Salah satu jenis pneumonia yang perlu dikenali adalah pneumonia pneumokokus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan dapat menimbulkan infeksi serius pada paru-paru.
Pneumonia Pneumokokus: Gejala, Penyebab, dan Faktor Risiko

Pneumonia pneumokokus adalah infeksi paru akibat bakteri Streptococcus pneumoniae, berbeda dari flu meski sama-sama dapat memicu batuk dan demam.
Risiko penyakit serius lebih tinggi pada lansia, penderita penyakit kronis, perokok, peminum alkohol berlebihan, pengidap HIV, serta jemaah haji dan umrah.
Gejala meliputi batuk, demam, nyeri dada, napas cepat, dan sesak; sesak berat, kebingungan mendadak, atau nyeri dada memerlukan pertolongan medis segera.
Pneumonia menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan komplikasi serius.
Kondisi ini juga tidak selalu mudah dibedakan dari penyakit pernapasan lain hanya berdasarkan gejalanya.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi mengenai pneumonia pneumokokus.
Table of Content
Apa Itu Pneumonia Pneumokokus?

Popmama.com/Sania Chandra Pneumonia pneumokokus adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae, yang juga dikenal sebagai bakteri pneumokokus.
Bakteri tersebut dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit, mulai dari infeksi telinga dan sinus hingga penyakit serius seperti pneumonia, meningitis, dan infeksi pada aliran darah.
Pneumonia pneumokokus juga kerap disalahartikan sebagai flu karena keduanya dapat menimbulkan beberapa gejala yang serupa, seperti batuk dan demam. Namun, pneumonia dan flu merupakan penyakit yang berbeda. Bahkan, infeksi flu dapat berkembang menjadi pneumonia pada kondisi tertentu.
“Pneumonia dan flu bukan penyakit yang sama, meskipun flu dapat berkembang menjadi pneumonia. Keduanya bisa menimbulkan batuk dan demam, sehingga keluarga sebaiknya tidak menyimpulkan penyebabnya berdasarkan gejalanya saja. Sesak napas atau nyeri dada perlu segera diperiksakan ke dokter. Kesulitan bernapas yang parah atau kebingungan yang muncul tiba-tiba memerlukan penanganan gawat darurat” ujar dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam, Penyakit Tropik dan Infeksi, saat acara ‘Media Roundtable: Pfizer Indonesia “Lindungi Napasmu, Jaga Momen Berarti”’ di Hotel Fairmont, Kamis (24/9/2026).
Siapa yang Rentan Terkena Pneumonia Pneumokokus?

Popmama.com/Sania Chandra Pneumonia pneumokokus dapat dialami siapa saja, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit pneumokokus yang serius. Berikut di antaranya:
- Lansia dengan usia di atas 50 tahun.
- Orang dewasa usia 18+ dengan kondisi kronis seperti diabetes, asma atau penyakit kardiovaskular.
- Orang dengan kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, HIV, serta penyakit kronis pada hati juga dapat meningkatkan risiko penyakit pneumokokus.
- Jemaah haji dan umrah. Selama menjalankan ibadah, jemaah dapat berada dalam kondisi yang padat, melakukan aktivitas fisik yang cukup intens, serta menghadapi paparan suhu yang tinggi. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tambahan bagi kesehatan.
“Seiring bertambahnya usia, tubuh semakin sulit melawan infeksi. Penyakit kronis seperti diabetes serta penyakit jantung atau paru kronis dapat semakin meningkatkan risiko penyakit pneumokokus. Orang tua bisa saja tetap aktif dan mandiri, namun membawa risiko yang lebih tinggi daripada yang disadari keluarganya. Dengan memahami risiko tersebut memberi keluarga alasan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum sakit terjadi, bukan setelahnya⁵” ujar dr. Joyce Bratanata.
Gejala Pneumonia Pneumokokus

Magnific/rawpixel.com Gejala pneumonia pneumokokus dapat terlihat seperti penyakit pernapasan lainnya. Beberapa gejala yang mudah dikenali antara lain batuk, demam atau menggigil, nyeri dada, napas cepat, serta kesulitan bernapas.
“Gejalanya batuk dengan atau tanpa lendir, demam, sakit dada, dan utamanya adalah sesak napas,” kata dr. Kristin Tjandra, Dokter Keluarga, Prodia.
Meski demikian, keluarga sebaiknya tidak mencoba memastikan penyebab penyakit hanya berdasarkan gejala. Batuk dan demam dapat muncul pada berbagai jenis infeksi saluran pernapasan.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Apabila seseorang mengalami sesak napas yang berat, nyeri dada, atau kebingungan yang muncul secara tiba-tiba, sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis.
Infeksi pneumokokus yang serius dapat menyebabkan komplikasi, termasuk sepsis, sehingga tidak sebaiknya ditunda.
Penyebab Pneumonia Pneumokokus

Pexels/Gustavo Fring Penyebab utama pneumonia pneumokokus adalah infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini dapat hidup di hidung dan tenggorokan seseorang tanpa selalu menyebabkan penyakit.
Namun, bakteri tersebut dapat menyebar kepada orang lain melalui kontak dengan sekret saluran pernapasan. Penularannya dapat terjadi melalui percikan pernapasan atau droplet ketika seseorang yang membawa bakteri batuk atau bersin.
Kontak dengan air liur maupun lendir atau dahak yang mengandung bakteri juga dapat menjadi jalur penyebaran.
Selain penularan, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami pneumonia atau penyakit pneumokokus.
Beberapa di antaranya adalah:
- Merokok
- Menyalahgunakan alkohol
- Terpapar asap atau polusi yang berbahaya
- Diabetes
- Asma
- HIV atau kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah
- Penyakit kronis pada jantung
- Penyakit kronis pada hati
- Penyakit kronis pada paru-paru.
Waktu Pemulihan Pneumonia

Pexels/Gustavo Fring Banyak orang dapat pulih dengan baik setelah mengalami pneumonia. Namun, waktu pemulihan dan kebutuhan terhadap dukungan medis dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung kondisi kesehatan dan tingkat keparahan penyakit.
Berikut penjelasan detailnya:
- Bagi sebagian orang, butuh waktu 1-2 minggu untuk merasa lebih baik dan kembali ke aktivitas biasa.
- Ada juga yang membutuhkan lebih dari 1 bulan sebelum dapat kembali ke aktivitas biasa.
- Setelah membaik, selama satu bulan lamanya rasa lelah masih dapat berlanjut.
Itu dia penjelasan mengenai pneumonia pneumokokus.Penanganan pneumonia sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.
Pada kasus tertentu, infeksi pneumokokus membutuhkan pengobatan antibiotik, sementara kasus yang lebih berat dapat membutuhkan penanganan di rumah sakit. Semoga informasinya membantu.






















