Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Perbedaan UKM dan IKM: Sekilas Mirip, Tapi Aslinya Beda Banget!
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
  • UKM berfokus pada aktivitas perdagangan dan jasa yang fleksibel, sedangkan IKM menitikberatkan pada proses produksi atau manufaktur yang menciptakan nilai tambah dari bahan baku.
  • Pembinaan UKM berada di bawah Kementerian Koperasi dan UKM dengan fokus pemasaran dan akses modal, sementara IKM dibina oleh Kementerian Perindustrian untuk peningkatan kualitas dan efisiensi produksi.
  • Perbedaan utama terlihat pada skala operasional, regulasi, serta arah pengembangan usaha; banyak pelaku bisnis memulai dari UKM sebelum berkembang menjadi IKM saat mulai memproduksi sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masih banyak orang yang mengira UKM dan IKM itu sama. Padahal, keduanya punya peran yang berbeda dalam dunia bisnis, terutama dari cara usaha tersebut dijalankan.

Di Indonesia, UKM dan IKM memang sama-sama masuk kategori usaha skala kecil hingga menengah.

Namun, kalau dilihat lebih dalam, perbedaannya bukan sekadar istilah, melainkan menyangkut aktivitas bisnis, proses kerja, hingga arah pengembangannya.

Nah, supaya kamu nggak salah lagi, Popmama.com telah merangkum 5 perbedaan UKM dan IKM. Yuk, simak perbedaannya di bawah ini.

1. Fokus kegiatan usaha

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

UKM memiliki cakupan usaha yang sangat luas. Kamu bisa menjalankan bisnis jual beli, membuka jasa, atau sekadar menjadi reseller tanpa perlu memproduksi barang sendiri.

Misalnya, buka toko online, jualan makanan, atau jasa cuci motor, semuanya masuk kategori UKM.

Sebaliknya, IKM punya fokus yang lebih spesifik: produksi atau manufaktur. Artinya, pelaku usaha IKM harus benar-benar “menciptakan” produk. Ada proses mengolah bahan baku menjadi barang baru yang punya nilai jual.

Jadi, kalau UKM itu bisa “jual apa saja”, IKM harus “membuat sesuatu dulu baru dijual”.

2. Cara kerja bisnis

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

UKM dikenal lebih fleksibel dalam operasionalnya. Banyak pelaku UKM yang menjalankan bisnis dari rumah, tanpa sistem produksi yang kompleks. Bahkan, beberapa bisa dijalankan sendiri tanpa karyawan.

Karena tidak selalu terlibat dalam proses produksi, alur kerja UKM cenderung lebih sederhana, mulai dari beli barang, simpan, lalu jual kembali ke konsumen.

Berbeda dengan IKM yang biasanya memiliki alur kerja lebih terstruktur. Ada proses produksi, pengemasan, kontrol kualitas, hingga distribusi. Dalam banyak kasus, IKM juga membutuhkan tenaga kerja, alat produksi, dan tempat khusus seperti workshop atau pabrik kecil.

Inilah yang membuat IKM terlihat lebih “industri”, meski skalanya masih kecil hingga menengah.

3. Instansi pembina

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

UKM biasanya dibina oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Fokusnya adalah membantu pelaku usaha berkembang dari sisi bisnis, seperti pemasaran, digitalisasi, hingga akses modal.

Sementara itu, IKM berada di bawah Kementerian Perindustrian. Pembinaannya lebih teknis, seperti peningkatan kualitas produk, efisiensi produksi, penggunaan mesin, hingga standarisasi industri.

Artinya, UKM didorong untuk “laku di pasar”, sedangkan IKM didorong untuk “kuat di produksi”.

4. Proses produksi

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Dalam UKM, tidak semua usaha menciptakan nilai tambah dari produk. Banyak yang hanya menjual ulang barang dari supplier atau distributor.

Contohnya, kamu membeli baju dari grosir lalu menjualnya kembali dengan margin keuntungan. Tidak ada perubahan pada produk tersebut.

Sementara itu, dalam IKM, nilai tambah adalah kunci utama. Produk yang dijual harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Misalnya, kain dijahit jadi baju, kopi mentah diolah jadi kopi kemasan, atau kayu diubah menjadi furnitur.

Semakin tinggi nilai tambahnya, biasanya semakin besar potensi keuntungan dan daya saingnya.

5. Skala usaha dan regulasi

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Baik UKM maupun IKM sama-sama mengacu pada kriteria usaha kecil dan menengah sesuai Undang-Undang No. 20 Tahun 2008.

Namun, dalam praktiknya, IKM sering kali memiliki kebutuhan regulasi tambahan. Misalnya, izin produksi, standar kualitas, hingga sertifikasi tertentu (terutama untuk makanan, minuman, atau produk manufaktur).

UKM cenderung lebih sederhana dalam hal perizinan, terutama jika bergerak di bidang perdagangan atau jasa.

Ini sebabnya banyak pelaku usaha memulai dari UKM dulu sebelum berkembang menjadi IKM.

Contoh Nyata UKM dan IKM

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Supaya lebih gampang dipahami, coba lihat ilustrasi berikut ini.

Bayangkan kamu ingin bisnis fashion:

  • Kalau kamu membeli baju dari supplier lalu menjualnya di marketplace → itu UKM

  • Tapi kalau kamu desain sendiri, beli kain, lalu produksi baju → itu IKM

Contoh lain di bidang kuliner:

  • Jual minuman kemasan dari brand lain → UKM

  • Produksi minuman sendiri dengan resep dan brand sendiri → IKM

Dari sini kelihatan jelas, perbedaannya ada di “ikut jualan” atau “ikut membuat”.

Itulah pembahasan 5 perbedaan UKM dan IKM yang sering mirip, tapi sebenarnya beda jauh. Meski sering disamakan, UKM dan IKM sebenarnya punya peran yang berbeda dalam dunia usaha.

UKM adalah pintu masuk yang lebih fleksibel untuk memulai bisnis, cocok untuk kamu yang ingin langsung jualan tanpa ribet produksi.

Sementara IKM adalah langkah lanjutan bagi pelaku usaha yang ingin naik level dengan menciptakan produk sendiri dan membangun brand.

Menariknya, banyak bisnis besar yang awalnya hanya UKM, lalu berkembang menjadi IKM setelah mulai produksi sendiri. Jadi, kamu tidak harus langsung memilih yang penting mulai dulu dari yang paling sesuai dengan kemampuanmu.

Editorial Team