kulit karena mengandung partikel silika tajam serta mineral abrasif.
  • Orangtua yang WFO diminta memantau informasi resmi, memilih perjalanan tertutup, memakai masker N95 atau KN95 dan kacamata, serta mengenakan pakaian tertutup.
  • Saat sekolah menerapkan PJJ, orangtua perlu mengatur pengasuhan bersama pasangan atau keluarga, membersihkan abu dengan air, dan menyiapkan kebutuhan anak selama kondisi berlangsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dilaporkan merata di Jabodetabek, sehingga pekerja yang tetap bekerja dari kantor perlu melakukan langkah perlindungan saat perjalanan dan beraktivitas.
  • Who?
    Orangtua pekerja di Jabodetabek, anak yang menjalani pembelajaran jarak jauh, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Banten terlibat dalam kondisi ini.
  • Where?
    Dampak sebaran abu dilaporkan terjadi di wilayah Jabodetabek, termasuk DKI Jakarta dan Banten, pada perjalanan menuju kantor, area luar ruangan, serta lingkungan rumah dan sekolah.
  • When?
    Hujan abu berlangsung pasca erupsi Gunung Anak Krakatau. Kebijakan pembelajaran jarak jauh di sejumlah sekolah DKI Jakarta dan Banten berlaku sejak Senin, 7 September 2026, hingga pemberitahuan lebih lanjut.
  • Why?
    Abu vulkanik mengandung serpihan silika, mineral abrasif, serta partikel tajam yang dapat mengganggu pernapasan, mata, dan kulit. Sekolah menerapkan PJJ untuk mengurangi paparan abu pada siswa.
  • How?
    Pekerja dianjurkan memantau informasi BMKG atau PVMBG, memakai masker N95 atau KN95 dan kacamata, memilih transportasi tertutup, mengenakan pakaian tertutup, serta membersihkan abu menggunakan air dan deterjen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Abu dari Gunung Anak Krakatau jatuh di Jabodetabek. Mama dan Papa yang harus ke kantor perlu hati-hati. Mereka diminta pakai masker N95 atau KN95, kacamata, dan baju tertutup. Mereka juga harus cek kabar cuaca. Sekolah di Jakarta dan Banten sekarang belajar dari rumah sampai ada kabar baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah sebaran abu vulkanik, orangtua tetap memiliki ruang untuk menjaga aktivitas kerja dan kebutuhan keluarga melalui persiapan yang terarah. Akses informasi resmi, perlindungan saat perjalanan, kebersihan perlengkapan, serta koordinasi pengasuhan menciptakan langkah-langkah praktis yang dapat membantu mengurangi kekhawatiran ketika anak belajar dari rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang merata di wilayah Jabodetabek membuat banyak pekerja di ibu kota ikut terdampak. Berada di pusat ekonomi Indonesia, banyak pekerja yang harus tetap ke kantor meskipun hujan abu pasca erupsi masih berlangsung.

Abu vulkanik tidak bisa dianggap seperti debu halus biasa, sebab mengandung serpihan silika tajam dan mineral abrasif. Partikel abu vulkanik yang terpapar dapat memicu gangguan kesehatan, terutama di area pernapasan, mata, dan kulit.

Bagi Mama dan Papa yang harus ke kantor di tengah hujan abu vulkanik, persiapkan diri dan amunisi yang perlu dibawa agar tetap aman.

Ini dia panduan WFO untuk orangtua saat terjadi sebaran abu vulkanik yang telah Popmama.com ulas. Yuk, disimak!

1. Cek kondisi cuaca terkini sebelum berangkat

cek kualitas udara lewat aplikasi IQAir (iqair.com)

Penting untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru terkait kondisi cuaca, kualitas udara, dan sebaran abu vulkanik di area sekitar Mama dan Papa. Sebelum berangkat, cek informasi dari BMKG atau PVMBG soal sebaran abu dan level siaga gunung. 

Informasi dapat diakses di laman media sosial resmi, situs resmi, atau memantau kondisi lewat unggahan media sosial. Setelah mengetahui perkembangan informasi terbaru, Mama dan Papa dapat menentukan rute paling aman untuk berangkat menuju kantor. 

Nyalakan lampu, kurangi kecepatan, dan bersihkan kaca berkala saat mengendarai mobil atau motor. Jika naik transportasi umum, hindari berada di area terbuka atau halte terlalu lama.

2. Gunakan masker dan kacamata selama di luar ruangan

ilustrasi memakai kacamata dan masker (magnific.com/senivpetro)

Penggunaan masker selama sebaran abu vulkanik sangatlah penting untuk mencegah paparannya ke saluran pernapasan. Masker yang direkomendasikan untuk perlindungan maksimal dari paparan abu adalah masker tipe N95 atau KN95 yang dapat menyaring 95% partikel halus sekaligus menutup wajah dengan rapat.

Selain menggunakan masker, pastikan untuk menggunakan kacamata selama perjalanan ke kantor untuk melindungi mata dari partikel abu. Anjuran ini juga disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring.

“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” kata Menkes Budi, Minggu (6/9/2026).

3. Hindari paparan debu selama berkendara atau commuting

Ilustrasi perjalanan WFO di tengah sebaran abu vulkanik (commons/wikimedia.org/Florian Fèvre)

Selama perjalanan menuju kantor, tentu Mama dan Papa akan berhadapan langsung dengan sebaran abu vulkanik dan debu halus yang tersebar di jalanan.

Menurut Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Siloam Heart Hospital, dr. Sadikin Giriputra, Sp. P(K), MARS, abu vulkanik secara mengandung partikel mineral yang disebut silikat mikroskopis. Permukaannya kasar dan bersudut karena tersusun dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik. 

Sebaiknya pilih transportasi yang lebih tertutup selama sebaran abu vulkanik masih ada. Mama dan Papa bisa berangkat dan pulang dengan mobil atau taksi online. Selain mobil, opsi perjalanan yang lebih cepat juga bisa memilih commuting dengan KRL, MRT, atau LRT untuk bekerja.

4. Kenakan pakaian kantor yang tertutup, bawa ganti bila perlu

ilustrasi memakai masker (pexels.com/Gustavo Fring)

Untuk menghindari paparan abu vulkanik pada kulit, sebaiknya gunakan pakaian yang tertutup. Gunakan juga pakaian dengan bahan yang mudah dicuci, terlebih jika terkena paparan debu atau abu vulkanik.

Untuk perlindungan maksimal, Mama dan Papa juga dapat membawa pakaian lain untuk diganti saat tiba di kantor. Jika tidak, bersihkan pakaian terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas kerja.

5. Bersihkan abu dengan dibasahi terlebih dahulu

ilustrasi cuci baju (freepik.com/pressfoto)

Meskipun abu vulkanik tampak tidak terlihat, pakaian yang Mama dan Papa gunakan selama perjalanan dan pulang kantor harus dibersihkan. Jika tidak dibersihkan segera, partikel abu vulkanik yang menempel di pakaian dapat terbang setelah tiba di kantor atau di rumah.

Mengutip dari United States Geological Survey (USGS), sebaiknya bersihkan abu vulkanik yang menempel dengan dicuci dengan air dan deterjen. Hindari tindakan menggosok berlebihan karena partikel abu yang tajam dapat memotong serat tekstil, Ma.

Jika abu menempel di tas atau perlengkapan lain yang dibawa untuk bekerja, sebaiknya langsung cuci dengan air, jangan langsung dilap atau ditiup.

6. Konsultasikan dengan pasangan terkait pengasuhan anak

Pexels (anak pjj)

Sebaran abu vulkanik membuat sejumlah sekolah di DKI Jakarta dan Banten menerapkan aturan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk mencegah siswa terpapar.

Kebijakan yang dikeluarkan langsung oleh Pemerintah Provinsi ini diberlakukan sejak Senin, 7 September 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kondisi ini membuat anak harus sekolah di rumah, sehingga koordinasi dengan pasangan untuk menentukan siapa yang harus bekerja dari rumah juga penting jika sama-sama bekerja.

Jika tidak bisa bekerja dari rumah, Mama dan Papa dapat berkomunikasi dengan keluarga, asisten rumah tangga (ART), atau daycare untuk menjaga si Kecil selama sekolah dari rumah. 

7. Tetap berpikir positif dan tidak terlalu overthinking

ilustrasi memakaikan masker pada anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Sebaran abu vulkanik sangat wajar membuat orang tua khawatir terhadap kondisi anak. Penelitian dari International Journal of Environmental Research and Public Health terhadap 1.298 ibu di Jepang juga membuktikan 61,5% ibu melaporkan merasa khawatir terhadap dampak evakuasi terhadap anak. 

Faktor yang membuat ibu-ibu tersebut khawatir mulai dari belum menyiapkan tas bencana, tidak memiliki orang yang bisa diandalkan, anak masih di bawah 3 tahun, hingga anak memiliki riwayat alergi. Artinya, penyebab kekhawatiran ini dapat diatasi dengan persiapan selama kondisi sulit diprediksi seperti saat ini, Ma.

Itu dia penjelasan seputar panduan WFO untuk orangtua saat terjadi sebaran abu vulkanik.

Perlu persiapan lebih matang untuk menghadapi sebaran abu vulkanik di tengah aktivitas kerja Mama dan Papa!

Curated For You

Editorial Team

Related Article