Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sejarah Gunung Krakatau hingga Lahirnya Gunung Anak Krakatau
commons.wikimedia.org/Tyke
  • Gunung Anak Krakatau erupsi sejak 4 September 2026 dan berstatus Level III Siaga; dentuman terdengar hingga Pos Pantau Pasauran, sementara abu vulkanik memicu penyesuaian penerbangan.
  • Sejarahnya berakar pada letusan Krakatau 1883 yang melontarkan abu hingga 80 kilometer, memicu tsunami sekitar 30 meter, menewaskan sekitar 36.000 orang, serta mengubah lanskap Selat Sunda.
  • Anak Krakatau mulai tumbuh di bawah laut pada 1927 dan muncul pada 1929; sebagai gunung api tipe A aktif, kondisinya dipantau lewat kegempaan, deformasi, emisi gas, dan aktivitas permukaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau meletus lagi pada 4 September 2026 dan masih aktif sampai 6 September. Suara dentumannya terdengar dari pos pantau. Statusnya Siaga. Abu gunung membuat beberapa pesawat harus berubah jadwal. Dulu, Krakatau meletus besar pada 1883. Setelah itu, Anak Krakatau muncul dari laut dan terus tumbuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Aktivitas erupsi masih berlangsung hingga laporan pada Minggu (6/9/2026).

Dilansir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dentuman dari aktivitas gunung api tersebut bahkan terdengar dari Pos Pantau Pasauran, Sabtu malam (5/9/2026).

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat aktivitas gunung api ini kembali menjadi perhatian.

Aktivitas erupsi Anak Krakatau juga berdampak hingga ke ruang udara dan membuat sejumlah penerbangan harus menyesuaikan operasional.

AirNav Indonesia menerbitkan pembaruan NOTAM (Notice to Airmen) terkait penutupan sementara ruang udara di beberapa bandara akibat sebaran abu vulkanik.

Di balik aktivitas gunung api yang kembali menjadi perhatian ini, ada sejarah Gunung Krakatau hingga melahirkan Gunung Anak Krakatau.

Lantas, seperti apa perjalanannya? Berikut Popmama.com sajikan informasi lengkapnya di bawah!

1. Letusan dahsyat Krakatau berawal pada 1883

pexels.com/Daniel Giron

Dilansir Global Volcanism Program (GVP), sejarah Gunung Anak Krakatau tidak bisa dilepaskan dari peristiwa besar yang terjadi pada Gunung Krakatau pada Agustus 1883. 

Rangkaian letusan dimulai pada 26 Agustus sekitar pukul 13.00 dan mencapai puncaknya pada 27 Agustus sekitar pukul 10.00.

Ledakannya begitu kuat hingga abu vulkanik terlontar sekitar 80 kilometer ke udara dan suara letusan terdengar hingga Australia.

Dampaknya pun tidak berhenti di sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik membuat sejumlah wilayah mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari dan turut memengaruhi suhu rata-rata global. 

Letusan tersebut juga memicu tsunami dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai sekitar 30 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang. 

Peristiwa itulah yang kemudian mengubah lanskap kawasan Krakatau secara besar-besaran.

2. Anak Krakatau mulai muncul dari laut

Uprising, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons

Setelah letusan besar 1883, kawasan Krakatau berubah dan menyisakan kaldera yang kemudian menjadi tempat tumbuhnya gunung api baru. 

Aktivitas Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927, ketika tubuh gunung tersebut masih berada di bawah permukaan laut.

Dua tahun kemudian, pada 1929, bagian tubuh Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan. Sejak saat itu, gunung api yang berada di Selat Sunda, Lampung, tersebut terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik. 

Badan Geologi Kementerian ESDM menggolongkannya sebagai gunung api tipe A yang masih aktif hingga kini.

3. Anak Krakatau terus membangun tubuhnya

NASA Earth Observatory/Lauren Dauphin

Kemunculan ke permukaan bukan menjadi akhir dari perjalanan Anak Krakatau. Gunung api ini justru terus mengalami proses pertumbuhan melalui aktivitas erupsi. 

Pada September 2018, ketinggian tertingginya tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut.

Aktivitas vulkaniknya juga berlangsung dalam beberapa periode. Setelah aktivitas kembali tercatat pada 20 Juni 2016, Anak Krakatau mengalami letusan Strombolian pada 19 Februari 2017. 

Periode erupsi panjang kemudian berlangsung mulai 29 Juni 2018 hingga akhir tahun. 

Karakter erupsinya umumnya berupa letusan magmatik eksplosif lemah atau Strombolian, serta erupsi efusif yang menghasilkan aliran lava.

4. Aktivitas Anak Krakatau masih perlu dipantau

Dok. BNPB

Sebagai gunung api yang masih aktif, Anak Krakatau dapat kembali menunjukkan peningkatan aktivitas setelah berada dalam periode yang lebih tenang. 

Oleh karena itu, kondisi gunung terus dipantau melalui sejumlah indikator, seperti kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung, emisi gas, hingga aktivitas di permukaan.

Perhatian terhadap Anak Krakatau kembali meningkat pada September 2026 setelah gunung api tersebut mengalami erupsi dan statusnya berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas yang terus dipantau ini menunjukkan bahwa perjalanan Anak Krakatau belum berhenti. 

Gunung yang lahir dari kawasan Krakatau tersebut masih terus mengalami perubahan dan menjadi salah satu gunung api yang perlu diwaspadai di kawasan Selat Sunda.

Itu dia sejarah Gunung Krakatau hingga melahirkan Gunung Anak Krakatau. Semoga informasi tersebut menambah wawasan kamu, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article