3 Desainer Indonesia Berkolaborasi dengan AI, Ini Hasilnya!
- Google memperkenalkan inisiatif “With Gemini, In Craft” di Jakarta untuk mendukung rumah mode, studio kreatif, dan pelaku usaha memanfaatkan AI dalam riset, desain, serta bisnis fashion.
- Auguste Soesastro memakai Gemini Deep Research untuk menelusuri arsip, menerjemahkan dokumen, dan memverifikasi silsilah; Stella Rissa mengembangkan karakter Starlet dari lukisan menjadi visual 360 derajat dan virtual runway.
- TWO STITCHES menggunakan Gemini untuk simulasi 3D, fitting virtual, dan analisis pasar, sehingga proses sampel dari tiga kota dipangkas dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari serta produksi lebih terukur.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini turut membuka peluang baru bagi industri fashion. Bukan hanya untuk menghasilkan ide, AI juga mulai dimanfaatkan sebagai mitra dalam proses riset, pengembangan desain, hingga strategi bisnis.
Melihat potensi tersebut, Google resmi memperkenalkan inisiatif “With Gemini, In Craft” di Jakarta. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana Gemini dapat menjadi mitra kreatif bagi rumah mode, studio kreatif, hingga pelaku usaha di Indonesia.
Melalui Gemini, para desainer dapat menyederhanakan alur kerja di studio, memperkaya cerita di balik sebuah karya, sekaligus memperluas peluang desainer lokal untuk terhubung dengan audiens global.
Industri fashion sendiri menjadi salah satu bagian penting dari ekonomi kreatif Indonesia. Pada awal 2026, sektor fashion menyumbang 58,55 persen dari total ekspor barang kreatif Indonesia.
Indonesia juga menjadi salah satu pasar dengan penggunaan Gemini yang tinggi secara global. Hampir 9 juta gambar dihasilkan melalui aplikasi Gemini setiap harinya di Indonesia. Lantas, seperti apa kolaborasi teknologi AI dengan para pelaku industri fashion tanah air?
Berikut Popmama.com rangkum bagaimana kisah desainer Indonesia yang memanfaatkan Gemini dalam proses kreatifnya.
Table of Content
1. KRATON Auguste Soesastro gunakan Gemini untuk riset warisan budaya
Dok. Google Indonesia Desainer Auguste Soesastro memanfaatkan Gemini sebagai mitra riset ketika mengembangkan koleksi bespoke couture khusus untuk Kenya Kamalashila Soekarno. Dikenal melalui teknik penjahitan arsitekturalnya, Auguste membutuhkan riset mendalam untuk memastikan setiap elemen dalam busana memiliki keterkaitan dengan sejarah dan warisan keluarga.
Dalam proses tersebut, Auguste menggunakan fitur Gemini Deep Research untuk membantu mengakses arsip internasional yang sebelumnya sulit dijangkau. Teknologi ini juga membantunya menerjemahkan berbagai dokumen sejarah dalam bahasa asing dan melakukan verifikasi terhadap silsilah keluarga yang tersebar di enam wilayah leluhur.
Hasil riset tersebut kemudian menjadi bagian dari proses kreatif dalam menciptakan busana bespoke couture. Tak hanya menghasilkan pakaian dengan nilai estetika, koleksi tersebut juga dilengkapi dengan narasi yang terstruktur serta bibliografi riset yang komprehensif.
Bagi Auguste, teknologi menjadi alat pendukung untuk menggali kembali kekayaan sejarah dan budaya sebelum menerjemahkannya ke dalam sebuah karya fashion.
2. STELLARISSA kembangkan karakter Starlet ke dunia multimedia
Dok. Google Indonesia Berbeda dari Auguste yang menggunakan Gemini untuk memperdalam riset, Stella Rissa memanfaatkannya untuk mengembangkan karakter orisinal yang berasal dari karya seni buatannya.
Stella dikenal dengan karakter busana yang memiliki siluet tegas dan sensual. Melalui Gemini, ia mengembangkan karakter lukisan tangannya yang diberi nama Starlet menjadi sosok yang dapat hadir dalam berbagai bentuk media.
Proses kreatif tersebut mencakup pengembangan karakter dalam tampilan 360 derajat hingga virtual runway fitting. Dengan bantuan teknologi, Starlet dapat divisualisasikan menggunakan busana runway secara virtual.
Pengembangan karakter tersebut nantinya tidak berhenti pada karya dua dimensi. Stella memiliki rencana untuk membawa Starlet ke dalam ekosistem multimedia yang lebih luas.
Beberapa di antaranya mencakup serial animasi, podcast, hingga koleksi figur seni fisik 3D.
Meski memanfaatkan teknologi digital, Stella tetap mempertahankan unsur seni buatan tangan sebagai bagian penting dari identitas Starlet. Dengan begitu, teknologi berfungsi sebagai alat untuk memperluas dunia karakter tanpa menghilangkan sentuhan personal dari sang kreator.
3. TWO STITCHES manfaatkan Gemini untuk mempercepat proses produksi
Dok. Google Indonesia Teknologi AI juga dimanfaatkan oleh label streetwear avant-garde TWO STITCHES, yang didirikan oleh Andy Tan dan Jerome Kurnia. Dalam mempersiapkan koleksi “MRTYNY”, tim TWO STITCHES menggunakan Gemini untuk membantu menghubungkan proses desain dan bisnis yang dilakukan dari tiga kota, yaitu Jakarta, Bali, dan Berlin.
Salah satu pemanfaatannya adalah mengubah sketsa konseptual menjadi simulasi jatuh kain dalam bentuk 3D. Tim juga dapat melakukan pengepasan busana secara virtual pada simulasi model sebelum membuat sampel fisik.
Cara kerja tersebut membantu TWO STITCHES memangkas waktu pembuatan sampel fisik. Proses yang sebelumnya dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan dapat dipersingkat menjadi hanya hitungan hari. Tak hanya soal kecepatan, teknologi juga digunakan untuk membantu menganalisis pasar secara prediktif.
Pendekatan tersebut memungkinkan TWO STITCHES menerapkan konsep data-informed craft, yaitu menggabungkan kreativitas dan keterampilan kriya dengan informasi berbasis data.
Dengan pendekatan ini, tim dapat membuat keputusan produksi secara lebih terukur sekaligus membantu mengurangi risiko pemborosan akibat produksi yang berlebihan.
Pada akhirnya, ketiga kisah tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan AI dalam industri fashion tidak selalu berarti menggantikan kreativitas manusia. Sebaliknya, teknologi seperti Gemini dapat menjadi alat pendukung bagi desainer untuk melakukan riset lebih mendalam, mengembangkan ide, hingga membuat proses produksi menjadi lebih efisien.
Bagi industri fashion Indonesia, perpaduan antara kreativitas, keterampilan tangan, budaya lokal, dan teknologi juga dapat membuka peluang baru untuk membawa karya desainer Tanah Air ke pasar yang lebih luas.






















