7 Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau September 2026

- Gunung Anak Krakatau berstatus Level III Siaga dan kembali erupsi sejak 4 September 2026, dengan aktivitas berlanjut hingga 6 September serta menampilkan semburan lava pijar.
- Abu vulkanik menyebar ke Lampung, Jabodetabek, hingga Jawa Barat; dentuman di Bandung Raya masih dipantau BMKG dan belum dipastikan terkait aktivitas Anak Krakatau.
- Erupsi mengganggu penerbangan: Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara, membatalkan 209 penerbangan dan berdampak pada 22.798 penumpang. PVMBG menyatakan belum ada potensi tsunami di Selat Sunda.
Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, tepatnya di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung kembali erupsi sejak Jumat malam (4/9/2025).Â
Diketahui aktivitas vulkanik masih terus berlangsung hingga Minggu (6/9/2026). Menurut pantauan BMKG, Gunung Anak Krakatau saat ini masuk kategori Level III atau siaga.Â
Dampak dari erupsi ini bahkan terasa hingga radius ratusan kilometer. Hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau merata di Jabodetabek pada Minggu dini hari membuat masyarakat waspada.Â
Berikut ini Popmama.com telah merangkum 7 fakta erupsi Gunung Anak Krakatau September 2026. Ini dia daftarnya!
Table of Content
1. Gunung Anak Krakatau berada di Level III (Siaga)

ilustrasi anak krakatau (wikimedia.org/flydime) Pasca erupsi terakhir kali pada 22 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau ditetapkan berada di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
Berdasarkan informasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM, pantauan menunjukkan aktivitas erupsi kembali terjadi pada Jumat (4/9/2026) dengan erupsi lanjutan hingga Minggu (6/9/2026).
2. Dentuman di Bandung Raya dikaitkan aktivitas Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau semburkan lava pijar (X.com/badangeologi_) Tidak lama setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat lalu, dentuman keras juga terdengar di area Bandung Raya, Jawa Barat. Dentuman yang disertai suara gemuruh ini diduga berkaitan dengan aktivitas gunung yang berada di Selat Sunda tersebut.
Mengutip dari laman BMKG, penyebab dentuman sendiri belum dapat disimpulkan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat ini, Stasiun Geofisika Bandung terus melanjutkan pemantauan secara intensif terhadap aktivitas gempa, petir, magnet bumi, serta atmosfer.Â
3. Erupsi disertai air mancur lava pijar

Erupsi Gunung Anak Krakatau dari pantauan CCTV (X.com/badangeologi_) Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau, erupsi secara visual diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur.Â
Melansir dari laman BMKG, kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik. Semburan lava pijar tipe Strombolian dari erupsi Gunung Anak Krakatau bahkan terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.Â
4. Sebaran abu vulkanik hingga ke Jawa Barat

Citra sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (X.com/bmkgwilayah2) Dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebagian besar wilayah di Jabodetabek dan Lampung tertutup abu vulkanik.
Hujan abu tipis bahkan dirasakan oleh warga di wilayah Jakarta dan Bogor (Jawa Barat) pada Minggu dini hari (6/9/2026). Menurut pantauan, masyarakat di media sosial membagikan abu vulkanik ikut menutupi kendaraan hingga ponsel saat di luar ruangan.Â
5. Imbas erupsi, bandara Soetta ditutup sementara

Info penundaan aktivitas penerbangan di bandara Seokarno-Hatta akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (Instagram.com/soekarnohattairport) Aktivitas penerbangan domestik dan internasional juga ikut terganggu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Bandara Soekarno-Hatta yang berada di Tangerang, Banten ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) sejak pukul 01.00.
Informasi penghentian operasional penerbangan akibat erupsi diperbarui secara berkala di Instagram @soekarnohattaairport, terbaru ditunda hingga 13.30 WIB saat berita ini ditulis.
Penutupan bandara ini diketahui membuat 209 penerbangan domestik dan internasional harus dibatalkan dengan 22.798 penumpang yang ikut terdampak.Â
6. Tidak berpotensi tsunami di Selat Sunda

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga Depok, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Umi Kalsum) Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga Minggu pagi pukul 07.10 berdasarkan pantauan Badan Geologi Kementerian ESDM. Aktivitas vulkanik yang masih berlangsung ini membuat masyarakat, terutama yang berada di pesisir pantai ikut panik dengan ancaman tsunami.
Namun, hasil evaluasi PVMBG hingga saat ini melihat relatif kecil adanya pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca erupsi 22 Desember 2018 dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala besar yang memicu tsunami.
7. Erupsi bersamaan dengan gunung api aktif lainnya

Gunung Semeru erupsi bersamaan dengan Gunung Anak Krakatau (X.com/badangeologi_) Selain Gunung Anak Krakatau, sejumlah gunung api aktif di Indonesia terpantau mengalami aktivitas vulkanik secara bersamaan. Diketahui beberapa gunung api yang erupsi hingga Minggu (6/9/2026) selain Gunung Anak Krakatau ialah Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Illi Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
PVMBG menjelaskan bahwa posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik memungkinkan terjadinya erupsi bersamaan sejumlah gunung api tanpa adanya keterikatan sistemik.
Itu dia penjelasan mengenai 7 fakta erupsi Gunung Anak Krakatau September 2026. Harap tetap waspada dan pastikan menggunakan masker setiap keluar rumah agar tidak menghirup abu vulkanik, ya!





















