Jadi Film Terbaik FFI, Women from Rote Island Angkat Isu Perempuan

Alur ceritanya dibuat begitu relate dengan kehidupan perempuan

16 Februari 2024

Jadi Film Terbaik FFI, Women from Rote Island Angkat Isu Perempuan
Popmama.com/Rahayu LS
Para pemain Film Women from Rote Island, saat media visit IDN Media, Kamis (15/2/2024)

FilmWomen from Rote Island belakangan jadi perbincangan publik.

Film yang dinobatkan sebagai Film Cerita Panjang Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2023 ini, diketahui mengangkat isu yang cukup sensitif, yakni kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami oleh tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri.

Women from Rote Island diperankan oleh beberapa pemain, yang belum pernah bermain film cerita panjang.

Diantaranya ada Linda Adoe, Irma Rihi, Sallum Ratu Ke, Willyam Wolfgang, dan Van Jhoov yang asli dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meski belum familiar satu sama lain, rupanya mereka mampu menciptakan bonding yang baik, hingga akhirnya film ini sukses meraih banyak nominasi.

Berikut ini Popmama.com akan berikan rangkuman informasi untuk Mama mengenai film Women from Rote Island angkat isu perempuan, jadi film terbaik FFI 2023.

1. Sinopsis singkat Women from Rote Island

1. Sinopsis singkat Women from Rote Island
Popmama.com/Rahayu LS
Para pemain Film Women from Rote Island, saat media visit IDN Media, Kamis (15/2/2024)

Disutradarai oleh Jeremias Nyangoen, Film Women from Rote Island bercerita tentang sebuah keluarga di Pulau Rote yang tengah menghadapi berbagai dilema, karena memperjuangkan nasib perempuan.

Di dalamnya menceritakan sosok Orpa (Linda Adoe), seorang istri yang baru ditinggal suami dan harus mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari lingkungan sekitar.

Tak hanya dirinya sendiri, sang Anak yang bernama Martha (Irma Rihi) juga turut mengalami hal serupa.

Martha digambarkan sebagai Tenaga Kerja Ilegal (TKI) yang bekerja di Sabah, Malaysia. Kepulangannya ke Indonesia menjadi satu kebahagiaan sekaligus kepiluan bagi keluarga. Hal ini lantaran, Martha menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual selama 2 tahun, hingga membuatnya trauma dan depresi.

Editors' Pick

2. Film Women from Rote Island terinspirasi dari kisah nyata

2. Film Women from Rote Island terinspirasi dari kisah nyata
Instagram.com/womenfromroteisland

Mengambil latar belakang kehidupan di Indonesia Timur, Film Women from Rote Island terinspirasi dari kisah nyata.

Sang Sutradara dengan gamblang merangkai skenario dari sejumlah cerita nyata yang didapatnya, lalu dikemas dengan sisi dramatis, hingga menghasilkan keindahan sinematografi dalam tiap scene-nya.

“Kami bilang ini terinspirasi dari kisah nyata. Bahwa ada dua kisah nyata yang kemudian digabungkan untuk cerita dalam film ini. Hanya ceritanya aja, makanya beliau (Jeremias Nyangoen) tidak mau dikatakan dari kisah nyata, tapi kalau terinspirasi, iya benar,” ungkap Willyam Wolfgang saat ditemui dalam Media Visit di IDN Media, Hari Kamis (15/2/2024). 

3. Memerankan karakter yang memiliki trauma dan depresi tidaklah mudah

3. Memerankan karakter memiliki trauma depresi tidaklah mudah
Popmama.com/Rahayu LS
Para pemain Film Women from Rote Island, saat media visit IDN Media, Kamis (15/2/2024)

Film Women from Rote Island merupakan film drama Indonesia yang tayang pertama kali dalam film festival pada 7 Oktober 2023. 

Diakui para pemain dalam film tersebut bahwa, dalam memerankan tiap karakter tidaklah mudah.

Terutama Irma Rihi dalam memerankan sosok Martha, karakter yang memang digambarkan sebagai korban pelecehan seksual yang mengalami trauma dan depresi.

Irma mengaku perlu latihan khusus dalam waktu yang cukup lama, untuk bisa mendalami perannya. Di sisi lain, ia juga perlu berhati-hati agar rasa trauma dalam karakter Martha tidak sampai mengganggu dirinya di kehidupan nyata. 

"Pas dikasih tahu alur ceritanya, saya sangat tertarik karena berhubungan dengan keluarga dan ini film pertama. Saya mau mencoba, meski awalnya itu ragu. Kalau tantangan itu, lebih ke traumanya. Karena trauma itu harus dialami dulu, sedangkan saya belum pernah. Tapi saya harus berperan mengalami trauma, jadi itu saat baca script berulang-ulang sampai dapat 'trauma'nya. Mendalami sosok yang mengalami trauma itu sangat tidak gampang. Meski hanya akting, saya harus hati-hati supaya saya tetap memberikan ruang untuk diri sendiri," ungkap Irma Rihi.

Tak hanya Irma Rihi, Linda Adoe juga mengalami tantangan yang tidak jauh berbeda saat memerankan sosok Orpa. Orpa digambarkan sebagai sosok Ibu yang memiliki anak dengan masalah trauma akibat kekerasan seksual.

Kondisi ini bertambah berat saat dirinya harus mendapatkan diskriminasi dari lingkungan sekitar. Keduanya bahkan harus menjalani karantina selama beberapa waktu untuk mendapatkan bonding yang baik sebagai Ibu dan anak dalam Film Women from Rote Island

4. Sampaikan pesan mendalam untuk para perempuan

4. Sampaikan pesan mendalam para perempuan
Popmama.com/Rahayu LS
Para pemain Film Women from Rote Island, saat media visit IDN Media, Kamis (15/2/2024)

Linda Adoe mengaku sangat tersentuh dengan karkater Orpa yang diperankannya. Menurut Linda, menjadi seorang perempuan tidaklah mudah.

Karena harus siap mengurus segala sesuatunya sendiri, ditambah lagi dengan pandangan masyarakat yang cukup beragam terkait masalah-masalah yang dialami perempuan.

“Untuk saya pribadi, being a woman is a rock. Luar biasa jadi perempuan, bukan berarti jadi laki-laki itu bukan luar biasa ya. Tapi menjadi seorang perempuan itu luar biasa. Karena perempuan itu dia sanggup untuk melakukan hal apapun, pekerjaan apapun yang bahkan mungkin itu pekerjaan laki-laki. Tapi laki-laki belum tentu bisa. Jadi kalo saya pribadi, menjadi perempuan itu anugerah yang luar biasa,” kata Linda Adoe.

Ia mengaku sangat menyayangkan banyaknya kasus kekerasan pada perempuan yang terjadi. Sebab menurutnya, kekerasan dan pelecehan bisa menyebabkan trauma dan depresi.

Meski bisa dibantu dengan profesional medis, Linda menyebut jika rasa sakit akibat trauma akan terbawa dalam kehidupan korban seumur hidupnya. Kondisi ini yang menjadi perhatiannya, ditambah lagi lingkungan masyarakat yang masih menganggap tabu isu tersebut tentunya bisa menyulitkan kondisi korban. 

"Mungkin masih ada atau kebanyakan orang-orang di daerah tertentu yang mungkin menganggap kalau kekerasan seksual itu adalah hal yang tabu. Tetapi kalau buat saya, ini jadi satu hal yang harus didiskusikan. Karena pelecehan seksual ini bukan masalah sepele, tapi satu perbuatan yang sangat buruk. Trauma yang ditinggalkan itu luar biasa lho. Mungkin dia bisa keluar dari traumanya, tapi rasa sakitnya itu terbawa seumur hidupnya, jadi akan sulit dilupakan. Jadi menurut saya, ini benar-benar berat," tambahnya. 

Linda menyadari bahwa sebenarnya pelecehan seksual tak hanya dialami oleh perempuan, tetapi laki-laki juga memiliki risiko yang sama. Ia berusaha mengingatkan supaya orang-orang di luar sana yang mengalami hal serupa, berani untuk bangkit dan melawan. 

"Buat orang-orang di luar sana yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, lewat film ini, kami mau bilang bahwa kami ada untuk kalian para korban. Mereka yang menjadi korban, jangan dikucilkan tapi justru harusnya kita merangkul dan kita lindungi, supaya rasa percaya dirinya meningkat," kata Linda. 

5. Women from Rote Island akan segera tayang di bioskop

5. Women from Rote Island akan segera tayang bioskop
Instagram.com/bintangcahayasinema

Menurut Willyam, Film Women from Rote Island awalnya memang ditargetkan untuk Film Festival. Inilah yang menjadi alasan, film ini tayang lebih dulu dalam festival.

Namun kini, setelah ada kesempatan untuk dikomersilkan, film ini akhirnya ditayangkan untuk publik.

Di sisi lain, para pemain juga berharap jika film ini bisa menghadirkan cerita yang menarik dan menginspirasi banyak orang. 

Nah, buat kamu yang pensaran dengan alur ceritanya, jangan lupa saksikan Film Women from Rote Island yang akan tayang pada 22 Februari 2024 mendatang, di bioskop-bioskop kesayangan kamu, ya!

Baca juga:

The Latest