Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Pengalaman Menarik Para Pemain Film Ghost in the Cell
Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya
  • Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar menggabungkan horor, komedi, dan satire sosial dengan latar penjara yang menghadirkan ketegangan sekaligus hiburan bagi penonton.

  • Para pemain seperti Danang, Aming, Morgan, Abimana, dan Ho Yuhang berbagi pengalaman mendalam selama syuting, mulai dari tantangan karakter hingga eksplorasi emosi pribadi.

  • Joko Anwar terinspirasi dari rekan-rekannya saat menjadi jurnalis untuk menciptakan karakter dan dinamika sosial yang realistis dalam film ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri perfilman Tanah Air sedang dihebohkan dengan kabar proyek terbaru dari sutradara ternama, Joko Anwar.

Film berjudul Ghost in the Cell ini berhasil menarik perhatian publik bukan hanya karena genrenya yang unik, yaitu perpaduan horor, komedi, dan satire sosial, tetapi juga karena jajaran pemainnya yang punya cerita unik masing-masing.

Terletak di balik jeruji besi yang dingin, film ini menjanjikan ketegangan sekaligus tawa yang tidak biasa bagi penontonnya, terutama bagi keluarga di rumah yang menantikan tontonan berkualitas.

Namun, di balik layar yang memukau tersebut, tersimpan berbagai cerita unik dari para aktor yang terlibat. Proses syuting yang dilakukan di lokasi yang menyerupai penjara asli nyatanya memberikan dampak emosional dan fisik yang cukup besar bagi para pemain.

Dari perjuangan mendalami karakter hingga pengalaman pribadi yang dibawa ke dalam set, berikut Popmama.com sajikan lima pengalaman menarik para pemain film Ghost in the Cell. Simak sampai habis, ya!

1. Danang ungkap kesulitan dalam perankan karakternya

Instagram.com/dananggoldluck

Nama Danang selama ini lebih dikenal sebagai sosok penghibur yang selalu berhasil mengocok perut penonton dengan gaya komedinya yang khas.

Namun, dalam film Ghost in the Cell, Danang ditantang untuk keluar dari zona nyamannya secara total. Ia mengungkapkan bahwa memerankan karakter di film ini adalah salah satu titik tersulit dalam kariernya.

Bukan karena ia harus menjadi lucu, tetapi karena ia harus memerankan karakter yang menurutnya sulit dalam berbicara dengan artikulasi yang cepat.

"Untuk karakternya sendiri, kesulitannya adalah Irfan itu kalau ngomong cepat dan ada dorongan yang Bang Joko kasih buat Irfan kenapa dia bisa berbicara secepat itu." ucap Danang saat konferensi pers film Ghost in the Cell di Epicentrum XXI, Jakarta pada Kamis (9/4/2026).

Selain itu, Danang juga bercerita bahwa suasana saat syuting pun menyenangkan dan saling mendukung satu sama lain. Danang juga mengakui bahwa ia kaget tiba-tiba filmnya sudah selesai dan akan tayang.

"Pengalaman syuting kami sangat menyenangkan dan tidak ada kanibalisme satu sama lain kalau kata Kak Aming," tambah Danang.

2. Aming eksplorasi pengalaman pribadi

Instagram.com/amingisback

Aming, yang berperan sebagai karakter bernama Tokek, kembali menunjukkan taringnya sebagai aktor yang hebat. Aming mengaku melakukan eksplorasi mendalam terhadap pengalaman pribadinya untuk menghidupkan karakter Tokek yang kompleks.

Tokek digambarkan sebagai narapidana yang memiliki lapisan emosi yang dalam, antara keceriaan yang dipaksakan dan luka batin yang tersembunyi.

"Sedikit banyak karakternya base on my experience gitu, kan. Salah satunya kaya manggil-manggil trauma di masa lalu. Terus juga dari historical background-nya." ucap Aming.

Aming juga menyebutkan bahwa bantuan dari sang sutradara, Joko Anwar, sangat membantunya dalam pengembangan karakternya dalam film ini.

"Joko Anwar tiap bikin karakterisasi setiap karakter dia udah nyiapin character sheet gitu. Nah, dia bikin character sheet-nya seperti apa untuk masing-masing karakter dan Abang (Joko Anwar) juga terbuka untuk diskusi gimana cara ngedevelop karakternya untuk bisa sesuai keinginan." pungkas Aming.

3. Morgan dan Abimana saling adu akting

Instagram.com/abimana_arya

Salah satu daya tarik utama dari film ini adalah pertemuan antara dua aktor lintas generasi yang memiliki kemampuan akting jempolan, yakni Morgan Oey dan Abimana Aryasatya.

Keduanya terlibat dalam banyak adegan yang menuntut intensitas tinggi di dalam penjara. Salah satu momen ikonik dalam film ini yaitu ketika Abimana dan Morgan melakukan adegan perkelahian yang epik ditambah adegan komedi sebagai sambilannya.

"Sebenarnya itu quite a challenge ya. Pertama kali (melakukan adegan itu), karena kita harus mix a lot of semua adegan secara keseluruhan, dari awal keluar sel sampai ke fighting scene. Itu cukup sulit saat saya pertama kali membacanya, ini akan jadi kerja keras." pungkas Abimana

Selama proses syuting, keduanya sering berdiskusi untuk menciptakan dinamika hubungan antara narapidana yang meyakinkan. Abimana, dengan pembawaannya yang tenang tapi kuat, mampu mengimbangi energi Morgan yang sangat berapi-api.

Interaksi mereka di lokasi syuting menciptakan atmosfer yang sangat kompetitif, sehingga setiap adegan yang dihasilkan terasa sangat organik.

Morgan juga mengungkapkan bahwa ia sempat kesulitan saat melakukan adegan perkelahian sambil melakukan adegan komedi di tengah-tengahnya, bahkan ia juga saling berdiskusi dengan kru film untuk menciptakan adegan itu dengan baik.

4. Ho Yuhang ungkap nasib yang sama saat perankan karakternya

imdb.com

Kehadiran Ho Yuhang dalam jajaran pemain memberikan warna internasional pada film ini. Sineas asal Malaysia ini tidak hanya memberikan performa akting yang memukau, tetapi juga merasakan keterikatan pribadi yang kuat dengan naskah yang ditulis oleh Joko Anwar.

Ho Yuhang mengungkapkan bahwa ia merasa memiliki "nasib yang sama" dengan karakter yang ia perankan, terutama dalam hal perasaan terasing dan terjepit di tengah lingkungan yang tidak ramah.

"Jadi kalau ikut konteks ini tak jauh beda, karena situasi di Malaysia tidak jauh beda dengan Indonesia. Jadi, tidak susah untuk paham skrip itu," ucap Ho Yuhang.

Ia merasa bahwa apa yang menjadi kritik yang ada di film Ghost in the Cell ini tidak menyulitkannya untuk berakting, walaupun berbeda tempat dengan negaranya. Karena adanya kesamaan itulah ia merasa mudah memerankan karakternya di film ini.

5. Rekan Joko Anwar jadi inspirasi di film

Instagram.com/jokoanwar

Fakta unik terakhir yang jarang diketahui adalah bahwa beberapa elemen karakter dan dinamika sosial di dalam penjara terinspirasi dari rekan-rekan terdekat Joko Anwar sendiri.

Sang sutradara memang dikenal sering mengambil inspirasi dari realitas di sekitarnya untuk membangun cerita yang relatable. Joko Anwar mengakui karakter Dimas dalam film terinspirasi dari rekannya dulu di Jakarta Post saat masih jadi jurnalis.

"Untuk adegan jurnalis itu, dari ruangannya sampai pernak-pernik di situ adalah yang saya ambil ketika masih sebagai jurnalis di Jakarta Post, dan nama-nama di situ adalah nama-nama rekan saya dulu, ada Dimas." ungkap Joko Anwar.

Inspirasi dari tokoh nyata ini membantu para pemain untuk memahami bahwa karakter yang mereka mainkan bukan sekadar fiksi, melainkan representasi dari manusia-manusia asli dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Hal ini memudahkan para aktor untuk membangun latar belakang cerita (backstory) karakter mereka masing-masing. Dengan adanya referensi yang kuat dari dunia nyata, setiap emosi yang muncul dalam film Ghost in the Cell ini jadi terasa lebih jujur dan tajam bagi penonton.

Nah, itu dia pembahasan mengenai 5 pengalaman menarik para pemain fIlm Ghost in the Cell. Semoga bermanfaat.

Editorial Team