Di masyarakat, konsumsi garam berlebih sangatlah identik dengan berbagai gangguan kesehatan. Hal ini memang benar dan membuat tidak sedikit orang jadi ekstra hati-hati, bahkan sampai mengurangi garam secara drastis dari makanan sehari-hari.
8 Bahaya Kekurangan Garam bagi Tubuh, Waspada Risiko Dehidrasi!

- Kekurangan garam dapat menurunkan kadar natrium dalam darah, memicu hiponatremia yang berdampak pada otak dan menyebabkan gejala seperti sakit kepala, bingung, hingga kejang.
- Asupan garam terlalu sedikit bisa mengganggu metabolisme tubuh dengan meningkatkan resistensi insulin serta kadar kolesterol jahat, sehingga berisiko terhadap diabetes dan penyakit jantung.
- Natrium rendah membuat tekanan darah turun, tubuh mudah lemas, ginjal bekerja ekstra menjaga keseimbangan cairan, dan meningkatkan risiko dehidrasi terutama saat banyak berkeringat atau sakit.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan garam dalam jumlah yang cukup agar bisa bekerja dengan normal. Kalau asupannya terlalu sedikit, tubuh bisa mulai memberi sinyal tertentu, mulai dari gampang lemas sampai gangguan kesehatan yang lebih serius.
Lantas, apa saja dampak kekurangan garam bagi tubuh? kali ini Popmama.com akan membahas 8 bahaya kekurangan garam bagi tubuh yang juga harus diperhatikan. Yuk, simak selengkapnya!
Table of Content
1. Kadar natrium turun dan bisa mengganggu otak

Salah satu risiko paling serius akibat kekurangan garam adalah hiponatremia, yaitu kondisi ketika kadar natrium di dalam darah terlalu rendah.
Menurut UCLA Health, kondisi ini bisa terjadi saat tubuh kehilangan terlalu banyak natrium atau asupannya memang terlalu sedikit dalam waktu lama.
Saat kadar natrium turun drastis, keseimbangan cairan di dalam tubuh bisa ikut terganggu. Air bisa masuk terlalu banyak ke dalam sel, termasuk sel-sel otak, sehingga memicu pembengkakan.
Karena ruang di dalam tengkorak sangat terbatas, kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti sakit kepala, sulit fokus, bingung, mual, hingga kejang saat semakin parah.
2. Tubuh bisa jadi kurang sensitif terhadap insulin

Mungkin banyak yang belum tahu kalau terlalu membatasi garam juga bisa berdampak pada sistem metabolisme tubuh. Hal ini disebabkan oleh pola makan yang sangat rendah natrium dalam jangka panjang yang kemudian meningkatkan resistensi insulin.
Kalau tubuh mulai kurang sensitif terhadap insulin, gula darah jadi lebih sulit masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi. Akibatnya, kadar gula di darah bisa meningkat dan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko diabetes tipe 2 maupun gangguan metabolisme lainnya.
3. Kolesterol dan trigliserida bisa ikut naik

Pengurangan konsumsi garam memang banyak dilakukan dengan tujuan menjaga kesehatan jantung. Namun, jika dilakukan terlalu ekstrem, hasilnya justru bisa berbalik arah.
Hal ini ditemukan oleh penelitian PubMed Central yang menunjukkan bahwa diet natrium ekstrem justru dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat.
Kadar kolesterol jahat yang tinggi berhubungan erat dengan risiko penyumbatan pembuluh darah. Itu berarti, terlalu sedikit garam belum tentu otomatis lebih baik, apalagi jika tubuh sampai kekurangan natrium yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan metabolisme.
4. Jantung bisa bekerja lebih keras

Walaupun mengurangi konsumsi garam baik untuk kesehatan jantung, jika dilakukan secara ekstrem, dampaknya bisa memengaruhi cara kerja jantung, terutama pada orang yang sudah punya masalah jantung sebelumnya.
Pembatasan natrium yang terlalu ketat pada penderita gagal jantung justru malah meningkatkan risiko komplikasi.
Ketika tubuh kekurangan natrium, volume cairan dan darah dapat ikut menurun. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memastikan oksigen tetap tersalurkan ke seluruh tubuh.
Karena itu, mengurangi garam tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan tidak dilakukan secara berlebihan.
5. Ginjal dipaksa bekerja esktra menjaga keseimbangan tubuh

Tubuh sebenarnya punya cara sendiri untuk bertahan saat kadar garam terlalu rendah. Ketika natrium berkurang, ginjal akan mengaktifkan sistem hormon tertentu untuk menahan air dan garam agar tekanan darah tidak turun terlalu jauh.
Mekanisme ini dikenal sebagai sistem renin angiotensin aldosterone (RAAS).
Dalam jangka pendek, respons ini memang membantu tubuh bertahan. Namun jika berlangsung terus-menerus, kerja hormon tersebut bisa memberi tekanan tambahan pada pembuluh darah dan fungsi ginjal.
6. Mudah lemas, kram otot, dan sulit fokus

Kalau belakangan ini kamu sering merasa lemas, cepat lelah, atau otot gampang kram, bisa jadi tubuh sedang kekurangan elektrolit, termasuk natrium. Melansir dari Health New Zealand, natrium punya peran penting dalam membantu saraf mengirim sinyal ke otot.
Ketika kadarnya terlalu rendah, komunikasi antara saraf dan otot jadi kurang optimal. Hal ini kemudian mengakibatkan tubuh terasa tidak bertenaga, lebih mudah pusing, bahkan sebagian orang mengalami mual atau kram yang muncul berulang.
Bahkan jika semakin parah, konsentrasi juga bisa ikut terganggu karena tubuh sedang berusaha menyesuaikan diri dengan ketidakseimbangan cairan.
7. Tekanan darah bisa terlalu rendah dan membuat kepala terasa ringan

Banyak orang terlalu khawatir soal tekanan darah tinggi, tanpa memikirkan bahwa kekurangan garam juga bisa membuat tekanan darah turun terlalu rendah (hipotensi) yang juga sama berbahaya.
Pada dasarnya, natrium memang punya peran dalam membantu tubuh menjaga keseimbangan cairan dan volume darah agar tetap stabil.
Kalau kadar natrium terlalu rendah, volume cairan di pembuluh darah bisa ikut menurun dan bisa mengakibatkan sebagian orang jadi gampang merasa pusing saat bangun dari duduk atau tidur, kepala terasa ringan, tubuh limbung, hingga seperti mau pingsan.
Kondisi ini bahkan juga bisa membuat tubuh terasa sangat lemas karena aliran darah ke organ tidak berjalan optimal.
8. Risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit

Siapa yang masih mengira kalau kekurangan garam dan dehidrasi adalah dua hal yang berbeda? padahal, keduanya bisa saling berkaitan, lho.
Itu karena natrium termasuk elektrolit penting yang membantu tubuh mengatur keseimbangan cairan, terutama setelah berkeringat, muntah, atau diare.
Mengutip dari UCLA Health, ketika tubuh kehilangan terlalu banyak natrium tanpa diganti dengan cukup, keseimbangan cairan bisa terganggu, membuat tubuh jadi lebih sulit mempertahankan hidrasi secara optimal.
Tandanya bisa berupa mulut terasa kering, tubuh cepat lelah, sakit kepala, atau muncul rasa lemas yang tidak biasa. Risiko ini akan cenderung lebih besar pada orang yang berolahraga intens, sering berkeringat, atau sedang sakit.
Itu dia 8 bahaya kekurangan garam bagi tubuh yang sering tidak disadari. Mengurangi garam memanglah penting, tetapi bukan berarti harus menghilangkannya sama sekali dari pola makan sehari-hari.


















